Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil alias yield dari penyaluran kredit sejumlah bank terlihat mengalami penurunan. Dengan naiknya suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75%, keuntungan bank dari kredit dikhawatirkan masih belum tumbuh sehat.
Jika ditilik dari laporan bank-bank besar pada kuartal 1-2026, terlihat yield kredit bank mengalami penurunan. Berkurangnya yield kredit pada akhirnya akan berpengaruh pada menurunnya net interest margin (NIM) bank.
PT Bank Mandiri Tbk misalnya mencatat yield kreditnya pada kuartal 1-2026 sebesar 7,11%, terhitung turun dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 7,64%.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga mengalami penyusutan yield kredit menjadi 12,2% pada kuartal 1-2026. Angka itu lebih rendah dari kuartal 1-2025 yang sebesar 12,9%.
Ada juga PT Bank Negara Indonesia Tbk yang pada kuartal 1-2025 mencatat yield kredit sebesar 6,9%, turun dari 7,4% dari periode tahun sebelumnya.
Jika dilihat dari komposisinya, BNI mengalami penurunan yield paling besar di kredit skala menengah, yakni dari 8,2% menjadi 7,2%.
Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Konsumsi Perbankan Melamban, Tekanan Daya Beli Belum Berakhir
Adapun yield kredit rupiah BNI pada kuartal 1-2026 sebesar 7,2%, turun dari 7,8% pada periode sama tahun sebelumnya. Sedangkan, pada saat yang sama, yield kredit valuta asing BNI turun dari 5,8% menjadi 5,5%.
Bank besar dari kalangan swasta, PT Bank Central Asia Tbk menyebut, tren yield kredit ke depannya akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah hal, di antaranya situasi pasar, permintaan dan penawaran kredit, kecukupan likuiditas, serta BI Rate.
EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Heryn menyampaikan, sampai saat ini yield kredit banknya masih berada di level yang stabil. Akan tetapi, ia tidak menyebut angka pasti.
"Ke depan, tren yield kredit akan dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut, termasuk suku bunga instrumen sovereign Indonesia," ucapnya saat dihubungi, Senin (29/6/2026).
Bank swasta lain, PT Bank CIMB Niaga Tbk juga mengalami penyusutan yield kredit. Pada kuartal 1-2026, yield kredit CIMB Niaga tercatat sebesar 7,65%, turun dari 8,35% pada kuartal 1-2025.
Menurut Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, penurunan yield utamanya terjadi karena komposisi penyaluran kredit yang berubah.
Pada paruh pertama tahun 2026, kredit yang disalurkan pada segmen nasabah ritel menjadi lebih minim dibandingkan tahun lalu, sedangkan kredit korporasi meningkat.
Ia menyebut pada dasarnya yield kredit lebih banyak didapatkan melalui penyaluran di nasabah ritel, salah satunya pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca Juga: Risiko Tinggi, Perbankan Lebih Berhati-hati Salurkan Kredit Channeling
"Penurunan yield kredit terjadi karena komposisi kredit yang berubah. Menjadi lebih banyak ke non-ritel, non-UKM, yang naturally punya yield lebih rendah," ucapnya.
Lani pun menyebut penurunan kredit di segmen ritel dipengaruhi oleh kondisi daya beli dan perekonomian masyarakat yang sedang menurun, sehingga permintaan kredit pun berkurang.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyebut, pertumbuhan yield perbankan sangat dipengaruhi dari naik-turunnya BI Rate.
Akan tetapi, Yusuf bilang dampak dari BI Rate tidak akan terasa dalam waktu instan, melainkan secara perlahan dalam waktu berbulan-bulan.
Sebab itu, Yusuf menyebut penurunan yield kredit yang terjadi pada bank-bank di kuartal 1-2026 ini dikarenakan oleh BI Rate yang memang mengalami penurunan sepanjang tahun 2025.
"Namun, penurunan yield tidak bisa dijelaskan hanya oleh kebijakan suku bunga. Faktor yang sama pentingnya adalah melemahnya permintaan kredit dan perubahan komposisi penyaluran kredit," kata Yusuf.
Ia menyoroti penyaluran kredit perbankan pada bulan-bulan awal 2026 memang sedang tumbuh cukup landai. Menurutnya, ini disebabkan banyak pelaku usaha yang masih menunggu perkembangan ekonomi untuk memacu bisnisnya.
Baca Juga: Dana SAL Disuntik ke Himbara, Bisakah Pertumbuhan Kredit Sesuai Target?
Pada saat yang sama, ia menyebut pertumbuhan kredit lebih banyak berasal dari kredit korporasi. Secara narutal, yield pada kredit korporasi umumnya lebih rendah dari kredit ritel.
Ia pun menambahkan, yield kredit pada kelompok bank pemerintah (Himbara) mendapat tekanan lebih besar karena adanya penyaluran kredit ke program pemerintah dengan bunga subsidi.
Dengan BI Rate yang mengalami kenaikan menjadi 5,75%, Yusuf menyebut bank bisa menaikkan bunga kredit untuk mendapat yield lebih tinggi, tapi dampaknya minat masyarakat untuk mengambil kredit pun jadi semakin minim.
"Meski yield kredit diperkirakan mulai naik, hal itu tidak otomatis berarti margin bank akan membaik. Kenaikan suku bunga juga mendorong naiknya biaya dana dan dalam siklus pengetatan moneter bunga simpanan biasanya menyesuaikan lebih cepat daripada bunga kredit," jelasnya.
Baca Juga: Bank Mandiri Jaga NPL Kredit Mikro di Level 1,6%, Jauh di Bawah Rata-rata Industri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














