Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit perbankan nasional berhasil tumbuh kencang pada Mei 2026. Akan tetapi, perlambatan masih terjadi pada segmen kredit konsumsi.
Bank Indonesia (BI) mencatat pada Mei 2026, kredit perbankan nasional tumbuh 10,8% secara tahunan. Realisasi ini lebih tinggi dibandingkan April 2026 sebesar 9,4% secara year on year (yoy).
Meski begitu, jika dilihat dari jenis penggunaan kreditnya, BI mencatat pertumbuhan kredit masih belum merata di setiap segmen penggunaan.
Baca Juga: OJK: Target Penyaluran KUR Rp 320 Triliun Buka Peluang Bagi Industri Penjaminan
Pada Mei 2026, kredit konsumsi tercatat hanya tumbuh 5,8% yoy. Angka itu turun dari April 2026 yang sebesar 6% yoy.
Padahal, jenis penggunaan kredit lain, yakni kredit modal kerja dan kredit investasi, kompak tumbuh lebih tinggi pada Mei 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Kredit modal kerja tumbuh 7,9% yoy dan kredit investasi tumbuh 20,5% yoy.
Ekonom Center of Reform Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, meski kredit perbankan secara keseluruhan memang tumbuh pesat sampai dobel digit, tapi pertumbuhannya hanya didorong oleh segmen tertentu saja.
Yusuf menyebut pertumbuhan kredit bank lebih didorong oleh penyaluran kredit kepada korporasi, sedangkan penyaluran kredit ke perorangan masih belum tumbuh tinggi.
Jika dilihat dari data BI, memang pada Mei 2026, penyaluran kredit perorangan masih tumbuh stagnan. Berdasarkan golongan debitur, kredit korporasi tumbuh 17,2% yoy, sedangkan kredit perorangan tumbuh 3,4% yoy.
"Memang ada akselerasi kredit, tapi pendorong utamanya bukan rumah tangga. Pertumbuhan tersebut hampir sepenuhnya berasal dari korporasi dan kegiatan produktif," kata Yusuf saat dihubungi, Kamis (25/6/2026).
Yusuf pun menilai segmen kredit yang paling lemah saat ini justru berada di kredit konsumsi, seperti untuk keperluan pembelian rumah, kendaraan, dan kebutuhan multiguna.
Tekanan pada kredit konsumsi juga semakin meningkat dengan adanya kenaikan bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75%. Yusuf bilang, segmen kredit ini adalah yang paling sensitif terhadap kenaikan suku bunga.
Baca Juga: Likuiditas Makin Ketat di Era Suku Bunga Tinggi, Transaksi Antar Bank Jadi Semarak
"Kondisi ini membuat banyak keluarga lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian besar yang membutuhkan pembiayaan jangka panjang," ucapnya.
Yusuf juga mencermati pada kuartal 2-2026, tambahan dana masyarakat dari faktor musiman awal tahun, seperti tunjangan hari raya (THR) lebaran, sudah mulai habis digunakan.
"Dalam beberapa waktu terakhir, pertumbuhan upah riil tertinggal dari inflasi sehingga ruang belanja rumah tangga menyempit," tambahnya.
Ia memproyeksikan pertumbuhan kredit konsumsi hingga akhir tahun 2026 masih akan relatif landai. Ini disebabkan oleh efek kenaikan suku bunga yang perlahan dan baru akan sangat terasa beberapa bulan ke depan.
Dari sisi perbankan, memang terlihat ada bank yang mengalami perlambatan pada penyaluran kredit konsumsinya. Misalnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
Hingga kuartal I-2026, BCA mencatat penyaluran kredit konsumer sebesar Rp 221,4 triliun. Realisasi ini terhitung turun 2% yoy.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyampaikan, pertumbuhan kredit konsumer sangatlah bergantung pada kondisi perekonomian.
Adapun Hera menyebut terdapat pertumbuhan pada kelompok produk pinjaman konsumer lain (mayoritas kartu kredit) yang mencapai Rp 25,1 triliun, tumbuh 6,8% yoy.
Baca Juga: Saham BRIS Melesat 5% pada Perdagangan Kamis (25/6), Ini Kata Analis
Sedangkan, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) masih berhasil menunjukkan tajinya pada pembiayaan konsumer. Bahkan hingga saat ini, segmen konsumer masih mendominasi portofolio pembiayaan BSI.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menuturkan, hingga April 2026, segmen konsumer menempati sekitar 40% dari total pembiayaan BSI.
Adapun hingga April 2026, pembiayaan BSI berhasil tumbuh 15,59% yoy menjadi Rp 332 triliun. Wisnu memastikan BSI akan tetap mendorong pertumbuhan pembiayaan konsumer dengan konsisten memperhatikan risiko.
"Kami tetap optimis pembiayaan konsumer masih solid, terutama di bidang perumahan, otomotif, mitraguna dan pembiayaan pensiun," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














