Reporter: Aura Putri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspansi kredit perbankan masih berlanjut hingga paruh kedua 2026, di tengah ruang likuiditas yang semakin terbatas. Sejumlah bank mulai mengedepankan strategi penyaluran yang lebih selektif sekaligus memperkuat sumber pendanaan untuk menjaga pertumbuhan bisnis.
Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan tumbuh 13,58% secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 12,67% yoy dan jauh lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 sebesar 7,03% yoy.
Namun, peningkatan penyaluran kredit tersebut berlangsung ketika kondisi likuiditas perbankan mulai mengetat. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat sebesar 23,10% pada Juli 2026, turun dari 27,08% pada Juli 2025.
Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, peningkatan intermediasi perbankan tersebut didukung ketahanan perbankan yang tetap terjaga.
"Intermediasi perbankan terus naik dengan didukung ketahanan perbankan yang terjaga," ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Adira Finance Raih Laba Rp1,1 Triliun, Tetap Selektif Genjot Pembiayaan
Kredit Bank Mandiri Tumbuh Paling Tinggi
Di antara sejumlah bank besar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan pertumbuhan kredit yang cukup agresif. Per Juli 2026, kredit yang diberikan Bank Mandiri mencapai Rp 1.595,85 triliun, naik 19,39% yoy dari Rp 1.336,59 triliun pada Juli 2025.
Pada periode yang sama, surat berharga yang dimiliki Bank Mandiri turun menjadi Rp 222,47 triliun dari Rp 255,11 triliun.
Sementara itu, penyaluran kredit PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencapai Rp 1.000,88 triliun pada Juli 2026. Angka tersebut meningkat 8,37% dari Rp 923,51 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Berbeda dengan Bank Mandiri, kepemilikan surat berharga BCA meningkat menjadi Rp 419,24 triliun pada Juli 2026 dari Rp 394,16 triliun sebelumnya.
PT Bank CIMB Niaga Tbk juga mencatat pertumbuhan kredit dua digit. Kredit CIMB Niaga mencapai Rp 179,19 triliun pada Juli 2026, naik 15,41% yoy dibandingkan Rp 155,26 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun surat berharga yang dimiliki CIMB Niaga turun menjadi Rp 63,40 triliun dari sebelumnya Rp 79,86 triliun.
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) per Juni 2026 mencatat kredit yang diberikan mencapai Rp 358,50 triliun, meningkat dari Rp 327,64 triliun pada Juni 2025. Di sisi lain, surat berharga yang dimiliki BTN turun menjadi Rp 50,96 triliun dari Rp 59,10 triliun.
Baca Juga: Maximus Insurance Selesaikan Klaim Surety Bond Rp 1,09 M kepada Perum Jasa Tirta I
BTN Bidik Kredit Tumbuh 8%-10%
Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan, perseroan tetap akan menjaga pertumbuhan kredit secara konservatif dan selektif sepanjang semester II 2026. BTN menargetkan pertumbuhan kredit hingga akhir tahun berada dalam kisaran 8%-10%.
"Target pertumbuhan kredit hingga akhir 2026 berada pada kisaran 8%–10% dengan KPR, high yield serta pertumbuhan kredit secara anorganik sebagai motor utama pertumbuhan kredit," ujar Ramon kepada Kontan, Kamis (20/8/2026).
Dari sisi pendanaan, Ramon memperkirakan cost of fund (CoF) akan mengalami kenaikan. Kendati demikian, kenaikan tersebut masih diperkirakan berada dalam rentang target yang telah ditetapkan perseroan hingga akhir 2026.
Menurut Ramon, kondisi tersebut mempertimbangkan likuiditas yang diperkirakan masih relatif ketat serta dinamika kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga ditargetkan berada di bawah pertumbuhan kredit.
Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan, BTN akan berfokus pada akuisisi dana murah atau current account savings account (CASA). Perseroan juga mempertimbangkan sumber pendanaan lain melalui wholesale funding apabila diperlukan.
Persaingan Likuiditas Perbankan Makin Ketat
Kondisi serupa juga menjadi perhatian PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank). Per Juni 2026, penyaluran kredit OK Bank tercatat sebesar Rp 11,29 triliun, meningkat dari Rp 9,56 triliun pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Biaya Dana Berpotensi Naik, Gadai Mas Nusantara Atur Strategi Pendanaan
Pada periode yang sama, penempatan pada surat berharga juga meningkat menjadi Rp 2 triliun dari Rp 1,43 triliun.
Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan persaingan likuiditas masih cukup ketat sehingga pengelolaan cost of fund menjadi semakin penting.
"Dari sisi kredit, ketidakpastian ekonomi membuat sebagian pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan ekspansi," kata Efdinal kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).
Efdinal mengatakan kondisi tersebut turut memberikan pengaruh terhadap margin perbankan. Oleh karena itu, OK Bank terus menjaga keseimbangan antara pricing kredit, biaya dana, likuiditas dan kualitas aset.
"Kami tetap melihat peluang pada sektor dan debitur yang memiliki fundamental baik serta kebutuhan pembiayaan yang sehat," ujarnya.
Sementara itu, PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) mencatat kredit sebesar Rp 44,97 triliun pada Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 4,38% yoy dari Rp 43,08 triliun pada Juni 2025.
Di sisi lain, surat berharga yang dimiliki KB Bank tercatat sebesar Rp 19,98 triliun, meningkat dari Rp 17,47 triliun.
Baca Juga: AAUI Sebut Terdapat Potensi Peningkatan Klaim Akibat Gempa NTT dan El Nino
Pertumbuhan Kredit Masih Bisa Berlanjut
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai, pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan DPK menjadi indikasi bahwa likuiditas perbankan mulai mengetat, meski belum mencapai level sistemik.
"Target pertumbuhan kredit BI sebesar 8-12% masih mungkin dicapai, tetapi lebih realistis berada dalam rentang tersebut daripada mendekati batas atas," ujar Rizal kepada Kontan, Kamis (20/8/2026).
Menurut Rizal, bank perlu memperkuat CASA, melakukan diversifikasi sumber pendanaan dan menjaga asset-liability management secara prudent. Tambahan pendanaan dapat diperlukan, tetapi bank sebaiknya tidak terlalu bergantung pada deposito dengan bunga tinggi.
Dengan kondisi tersebut, ekspansi kredit perbankan pada semester II 2026 diperkirakan tetap berlangsung, tetapi dengan pendekatan yang lebih selektif. Bank perlu menyeimbangkan target pertumbuhan kredit dengan kemampuan menghimpun dana serta menjaga kualitas aset dan margin di tengah persaingan likuiditas yang semakin ketat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














