Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kebutuhan memacu pertumbuhan kredit jelang akhir tahun tak serta-merta membuat bank lebih longgar dalam melakukan penyaluran. Hingga kuartal III-2026, sejumlah bank besar terpantau mampu menjaga rasio kredit berkualitas rendah (KKR) alias loan at risk (LaR).
Dari jajaran bank besar, Bank Central Asia (BCA) dan Bank Negara Indonesia (BNI) kompak mencatatkan penurunan LaR hingga September 2026. BCA turun menjadi 4,59% dari posisi 5,52% pada tahun sebelumnya, sementara BNI turun menjadi 7,78% dari 10,43%.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada bilang pihaknya terus menerapkan pengelolaan risiko dengan berbagai strategi, termasuk dengan menetapkan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pasca kredit disalurkan.
Baca Juga: BRI Finance Buka Peluang Kerja Sama dengan Pegadaian untuk Bisnis Emas
Ini menjadi bagian dari ekspansi kredit yang selektif dengan menerapkan standar analisis kelayakan kredit yang disiplin. Asal tahu saja, selama sembilan bulan ini, kredit BNI berhasil tumbuh 22,2% secara tahunan menjadi Rp 992,51 triliun.
“Berbagai upaya didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat,” sebut David, Selasa (26/10/2026). Pada gilirannya, upaya tersebut turut tercermin pada rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) bank yang turut turun, meski lebih terbatas, menjadi 1,9% dari 2%.
Namun sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian, David bilang pihaknya menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit hingga 3,8%, lebih tinggi ketimbang industri yang sebesar 3,5%. Pun, NPL coverage ratio dijaga tinggi di level 193,3%
Adapun Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengungkapkan, capaian ini sejalan dengan strategi bank dalam memperhatikan kemampuan calon debitur beradaptasi terhadap perubahan kebijakan maupun kondisi ekonomi. Itu menjadi bagian dari upaya BCA menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko disiplin.
Dalam prosesnya, Hera bilang pihaknya senantiasa melakukan monitoring risiko konsentrasi kredit termasuk penggunaan limit kredit dan kualitas portofolionya, melakukan stress test dalam mengukur risiko, serta menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang diperkirakan bisnisnya terkena dampak.
“BCA senantiasa menyalurkan kredit berkualitas,” sebut Hera kepada Kontan, Rabu (27/10/2026).
Baca Juga: Bank Ganesha Resmi Tunjuk Setiawan Kumala sebagai Presiden Direktur
Di kelompok bank tier dua, CIMB Niaga tak ketinggalan mencatatkan capaian serupa. Hingga September 2026, LaR bank berhasil turun menjadi 5,83% dari 7,94%. Padahal, di saat yang sama, total pembiayaan yang disalurkan bank berhasil naik 6,09% yoy menjadi Rp 242,58 triliun.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menegaskan, pihaknya memang senantiasa menjaga pertumbuhan kredit tetap prudent. “Saat ini portfolio dalam keadaan sehat dengan NPL di 1.8% dan LAR turun terus. Secara fundamental sehat,” katanya.
Lani mengaku fokus CIMB Niaga saat ini memang terarah pada kualitas aset. Kredit disalurkan ke segmen-segmen dengan risiko yang masih dapat dikelola, baik korporasi maupun ritel. Sebab dengan fundamental yang kuat, bank dapat terus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Di sisi lain, dalam periode yang sama Bank Mandiri justru mencatatkan kenaikan LaR menjadi 6,93% dari 6,57%. Kendati begitu, Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Danis Subyantoro memastikan kualitas aset tetap menjadi perhatian dalam setiap ekspansi kredit bank.
“Pertumbuhan kredit perlu disertai penilaian risiko dan pemantauan kualitas aset yang disiplin,” sebut Danis.
Salah satu upaya Bank Mandiri menjaga kualitas asetnya terlihat dari NPL yang turun tipis menjadi 0,98% dari posisi 1,03%. Di luar itu, rasio kredit dalam perhatian khusus alias special mention loan (SML) turun menjadi 2,88% dari 3,35%.
Baru-baru ini, salah satu portofolio kredit Bank Mandiri memang menjadi perhatian, yakni kredit ke Jhonlin Baratama senilai Rp 40 triliun yang hingga 26 Oktober 2026 telah digunakan sebanyak Rp 17 triliun. Sebabnya, kredit ini menggunakan agunan saham.
Baca Juga: Laba Sebelum Pajak Superbank Melonjak 376% Jadi Rp 385 Miliar hingga September 2026
Kendati begitu, Bank Mandiri memastikan telah memperhitungkan kemampuan bayar debitur berdasarkan cash flow dari usaha existing di industri batu bara. Toh, kredit ini juga dijaminkan dengan aset tetap dan tidak tetap serta rekening perusahaan. Pun, untuk menjamin kewajiban pembayaran, sudah disediakan sinking fund (dana khusus) dengan mekanisme dan ketentuan dalam dokumen pembiayaan.
Hingga berita ini ditayangkan, Bank Mandiri belum merespons pertanyaan Kontan tentang keterkaitan kredit ke Jhonlin Group dengan naiknya LaR bank.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













