Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit produktif masih menjadi penopang utama penyaluran kredit industri perbankan di tengah perlambatan kredit konsumsi. Kredit investasi dan kredit modal kerja mencatat pertumbuhan lebih tinggi seiring meningkatnya aktivitas dunia usaha.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, kredit konsumsi per Juli 2026 tumbuh 5,3% secara tahunan menjadi Rp 2.403 triliun. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 5,7% secara year on year (yoy).
Sementara itu, kredit modal kerja (KMK) tumbuh 11,6% yoy menjadi Rp 3.833,8 triliun pada Juli 2026. Pertumbuhan ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 9,6% yoy.
Baca Juga: ShopeePay Perluas Layanan Pembayaran Antarnegara melalui QRIS Cross-Border
Pertumbuhan KMK terutama ditopang oleh penyaluran kredit ke sektor listrik, gas, dan air bersih, industri pengolahan, serta konstruksi.
Adapun kredit investasi (KI) mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 23,1% yoy menjadi Rp 2.773,3 triliun. Angka tersebut naik dari pertumbuhan 22,5% yoy pada Juni 2026.
Kenaikan kredit investasi terutama didorong oleh penyaluran kredit pada sektor konstruksi dan jasa-jasa.
Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, pertumbuhan kredit produktif yang melampaui kredit konsumsi mencerminkan mulai pulihnya ekspansi sektor usaha. Di sisi lain, daya beli masyarakat yang masih tertahan membuat permintaan kredit konsumsi belum optimal.
“Pertumbuhan kredit produktif yang melampaui kredit konsumsi mencerminkan mulai pulihnya ekspansi sektor usaha, masih tertahannya daya beli masyarakat sehingga permintaan kredit konsumsi belum optimal, serta kebijakan yang mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas,” kata Trioksa kepada kontan.co.id.
Menurutnya, kondisi tersebut mendorong bank meningkatkan porsi kredit produktif. Namun, hal ini bukan berarti bank meninggalkan kredit konsumsi. Penyaluran kredit produktif meningkat karena permintaan korporasi relatif lebih kuat, nilai pembiayaannya lebih besar, dan risikonya dapat diukur melalui analisis arus kas usaha.
Trioksa menilai, sejumlah sektor masih memiliki prospek pertumbuhan, antara lain hilirisasi industri, manufaktur, pangan dan pertanian, energi, infrastruktur, logistik, kesehatan, ekonomi digital, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terintegrasi dalam rantai pasok industri.
Hingga akhir tahun, ia memperkirakan kredit produktif tetap menjadi motor utama pertumbuhan kredit perbankan. Kredit investasi berpotensi tetap tumbuh dua digit, sedangkan secara keseluruhan kredit produktif diperkirakan meningkat sekitar 9% hingga 12%, sejalan dengan target pertumbuhan kredit industri.
Baca Juga: Sungai di Kalimantan Kering, Berpotensi Pengaruhi Kinerja Asuransi Marine Cargo
Untuk menangkap peluang tersebut, bank perlu memperkuat pembiayaan berbasis ekosistem dan rantai pasok (supply chain). Bank juga perlu memprioritaskan debitur dengan fundamental dan arus kas yang kuat, memperketat manajemen risiko, serta memperkuat sistem peringatan dini.
“Bank perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan profitabilitas agar ekspansi tetap berjalan baik,” ujarnya.
Sementara itu PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat, penyaluran kredit produktif BCA hingga Juni 2026 tumbuh 11% YoY menjadi Rp 802 triliun.
Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit BCA secara total yang mencapai 8% YoY menjadi Rp 1.036 triliun.
Secara khusus, penyaluran kredit investasi BCA mencapai Rp388 triliun atau tumbuh 16% YoY. Kredit investasi dan kredit modal kerja BCA banyak disalurkan ke sektor manufaktur, perdagangan, restoran dan hotel, jasa bisnis, serta sejumlah sektor lainnya.
“Pertumbuhan kredit ditopang oleh segmen korporasi, dengan pertumbuhan yang cukup merata dari berbagai sektor, antara lain teknologi informasi atau data center, mineral, peternakan, perikanan, logistik, dan telekomunikasi,” jelas Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan portofolio kredit BCA yang tetap terdiversifikasi dengan baik.
BCA masih optimistis pertumbuhan kredit perseroan pada 2026 berada dalam kisaran 8% hingga 10% YoY.
Baca Juga: AIA Dorong Literasi Keuangan Anak Muda Lewat AIA Silabus
Adapun Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, perseroan akan lebih agresif menyalurkan pembiayaan kepada sektor-sektor yang mampu mendorong aktivitas ekonomi.
“Kalau sektor produktif, tentu kami akan lebih fokus ke sana. Kami ingin mendukung perusahaan-perusahaan agar lebih produktif, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia,” kata Kunardy.
Ke depan, KB Bank tetap mengedepankan kebijakan kredit yang prudent dengan membuka ruang pertumbuhan pada segmen ritel secara lebih terukur.
Penyaluran kredit produktif akan difokuskan pada industri yang memiliki fundamental kuat dan mampu bertahan di tengah perlambatan ekonomi.
Kunardy menambahkan, strategi penyaluran kredit yang selektif dan berkelanjutan diharapkan menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri perbankan ke depan. Meski demikian, kualitas aset tetap menjadi prioritas utama perseroan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan juga mengatakan, pelemahan permintaan kredit konsumsi dan UMKM sejalan dengan daya beli masyarakat yang masih terbatas. Karena itu, perseroan melihat peluang lebih besar pada sektor korporasi yang masih memiliki kelayakan usaha.
“Pada kondisi saat ini, ketika permintaan kredit konsumsi dan UMKM melemah sejalan dengan daya beli, memang potensi ada di sektor korporasi yang masih viable. Oleh sebab itu, di CIMB Niaga pertumbuhan terbesar ada di kredit korporasi, sedangkan kredit ritel dan UMKM lebih rendah,” ujar Lani.
Baca Juga: Dapen BCA Bayarkan Manfaat Pensiun Rp595,8 M hingga Agustus 2026, Likuiditas Stabil
Namun, ia menegaskan bahwa CIMB Niaga bukan berarti mengalihkan fokus sepenuhnya ke korporasi. Pertumbuhan tersebut lebih disebabkan perseroan melihat peluang pembiayaan yang tersedia dan tetap menjaga kualitas kredit.
“Bukan berarti kami beralih fokus ke korporasi, tetapi lebih karena kami melihat peluang yang ada dan tetap sehat,” pungkasnya.
Per Juni 2026, penyaluran kredit CIMB Niaga di segmen korporasi capai 13,8% yoy mencapai Rp 105,91%. Sementara penyaluran kredit di segmen konsumer hanya naik 0,1% capai Rp 76,92 triliun, dan penyaluran kredit UMKM tumbuh mini 2,9% yoy capai Rp 27,01%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














