Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) membukukan laba bersih setelah pajak Rp 430,98 miliar pada kuartal III-2026.
Raihan laba tersebut susut 7,12% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Dari sisi pendapatan, Bank Neo Commerce mencatatkan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp1,69 triliun hingga September 2026.
NII tersebut meningkat secara berurutan sepanjang tiga kuartal pertama 2026.
Baca Juga: Laba Bank Danamon Tumbuh 19% Jadi Rp 3,5 Triliun hingga September 2026
Pada kuartal I-2026, NII tercatat Rp548,14 miliar, kemudian naik menjadi Rp562,55 miliar pada kuartal II-2026 dan kembali meningkat menjadi Rp576,04 miliar pada kuartal III-2026.
Selain itu, pendapatan berbasis komisi atau fee based income juga tumbuh 5,67% secara tahunan menjadi Rp90,55 miliar hingga September 2026, dibandingkan Rp85,69 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bank Neo Commerce Adrian Soewardjo mengatakan, pencapaian laba hingga kuartal III-2026 merupakan kelanjutan dari strategi perseroan dalam memperkuat fundamental bisnis sebelum memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
“Stabilnya raihan laba hingga akhir kuartal III 2026 ini merupakan pencapaian yang menggembirakan bagi BNC. Namun, bagi kami, hal yang lebih penting adalah bagaimana pencapaian tersebut didukung oleh kualitas fundamental bisnis yang semakin baik,” ujar Adrian dalam keterangan tertulis, Selasa (3/11).
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BNC terlihat susut 10,18% yoy menjadi Rp 6,72 triliun pada kuartal III-2026, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 7,48 triliun.
Adapun total aset Bank Neo Commerce mencapai Rp17,19 triliun per September 2026. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp11,86 triliun dan total kredit yang disalurkan mencapai Rp6,73 triliun.
Baca Juga: Bank Neo Commerce Bersiap Hadapi Persaingan DPK Pasca Kenaikan BI Rate
Adapun dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 1,33% secara tahunan menjadi Rp3,92 triliun. Rasio CASA juga naik menjadi 33,05% dari sebelumnya 28,40% pada September 2025.
Dari sisi efisiensi, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) membaik menjadi 81,77% pada September 2026, dibandingkan 82,81% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio cost to income (CIR) juga turun menjadi 31,45% dari 31,59%.
Kualitas kredit perseroan turut menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 2,78% dari 2,92% pada September 2025. Sementara itu, NPL net tercatat sebesar 0,27%.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mencapai 53,40%, meningkat dari 46,73% pada September 2025. Modal inti perseroan juga tumbuh 10,41% secara tahunan menjadi Rp4,35 triliun dari Rp3,94 triliun.
Bank Neo Commerce turut mencatatkan rasio net interest margin (NIM) sebesar 14,30% pada September 2026.
Baca Juga: KB Bank Optimistis Kredit Konsumer Tumbuh Positif hingga Kuartal III 2026
Adrian mengatakan, perseroan akan tetap menjaga keseimbangan antara profitabilitas, efisiensi operasional, dan kualitas pertumbuhan bisnis. Bank Neo Commerce juga akan menerapkan penyaluran kredit secara selektif dengan mempertimbangkan kualitas debitur, profil risiko, serta potensi imbal hasil.
“Strategi pertumbuhan yang kami jalankan saat ini bukan semata-mata mengejar peningkatan skala bisnis, melainkan memastikan bahwa setiap aktivitas usaha memberikan kontribusi yang sehat bagi Perseroan,” kata Adrian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














