kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Laba bank melempem di tahun lalu, bagaimana dengan tahun ini?


Rabu, 22 Januari 2020 / 21:16 WIB
Laba bank melempem di tahun lalu, bagaimana dengan tahun ini?
ILUSTRASI. Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Herry Sidharta (kiri) bersama para direksi saat paparan kinerja BNI 2019 di Jakarta, Rabu (22/1). Sepanjang tahun 2019 lalu, kinerja laba perbankan masih terpantau seret./pho KONTAN/Carolus Agus

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang tahun 2019 lalu, fungsi intermediasi perbankan masih terpantau seret. Lihat saja, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan di 2019 hanya tumbuh 6,08% secara year on year (yoy). Realisasi ini jelas lebih rendah dari pencapaian tahun 2018 lalu yang sebesar 11,8% yoy.

Menurut pandangan OJK, kredit yang tumbuh tipis ini memang seiring dengan lemahnya permintaan komoditas global. Di samping itu, pengetatan likuiditas yang sempat terjadi di 2019 juga membuat bank biaya dana bank meningkat. Dampaknya, rasio profitabilitas bank yakni net interest margin (NIM) pun ikut turun dari 5,1% di tahun 2018 menjadi 4,9% pada akhir 2019.

Baca Juga: Selain blokir rekening, Kejagung buru aset milik tersangka Jiwasraya di luar ngeri

Selain biaya dana yang meninggi, penurunan NIM juga disebabkan oleh tren penurunan suku bunga kredit perbankan. Catatan OJK, rata-rata bunga kredit perbankan sudah turun dari 10,8% di akhir 2018 menjadi 10,5% di akhir 2019.

Seluruh data tersebut pastinya membuat kemampuan bank mencetak laba semakin terbatas. Di sisi lain, diberlakukannya Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 di awal 2020 secara langsung membuat perbankan harus rela memangkas sebagian modal untuk membentuk pencadangan.

Ambil contoh, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya yang menyebut dalam rangka persiapan PSAK 71 pihaknya menyiapkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp 13 triliun hingga Rp 15 triliun.

Direktur Keuangan BNI Ario Bimo bilang, hitungan sementara perseroan juga menyatakan akibat adanya pembentukan cadangan ini capital adequacy ratio (CAR) BNI bakal susut 200 basis poin (bps) dari 19,7% menjadi 17,7%.

Baca Juga: Bank cilik berjibaku memenuhi aturan modal baru

Dampaknya, laba bersih BNI pun hanya tumbuh tipis 2,5% yoy menjadi Rp 15,38 triliun. Namun di samping itu, laba yang tumbuh satu digit juga disebabkan oleh pertumbuhan kredit yang tak begitu deras.

Di tengah kondisi perekonomian yang menantang sepanjang tahun 2019, BNI tetap mampu mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 8,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp 556,77 per akhir 2019.




TERBARU

Close [X]
×