Reporter: Aulia Ivanka Rahmana, Ferry Saputra | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja investasi industri dana pensiun (dapen) tertekan sepanjang kuartal I-2026 seiring gejolak pasar keuangan dan perubahan arah suku bunga.
Kondisi ini membuat tingkat imbal hasil investasi atau return on investment (ROI) industri merosot tajam dibandingkan tahun lalu.
Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ROI industri dana pensiun hanya mencapai 0,02% pada kuartal I-2026. Angka tersebut turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih sebesar 0,69%.
Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, mengatakan penurunan kinerja investasi dipicu meningkatnya risiko geopolitik global yang menekan pasar keuangan domestik.
Baca Juga: Apresiasi Nasabah, Bank Artha Graha Internasional Gelar Pengundian BAGI HOKI
Kondisi itu membuat instrumen saham bergerak sangat volatil selama tiga bulan pertama tahun ini.
Selain itu, tingkat suku bunga pada Januari–Maret 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Situasi tersebut ikut menekan imbal hasil investasi, terutama pada instrumen pasar uang dan pendapatan tetap yang masih mendominasi portofolio dana pensiun.
“Tingkat yield investasi ikut menurun, khususnya pada instrumen pasar uang dan pendapatan tetap,” ujar Ogi.
Menurut dia, tantangan investasi dana pensiun hingga akhir tahun masih cukup besar. Volatilitas pasar, perubahan arah suku bunga, hingga potensi kenaikan inflasi diperkirakan akan memengaruhi nilai wajar berbagai instrumen investasi.
Karena itu, OJK meminta pengelola dana pensiun memperkuat manajemen risiko dan melakukan diversifikasi portofolio agar hasil investasi tetap terjaga di tengah tekanan pasar.
Baca Juga: Begini Pergerakan Saham Big Bank pada Kamis (21/5), Sehari Setelah Kenaikan BI Rate
Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), Bambang Sri Mulyadi, menilai pengelola dana pensiun memang perlu lebih selektif dalam memilih instrumen investasi.
Menurut dia, strategi investasi defensif lebih relevan diterapkan di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan saat ini.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan likuiditas dan jatuh tempo investasi agar pembayaran manfaat kepada peserta dana pensiun tetap berjalan lancar.
Tekanan serupa juga dirasakan Dana Pensiun BCA. Direktur Utama Dana Pensiun BCA, Budi Sutrisno, mengatakan ROI perusahaan turun menjadi 0,50% pada kuartal I-2026, dari 1,02% pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut Budi, volatilitas pasar memengaruhi performa sejumlah instrumen investasi yang dimiliki perusahaan. Jika kondisi pasar tidak banyak berubah, ia memperkirakan capaian ROI tahun ini berpotensi lebih rendah dibandingkan 2025.
Untuk menjaga kinerja investasi, Dana Pensiun BCA melakukan evaluasi dan penyesuaian strategi investasi secara berkala, termasuk memanfaatkan kenaikan suku bunga acuan yang baru dilakukan Bank Indonesia.
“Langkah ini untuk menjaga optimalisasi hasil investasi,” kata Budi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













