kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.843   41,00   0,24%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

Angka Kredit Macet Fintech Lending Masih Tinggi, Capai 4,32% per Akhir 2025


Minggu, 08 Februari 2026 / 19:06 WIB
Angka Kredit Macet Fintech Lending Masih Tinggi, Capai 4,32% per Akhir 2025
ILUSTRASI. Angka kredit macet pinjol per Desember 2025 mencapai 4,32%, didorong gagal bayar DSI dan bencana. Proyeksi awal 2026 bisa lebih rendah, tapi ancaman force majeure patut diwaspadai. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) terbilang masih berada di level tinggi, yakni sebesar 4,32% per Desember 2025.

Jika ditelaah berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), angka tersebut tak berbeda jauh, bahkan hanya membaik tipis dibandingkan posisi per November 2025 yang sebesar 4,33%. Angka TWP90 industri terbilang melonjak tajam jika dibandingkan posisi Oktober 2025 yang sebesar 2,76%.

Mengenai hal itu, Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai salah satu pemicu TWP90 masih berada di level tinggi karena adanya kontribusi dari gagal bayar PT Dana Syariah Indonesia (DSI).

Selain itu, pemicu lainnya adalah faktor bencana alam yang terjadi di wilayah Sumatra pada akhir 2025.

Baca Juga: Masalah Gagal Bayar hingga Fraud Terpa Industri Fintech Lending, Ini Respons OJK

"Akhir tahun 2025 naik karena ada faktor dari bencana alam di beberapa tempat, termasuk di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh," ungkapnya kepada Kontan, Minggu (8/2/2026).

Lebih lanjut, Nailul memproyeksikan TWP90 industri seharusnya bisa lebih rendah pada awal 2026 dibandingkan akhir tahun 2025.

Meskipun demikian, dia menyampaikan industri juga perlu mewaspadai potensi keadaan kahar atau suatu kondisi luar biasa di luar kendali manusia ke depannya, seperti bencana alam, yang membuat orang atau borrower menjadi kesulitan membayar pinjaman.

"Oleh karena itu, otoritas dan industri seharusnya bisa lebih bersiap pada kondisi tahun ini," katanya.

Terkait kinerja, data OJK mencatat, outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 96,62 triliun per Desember 2025. Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 25,44% secara Year on Year (YoY).

Selanjutnya: Manjakan Kuping, Mulai dari Teknologi Brand Global Hingga Kenyamanan Brand Lokal

Menarik Dibaca: 6 Alasan Tidur Bisa Bikin Berat Badan Turun yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×