kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.997.000   -24.000   -0,79%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Kredit Konstruksi Terus Menanjak, Analis Sebut Efek Program Pembangunan


Senin, 16 Maret 2026 / 05:27 WIB
Kredit Konstruksi Terus Menanjak, Analis Sebut Efek Program Pembangunan
ILUSTRASI. Pembangunan rumah subsidi di Bogor (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit di sektor konstruksi mulai menunjukkan lonjakan sejak akhir tahun lalu. Sejumlah program pembangunan pemerintah disebut menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kredit di sektor ini.

Berdasarkan data uang beredar dari Bank Indonesia (BI), hingga Januari 2026 kredit konstruksi untuk tujuan investasi tumbuh 38% secara tahunan (year on year/YoY). Sementara itu, kredit konstruksi pada segmen kredit modal kerja (KMK) juga meningkat 32,8% (YoY).

Baca Juga: Naik 8,6%, Jumlah Tertanggung Industri Asuransi Jiwa 168,03 Juta Orang pada 2025

Pertumbuhan kredit konstruksi tersebut mulai menanjak sejak November 2025. Sebelumnya, pada periode Januari hingga Oktober 2025, kredit konstruksi pada segmen investasi cenderung stagnan, sedangkan kredit konstruksi pada segmen KMK bahkan sempat mengalami kontraksi.

Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, lonjakan tersebut dipengaruhi meningkatnya aktivitas pengembang perumahan serta akselerasi sejumlah program pemerintah pada paruh kedua tahun lalu.

“Memang untuk sektor konstruksi cukup menarik karena pertumbuhannya agresif sejak akhir tahun lalu,” ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Rabu (11/3/2026).

Menurut Myrdal, beberapa program pemerintah yang berkontribusi mendorong aktivitas konstruksi antara lain program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pembangunan jaringan Koperasi Merah Putih.

Baca Juga: Ini Kata AAJI Soal Efek Kenaikan Yield Obligasi terhadap Investasi Asuransi Jiwa

Program FLPP yang telah berjalan sejak 2024, misalnya, mendorong pembangunan sekitar 200.000 unit rumah hingga akhir 2025.

Sementara itu, program MBG juga mengalami percepatan sehingga pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah dilakukan secara intensif pada akhir tahun lalu.

Namun, Myrdal menilai pembangunan jaringan Koperasi Merah Putih menjadi program yang paling berpotensi mendorong permintaan konstruksi.

Pasalnya, pemerintah berencana membangun sekitar 50.000 cabang koperasi dengan kebutuhan lahan yang cukup besar, yakni sekitar 1.000 meter persegi per cabang.

Meski demikian, Myrdal menilai proyek pemerintah bukan satu-satunya faktor yang mendorong pertumbuhan kredit konstruksi.

Baca Juga: Bank Permata Optimistis Pembelian Sukuk Ritel SR024 Meningkat Jelang Akhir Penawaran

“Proyek pemerintah ini kalau dikonversikan ke bisnis perbankan komersial perhitungannya agak berbeda. Jadi kita masih akan melihat dampak langsungnya terhadap penyaluran kredit perbankan secara keseluruhan,” jelasnya.

Di sisi lain, menurut Myrdal, pertumbuhan kredit konstruksi yang cukup agresif juga menjadi salah satu faktor yang membuat penurunan suku bunga perbankan berjalan lebih lambat.

Hal ini karena ekspansi kredit yang tinggi berpotensi menjaga permintaan pembiayaan tetap kuat di tengah kondisi likuiditas perbankan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×