Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan nasional terus melaju lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Kondisi ini menunjukkan tekanan likuiditas di sistem perbankan semakin terasa, terutama ketika permintaan kredit investasi dan modal kerja masih tumbuh kuat.
Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin dalam riset 25 September 2026 mencatat, total kredit perbankan mencapai Rp 9.019 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 13,3% secara tahunan dan 0,6% secara bulanan.
Pertumbuhan kredit masih ditopang terutama oleh kredit investasi yang tumbuh 23,4% secara year on year (yoy), meski secara bulanan naik 0,4%. Selanjutnya, kredit modal kerja tumbuh 12,3% YoY atau 0,8% month on month (MoM).
Baca Juga: FIF Terbitkan Obligasi Rp 2,5 Triliun, Fitch Sematkan Peringkat AAA(idn)
Sementara itu, pertumbuhan kredit konsumsi masih relatif lebih rendah, yakni sebesar 5% YoY atau 0,3% MoM.
Secara kumulatif hingga Agustus 2026 (year to date/YTD), kredit perbankan telah tumbuh 6,8%. Angka tersebut masih sejalan dengan target pertumbuhan kredit Bank Indonesia (BI) sebesar 8%-12% untuk 2026.
Menurut Nurkholis, yang menjadi perhatian adalah akselerasi pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja. Hal tersebut menunjukkan permintaan kredit masih sehat meski likuiditas sistem perbankan semakin terbatas.
"Pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja terus mengalami akselerasi, menunjukkan bahwa permintaan kredit tetap sehat meski likuiditas sistem semakin terbatas," tulis Nurkholis dalam risetnya.
Tren tersebut melanjutkan kondisi pada Juli 2026. Saat itu, pertumbuhan kredit investasi telah menembus lebih dari 20% YoY, sedangkan kredit modal kerja kembali tumbuh dua digit.
Pertumbuhan DPK Tertinggal
Di sisi lain, pertumbuhan DPK belum mampu mengimbangi laju kredit. Total DPK perbankan mencapai Rp 9.733 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 7,7% YoY dan 0,7% MoM.
Pertumbuhan terutama berasal dari dana murah. Giro tumbuh 9,4% YoY, sedangkan tabungan meningkat 9,5% YoY. Sementara itu, deposito berjangka hanya tumbuh 4,7% YoY.
Baca Juga: Rumor Akuisisi BCA Menyebar, Bank Swasta Besar Penting Jaga Persaingan Perbankan
Kondisi tersebut membuat rasio current account and savings account (CASA) meningkat menjadi 64,6%, naik 102 basis poin secara tahunan.
Meski komposisi CASA yang cukup kuat membantu menopang biaya dana (cost of fund), kesenjangan antara pertumbuhan kredit dan DPK semakin lebar.
Secara YTD, DPK baru tumbuh 2,8%, jauh di bawah pertumbuhan kredit yang mencapai 6,8%. Artinya, terdapat selisih pertumbuhan sebesar 4 poin persentase.
Nurkholis menilai kesenjangan tersebut mengindikasikan persaingan untuk memperoleh tambahan sumber pendanaan akan tetap tinggi.
"Pertumbuhan deposito yang terus tertinggal secara material dari pertumbuhan kredit menunjukkan bahwa persaingan untuk mendapatkan tambahan pendanaan kemungkinan tetap tinggi," tulisnya.
LDR Berbasis SAL Dinilai Belum Gambarkan Tekanan Likuiditas
Tekanan likuiditas juga tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR). Secara headline, LDR perbankan relatif stabil di 92,7% pada Agustus 2026, dibandingkan 92,8% pada Juli 2026.
Namun, Mirae Asset menilai angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi likuiditas yang mendasari karena masih terdapat dukungan likuiditas melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Mirae Asset memperkirakan terdapat sekitar Rp 451 triliun likuiditas terkait SAL di sistem perbankan hingga delapan bulan di tahun 2026. Jika likuiditas tersebut dikeluarkan dari perhitungan, LDR perbankan diperkirakan telah mencapai sekitar 97,2%.
Baca Juga: BI Rate Ditahan di Level 5,75%, ACC Siapkan Penyesuaian Bunga Pembiayaan Terukur
Level tersebut sudah mendekati puncak LDR sebesar 99,5% yang tercatat pada 2019. Estimasi tersebut juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan LDR tanpa SAL pada Juli 2026 yang sebesar sekitar 96,6%.
Menurut Nurkholis, kondisi saat ini berbeda dengan periode puncak tekanan likuiditas sebelumnya. Kali ini, pengetatan likuiditas terjadi bersamaan dengan akselerasi kredit investasi dan modal kerja.
"Bank perlu mengakomodasi permintaan kredit produktif yang terus berlanjut sembari bersaing mendapatkan deposito organik yang relatif terbatas," tulis Nurkholis.
Terlebih, likuiditas yang berasal dari SAL diperkirakan berangsur turun menjadi sekitar Rp 200 triliun pada akhir 2026. Dengan demikian, ruang likuiditas perbankan berpotensi semakin terbatas apabila pertumbuhan kredit tetap tinggi sementara pertumbuhan DPK tidak mengalami akselerasi yang sebanding.
Melihat kondisi tersebut, Mirae Asset Sekuritas memilih untuk tetap selektif dalam melihat saham sektor perbankan Indonesia. Kesenjangan pertumbuhan kredit dan DPK yang semakin lebar serta LDR yang telah disesuaikan dengan SAL menunjukkan likuiditas sistem masih ketat meski sementara waktu mendapat dukungan likuiditas pemerintah.
Mirae Asset tetap positif terhadap PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) karena ditopang likuiditas yang memadai, basis pendanaan yang kuat serta peluang ekspansi net interest margin (NIM).
Mirae Asset juga positif terhadap PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), seiring kemampuan bank menangkap peningkatan kebutuhan produk keuangan syariah. Bisnis emas disebut menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan tersebut.
Sebaliknya, Mirae Asset masih berhati-hati terhadap bank-bank besar Himbara. Pengetatan likuiditas berpotensi meningkatkan tekanan terhadap biaya pendanaan marginal bank.
Baca Juga: Perkuat Segmen Non-urban, BMRI Perluas Digitalisasi UMKM Lewat Livin’ Merchant
Risiko lain yang turut menjadi perhatian adalah potensi memburuknya kualitas aset, terutama yang berasal dari segmen konstruksi.
Karena itu, Mirae Asset menilai bank dengan basis pendanaan organik yang lebih kuat dan fleksibilitas neraca yang lebih besar akan lebih mampu menghadapi kondisi likuiditas yang semakin ketat.
Pada Jumat (25/9/2026), harga saham BBCA, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bergerak positif. Saham BBCA naik 0,4% di level Rp 6.250 per saham. Saham BBRI naik 0,32% di Rp 3.150 dan saham BMRI naik 0,25% di Rp 4.080 per saham.
Saham BRIS dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) justru bergerak melemah. Saham BBNI turun 0,57% di Rp 3.500 sementara saham BRIS turun 3,21% di Rp 1.510 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














