Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 2,4 triliun. Realisasi tersebut meningkat 41% secara tahunan dan naik 17% secara kuartalan pada kuartal II 2026, didorong oleh penurunan biaya pencadangan kredit alias cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan.
Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dalam riset Jumat (17/7/2026) menyebutkan capaian laba bersih BBTN berada di atas ekspektasi, dengan realisasi mencapai sekitar 59% dari proyeksi perusahaan dan 62% dari konsensus pasar untuk tahun fiskal 2026.
“Laba bersih semester I 2026 sebesar Rp 2,4 triliun naik 41% secara year on year (yoy) dan naik 17% quarter on quarter (qoq) berada di atas ekspektasi karena CoC turun menjadi 0,7%, meski PPOP melemah 23% yoy,” tulis Jovent dalam risetnya.
Baca Juga: OJK Cabut Izin Usaha BPRS Hasanah Mandiri Depok, LPS Siapkan Likuidasi
Menurut dia, penurunan biaya pencadangan menjadi faktor utama yang menopang kinerja BBTN. Beban provisi turun 61% yoy atau 43% secara kuartalan, sehingga CoC turun 130 basis poin (bps) yoy dan 17 bps secara kuartalan. Angka tersebut masih berada di bawah panduan perseroan untuk tahun 2026 sebesar 1%-1,2%.
Namun, tekanan masih terlihat pada pendapatan operasional sebelum pencadangan alias pre-provision operating profit (PPOP). PPOP tercatat turun 23% yoy akibat penurunan pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) sebesar 8% yoy serta pendapatan non-bunga alias non-interest income (non-II) yang turun 3% yoy. Sementara itu, biaya operasional meningkat moderat sebesar 9% yoy.
Jovent menjelaskan, margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) BBTN turun 90 bps yoy menjadi 3,5% pada semester I 2026. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh pelemahan imbal hasil aset (asset yield) sebesar 170 bps yoy akibat penyesuaian EIR sebelumnya.
Di sisi lain, biaya dana alias cost of fund (CoF) membaik signifikan dengan penurunan 113 bps yoy. Secara kuartalan, NIM turun 12 bps karena tekanan CoF yang meningkat 10 bps.
“Kami memperkirakan CoF masih akan meningkat pada kuartal III sebelum membaik pada kuartal IV. Namun, tekanan tersebut dapat dikompensasi oleh kontribusi portofolio kredit pensiun dengan imbal hasil 13%-14%,” ujar Jovent.
Portofolio kredit pensiun saat ini mencakup sekitar 4,8% dari total kredit BBTN. Akuisisi kredit pensiun dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) menjadi salah satu faktor yang diperkirakan dapat mendukung perbaikan margin ke depan.
Dari sisi penyaluran kredit, BBTN membukukan pertumbuhan kredit sebesar 11% yoy atau 4% secara kuartalan. Angka tersebut melampaui panduan pertumbuhan kredit perseroan sebesar 8%-10%.
Pertumbuhan terutama ditopang oleh kredit nonperumahan yang meningkat 46% yoy, termasuk lonjakan kredit konsumer sebesar 161% yoy setelah penyelesaian tahap pertama akuisisi portofolio kredit pensiun SMBC senilai Rp12,6 triliun.
Kondisi tersebut meningkatkan porsi kredit nonperumahan menjadi 20% dari total kredit pada kuartal II 2026, dibandingkan 16% pada periode yang sama tahun sebelumnya. BBTN menargetkan kontribusi kredit nonperumahan mencapai 30% pada 2030.
Baca Juga: BTN Rem Pertumbuhan Kredit Antisipasi Ketatnya Likuiditas, Target Dipatok Naik 10%
Sementara itu, kredit perumahan tumbuh lebih moderat sebesar 5% yoy. Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi tumbuh 8% yoy, sedangkan KPR nonsubsidi hanya meningkat 2% yoy.
Jovent menilai kualitas aset BBTN menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) turun menjadi 3,0% pada kuartal II 2026, dibandingkan 3,1% pada kuartal I 2026 dan 3,3% pada kuartal II 2025.
Selain itu, rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 18,6% dari sebelumnya 19,6% pada kuartal I 2026 dan 20,2% pada kuartal II 2025.
Perbaikan tersebut didukung oleh peningkatan penagihan kredit perumahan setelah perseroan menerapkan strategi regional cluster dan sentralisasi loan factory. Sementara itu, rasio pencadangan terhadap NPL masih relatif stabil di level 122%.
Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBTN dengan target harga Rp 1.900 per saham. Jovent menilai valuasi saham bank spesialis pembiayaan perumahan tersebut masih menarik, ditambah prospek peningkatan margin dari akuisisi kredit pensiun.
Saat ini, saham BBTN diperdagangkan pada valuasi sekitar 0,4 kali price to book value (P/B) proyeksi 2026 dan 4,2 kali price to earnings ratio (P/E), lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 0,8 kali P/B dan 6,6 kali P/E.
“Risiko utama terhadap rekomendasi kami adalah perlambatan pertumbuhan kredit dan tekanan terhadap NIM,” kata Jovent.
Harga saham BBTN naik 4,55% di level Rp 1.265 per saham pada pukul 11.29 WIB pada Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: BTN Cetak Kinerja Moncer, Laba Tembus Rp 2,4 Triliun di Semester I-2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
