kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.876   93,00   0,52%
  • IDX 6.268   -97,49   -1,53%
  • KOMPAS100 822   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,34   -1,31%
  • ISSI 217   -4,16   -1,89%
  • IDX30 351   -4,37   -1,23%
  • IDXHIDIV20 429   -5,35   -1,23%
  • IDX80 94   -1,42   -1,49%
  • IDXV30 118   -1,74   -1,46%
  • IDXQ30 112   -1,22   -1,08%

Likuiditas Perbankan Makin Ketat, Begini Strategi Bank Menjaga Dana


Selasa, 11 Agustus 2026 / 19:15 WIB
Likuiditas Perbankan Makin Ketat, Begini Strategi Bank Menjaga Dana
ILUSTRASI. Suasana Dealing Room SBN di Bank Negara Indonesia (BNI) (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Likuiditas perbankan masih menghadapi tantangan pada semester I-2026. Di tengah persaingan penghimpunan dana yang masih ketat, sejumlah bank memperkuat dana murah (CASA) dan mengoptimalkan berbagai sumber likuiditas untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, biaya dana, dan kecukupan likuiditas.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan rasio loan to deposit ratio (LDR) industri perbankan pada Mei 2026 berada di level 86,63%, sedikit turun dibandingkan April 2026 yang sebesar 86,88%.

Meski demikian, kondisi likuiditas mulai membaik seiring pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang meningkat 13,47% secara tahunan (year on year / YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,39%.

Baca Juga: Bank bjb Syariah Optimistis Pembiayaan Pemilikan Rumah Tumbuh 5,09% hingga Akhir 2026

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, kondisi likuiditas BCA masih terjaga dengan baik berkat pertumbuhan dana murah yang kuat.

Hingga Juni 2026, dana giro dan tabungan (CASA) BCA tumbuh 10,2% YoY menjadi Rp1.082 triliun. Dengan demikian, porsi CASA mencapai sekitar 85% dari total dana pihak ketiga (DPK) yang tercatat sebesar Rp1.284 triliun atau tumbuh 7,9% YoY.

"Secara umum, kondisi likuiditas BCA tetap terjaga dengan baik. Hal ini didukung oleh pendanaan yang solid, tercermin dari pertumbuhan CASA sebesar 10,2% YoY menjadi Rp1.082 triliun," ujar Hera kepada Kontan, Senin (11/8/2026).

Dengan likuiditas yang memadai, rasio LDR BCA tercatat sebesar 78,7% pada semester I-2026, sedikit meningkat dibandingkan 78% pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Hera, kondisi tersebut membuat perseroan belum memiliki rencana menerbitkan obligasi tahun ini.

"Sejalan dengan kondisi likuiditas yang memadai, BCA belum berencana menerbitkan obligasi pada 2026. Kami berkomitmen menjaga komposisi pendanaan yang sehat untuk menopang pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan," katanya.

Dari sisi pengelolaan likuiditas, posisi surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo) BCA secara konsolidasi mencapai sekitar Rp 48 triliun hingga Juni 2026.

Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengakui, likuiditas di industri memang semakin ketat. Meski demikian, perseroan berupaya menjaga rasio LDR pada kisaran yang sehat.

"LDR di market memang semakin ketat, tetapi kami jaga di level 85% sampai 90% agar tetap efisien," ujar Lani.

Baca Juga: Pembiayaan KPR BCA Syariah Tumbuh 26,1% Jadi Rp 1,72 Triliun pada Semester I-2026

Ia mengatakan, sumber likuiditas utama CIMB Niaga tetap berasal dari penghimpunan DPK, terutama dana murah (CASA). Di luar itu, perseroan juga memanfaatkan berbagai sumber pendanaan lain sesuai kebutuhan.

Pada semester I-2026, pertumbuhan kredit CIMB Niaga masih diimbangi pertumbuhan DPK dengan tetap menjaga rasio likuiditas secara prudent.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, nilai transaksi repo CIMB Niaga mencapai sekitar Rp26 triliun per Mei 2026 atau meningkat 28,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 20,2 triliun.

Adapun PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatat rasio LDR yang lebih tinggi. Direktur Treasury & International Banking BTN Venda Yuniarti mengatakan LDR BTN mencapai 96,6% pada semester I-2026 naik dari 92,6% di semester I-2025.

"LDR BTN di level 96,6% masih dalam batas yang terjaga dan mencerminkan pertumbuhan kredit yang solid, khususnya di sektor perumahan, di tengah kondisi likuiditas industri," ujar Venda.

Untuk menjaga likuiditas, BTN tetap mengandalkan penguatan dana ritel dan CASA. Selain itu, perseroan juga memanfaatkan diversifikasi sumber pendanaan melalui instrumen repo SBN maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sesuai kebutuhan.

"Ke depan, BTN akan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, biaya dana, dan likuiditas dengan pendekatan yang prudent, serta tetap fokus mendukung sektor perumahan sebagai core business dan kredit high yield lainnya yang masuk dalam strategi beyond mortgage," katanya.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi, posisi repo BTN mencapai Rp6,16 triliun hingga Juni 2026.

Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, likuiditas industri memang mulai lebih ketat dibandingkan awal tahun. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit yang masih melampaui pertumbuhan dana serta meningkatnya biaya dana (cost of fund).

Baca Juga: Bunga KPR Bank Konvensional Masih Tinggi, KPR Bank Syariah Jadi Primadona

"Likuiditas perbankan memang mulai lebih ketat dibanding awal tahun. Tantangan utama bank saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, biaya dana, kualitas aset, dan profitabilitas di tengah suku bunga yang masih tinggi," ujarnya.

Meski demikian, Trioksa menilai, kondisi tersebut belum mengarah pada tekanan likuiditas yang bersifat sistemik karena rasio alat likuid terhadap DPK masih jauh di atas ketentuan minimum regulator.

Menurutnya, bank perlu lebih selektif menyalurkan kredit kepada sektor produktif dan debitur berkualitas, memperkuat penghimpunan dana murah, serta mengoptimalkan berbagai alternatif pendanaan.

Ia menambahkan, hingga akhir 2026 likuiditas diperkirakan masih relatif ketat namun tetap terkendali. Trioksa memperkirakan pertumbuhan DPK berada di kisaran 8%–10%, pertumbuhan kredit 10%–12%, sementara LDR industri berpotensi meningkat ke kisaran 89%–90%.

"Karena itu, pengelolaan likuiditas dan strategi pendanaan akan tetap menjadi fokus utama industri perbankan hingga akhir tahun," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×