kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.831.000   -26.000   -0,91%
  • USD/IDR 17.055   55,00   0,32%
  • IDX 6.989   -37,36   -0,53%
  • KOMPAS100 965   -5,89   -0,61%
  • LQ45 708   -6,82   -0,95%
  • ISSI 250   -1,40   -0,56%
  • IDX30 388   -0,50   -0,13%
  • IDXHIDIV20 481   -1,39   -0,29%
  • IDX80 109   -0,72   -0,66%
  • IDXV30 133   -0,62   -0,46%
  • IDXQ30 126   -0,40   -0,32%

Kinerja Reksadana Anjlok pada Maret, Produk Saham Tertekan


Senin, 06 April 2026 / 16:58 WIB
Kinerja Reksadana Anjlok pada Maret, Produk Saham Tertekan
ILUSTRASI. Ilustrasi reksadana (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja reksadana kompak tertekan sepanjang Maret 2026. Tekanan paling dalam terjadi pada reksadana saham seiring memburuknya sentimen global dan meningkatnya risiko domestik.

Data Infovesta mencatat, per 31 Maret 2026, kinerja reksadana saham merosot sebesar 10,43% secara bulanan (MoM), disusul reksadana campuran minus 5,62% MoM, dan reksadana pendapatan tetap terkoreksi 1,40% MoM.

Sementara itu, reksadana pasar uang masih mencatatkan kinerja positif sebesar 0,29% MoM.

Baca Juga: Klaim Asuransi Komersial Capai Rp 38,63 Triliun, Naik 8,26% per Februari 2026

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, menjelaskan bahwa pelemahan kinerja reksadana dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang memicu aksi jual besar-besaran di pasar keuangan.

Menurut dia, krisis geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan konflik Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menjadi pemicu utama meningkatnya ketidakpastian pasar. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz yang mendorong tekanan inflasi global.

“Lonjakan harga minyak ini secara berantai memicu tekanan inflasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya memperberat beban fiskal pemerintah , subsidi energi membengkak, defisit APBN melebar, dan kekhawatiran terhadap kemampuan fiskal Indonesia pun meningkat,” ujar Guntur kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).

Selain itu, perubahan outlook utang Indonesia oleh Moody’s menjadi negatif turut meningkatkan kekhawatiran investor global terhadap risiko fiskal dalam jangka menengah. Hal ini memicu sikap hati-hati investor institusi dan membuka peluang terjadinya arus keluar modal (capital outflow) yang lebih besar.

Di sisi lain, pembekuan sementara indeks Indonesia oleh MSCI juga turut menekan sentimen pasar. Kombinasi faktor tersebut menciptakan fase risk-off yang mendorong investor asing keluar dari pasar domestik.

Alhasil, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok hingga 18,49% sepanjang kuartal I 2026, dari level 8.646 pada akhir 2025 menjadi 7.048 per 31 Maret 2026.

Kondisi ini berdampak signifikan terhadap reksadana saham dan campuran yang memiliki eksposur besar ke pasar saham. 

Sebaliknya, reksadana pasar uang menjadi satu-satunya yang mencatatkan kinerja positif karena berbasis instrumen jangka pendek yang relatif stabil terhadap gejolak pasar.

Guntur menilai, pelemahan reksadana saham saat ini masih dipengaruhi faktor sentimen. Namun, risiko koreksi yang lebih dalam dan berkepanjangan tetap perlu diwaspadai.

Menurut dia, perubahan outlook Moody’s mencerminkan kekhawatiran terhadap tekanan fiskal akibat lonjakan harga energi. Jika kondisi ini berujung pada penurunan peringkat utang (sovereign rating downgrade), maka arus keluar modal dari pasar saham dan obligasi berpotensi berlangsung lebih lama.

“Jika tekanan ini berujung pada sovereign rating downgrade, gelombang capital outflow dari pasar saham dan obligasi Indonesia bisa berlangsung jauh lebih lama dari yang diantisipasi,” kata dia.

Untuk reksadana pendapatan tetap dan campuran, peluang pemulihan dinilai relatif lebih dekat karena adanya komponen obligasi sebagai penopang. Meski demikian, risiko tetap ada.

Pasalnya, jika terjadi penurunan peringkat utang, yield obligasi berpotensi meningkat yang akan menekan harga obligasi di pasar, sehingga kinerja reksadana pendapatan tetap juga tidak sepenuhnya aman.

Ke depan, Guntur menegaskan ada tiga katalis utama yang akan menentukan arah pemulihan kinerja reksadana, yakni meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah, stabilisasi kondisi fiskal domestik, serta kejelasan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Baca Juga: Laba Industri Penjaminan Naik Jadi Rp 209,91 M per Februari 2026, Ini Kata Asippindo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×