kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kredit Sindikasi Perbankan Berpotensi Terus Tumbuh, Sektor Infrastruktur Jadi Pilihan


Rabu, 31 Mei 2023 / 16:44 WIB
Kredit Sindikasi Perbankan Berpotensi Terus Tumbuh, Sektor Infrastruktur Jadi Pilihan
ILUSTRASI. Kesepakatan kredit sindikasi perbankan masih terus mengalir sepanjang tahun 2023. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesepakatan kredit sindikasi perbankan masih terus mengalir sepanjang tahun 2023 ini. Kesepakatn kredit ini diperkirakan masih bakal terus meningkat dan lebih deras dibandingkan tahun lalu.

Jika mengacu pada Bloomberg League Table Reports, kesepakatan kredit sindikasi dari awal tahun hingga 31 Mei 2023 dari sisi mandated lead arranger (MLA) mencapai 18 proyek dengan nilai mencapai US$ 6,85 miliar atau setara Rp 102 triliun. 

Dari nilai tersebut, ada 35 bank yang menjadi MLA dalam penyaluran kredit sindikasi tersebut. Dimana, MLA merupakan pihak yang memimpin dalam pembentukan sindikasi tersebut.

Baca Juga: Bank BTPN Beri Fasilitas Pinjamanan Sindikasi ke PT Seino Indomobil Logistics

Adapun, Bank Mandiri menjadi yang bank yang paling banyak memimpin kredit sindikasi dengan nilai yang disalurkan mencapai US$ 911,1 juta dengan jumlah 9 proyek. Angka tersebut berkontribusi sekitar 13,29% dari total penyaluran kredit sindikasi di periode tersebut.

Posisi selanjutnya diisi oleh BRI yang memimpin kredit sindikasi senilai US$ 638 juta dengan 5 proyek. Lalu, ada BCA yang memiliki kredit sindikasi senilai US$ 590 juta dengan 6 proyek.

Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn mengungkapkan prospek kredit sindikasi masih positif, sejalan banyaknya permintaan untuk refinancing dan kebutuhan investasi atau modal kerja baru. 

“Saat ini ada beberapa pipeline sindikasi yang ditangani BCA di bidang infrastruktur, oil and gas, smelter, energi, industri, dan telekomunikasi,” ujar Hera.

Meski demikian, Hera mengungkapkan penyaluran kredit sindikasi di BCA tetap mempertimbangkan faktor risk appetite, posisi likiuditas dan modal, serta tetap pilih-pilih proyek yang sekiranya berpotensi memperkuat bisnis inti perusahaan.

“menyalurkan kredit secara pruden dan tetap mengkaji peluang serta mempertimbangkan prinsip kehati-hatian,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Business Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk Rusly Johannes turut mengklaim bahwa menjadi satu bank yang aktif dalam memimpin dan meng-arrange kredit sindikasi di 2023 ini.

Hingga Mei 2023, CIMB Niaga masuk dalam urutan ke sembilan yang menjadi MLA dalam kredit sindikasi. Dimana, nilainya mencapai US$ 190 juta dengan proyek yang dilaksanakan sebanyak 4 proyek.

Rusly bilang pada saat ini beberapa kredit sindikasi cukup menarik bagi CIMB Niaga pengembanganannya antara lain dalam sektor infrastruktur, seperti di bidang ketenagalistrikan dan telekomunikasi serta industri dasar penunjang seperti industri semen.

Meski demikian, Rusly melihat pembiayaan dalam bidang properti khususnya perkantoran cenderung stagnan pertumbuhannya dikarenakan bank cukup selektif secara risiko untuk dapat masuk ke sektor tersebut apabila dibandingkan dengan sektor lainnya.

“Ada beberapa pipeline yang CIMB Niaga tengah persiapkan dengan jumlah yang diharapkan bertumbuh dengan baik dari segi jumlah dan nilai transaksi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Baca Juga: Proyek Kolaborasi Adaro (ADRO) dan Cita Mineral (CITA) Teken Kredit Sindikasi

Baru-baru ini, ada juga PT Bank BTPN Tbk (Bank BTPN) memimpi kredit sindikasi bersama empat bank lain untuk PT Seino Indomobil Logistics (PT SIL) senilai Rp 1,11 triliun.

Head of Wholesale, Commercial, and Transaction Banking Bank BTPN Nathan Christianto bilang penyaluran pinjaman sindikasi ini akan mendongkrak kinerja kredit perusahaan.

“Kredit sindikasi khususnya proyek infrastruktur, proyek energi terbarukan, pembiayaan terkait lingkungan, sosial, tata kelola dan industri pendukung, termasuk industri pendukung ekspor,” ujarnya.

Dimana, hingga akhir Maret 2023, BTPN mencatat pertumbuhan kredit sebesar 5% menjadi Rp 149,9 triliun, dengan segmen korporasi mengalami pertumbuhan mencapai 7%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×