kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Kejar target kredit, BNI cari pinjaman asing


Jumat, 22 April 2016 / 17:26 WIB
Kejar target kredit, BNI cari pinjaman asing


Reporter: Arsy Ani Sucianingsih | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (Bank BNI) terus mencari pendanaan untuk memuluskan target penyaluran kredit tahun ini yang mencapai Rp 189 triliun. Salah satu pilihan bank pelat merah ini adalah berburu pinjaman dari bank asing.

Sebelumnya, emiten berkode saham BBNI ini telah menerima kredit dari China Development Bank (CDB) sebesar US$ 1 miliar. Direktur Bisnis Korporasi BNI Herry Sidharta mengatakan, dana pinjaman tersebut tersalurkan, tapi masih kurang.

"Tahun ini, kami masih melihat opsi lainnya. Yang menawarkan banyak, ada CDB, ICBC, atau bahkan bilateral. Kami tinggal pilih saja mana bunga yang lebih rendah,” katanya, Jumat (22/4).

Sayang, Herry belum mau buka-bukaan mengenai nominal pinjaman yang dibutuhkan untuk memuluskan penyaluran kredit korporasi tahun ini. "Besaran pinjamannya tergantung kebutuhan saja," ujar Herry.

Selain mencari kredit dari bank asing, untuk memenuhi kebutuhan penyaluran kredit korporasi tahun ini, Herry bilang, pihaknya juga berencana menerbitkan surat utang jangka pendek alias medium term notes (MTN).

Sejauh ini, BNI menyalurkan kredit sebesar 50% untuk porsi korporasi yang didominasi pada penyaluran kredit infrastruktur, pembangunan jalan tol, telekomunikasi, agribisnis. Sementara, 50% sisanya akan dikucurkan untuk sektor usaha kecil menengah dan juga konsumer.

"Hingga kuartal I, BNI sudah mengucurkan sebesar Rp 150 triliun untuk korporasi. Artinya kami harus mengejar Rp 30 triliun lagi tahun ini," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×