Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pesatnya laju pertumbuhan laba Bank Tabungan Negara (BBTN) rupanya beriringan dengan turunnya alokasi biaya pencadangan.
Hingga Juni 2026, BTN memang berhasil mencetak laba sebesar Rp 2,4 triliun atau melesat 40,8% secara tahunan. Di saat yang sama, biaya pencadangannya alias cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) susut 61,3% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1,41 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menjelaskan, penurunan biaya CKPN terjadi seiring membaiknya kualitas aset bank. Hal itu tercermin dari rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) yang turun menjadi 2,99% dari posisi 3,1% pada tahun lalu.
Baca Juga: Laba BTN (BBTN) Naik 41% Tembus Rp 2,4 Triliun, Analis Sebut Lampaui Ekspektasi
"Coverage kami tidak turun. Kenapa pencadangannya tidak seagresif tahun lalu? Karena NPL memang turun. Kalau NPL sudah turun, enggak perlu lagi melakukan pencadangan setinggi tahun lalu," ujar Nixon dalam paparan kinerja, Rabu (16/7/2026).
Pun, pihaknya memprefiksi kualitas kredit masih bakal terus membaik hingga akhir tahun sehingga kebutuhan pencadangan juga lebih rendah.
Untuk kondisi tahun lalu, Nixon bilang tingginya biaya CKPN dipengaruhi perubahan penerapan prinsip akuntansi Effective Interest Rate (EIR) pada portofolio kredit pemilikan rumah (KPR).
Ia menjelaskan, implementasi EIR saat itu meningkatkan pendapatan bunga BTN sekitar Rp 4 triliun hingga Rp 5 triliun. Namun, bank sengaja menaikkan CKPN hingga kisaran Rp 6 triliun untuk mengimbangi dampak kenaikan pendapatan tersebut. Alhasil, kenaikan yang terjadi tak langsung tercermin sebagai lonjakan laba.
"Kalau waktu itu mau diakui, laba kami sebenarnya bisa Rp 7 triliun sampai Rp 8 triliun. Tapi kami tidak mau seperti itu. Kami naikkan CKPN untuk menetralisir dampaknya di laba rugi," katanya.
Nixon menegaskan, hingga kini tingkat coverage CKPN BTN tetap terjaga di kisaran 127%–128%. BTN juga terus meningkatkan coverage pada anak usahanya, PT Bank Syariah Nusantara (BSN).
Karena itu, Nixon memastikan peningkatan laba bersih BTN pada semester I 2026 bukan berasal dari pelepasan pencadangan.
"Enggak ada menikmati satu rupiah pun dari CKPN sebagai laba. Murni kenaikan laba ini terjadi karena penurunan bunga dana," tegasnya.
Menurutnya, penurunan biaya bunga sebesar 15,7% yoy menjadi Rp 16,31 triliun merupakan capaian yang signifikan. Sebelumnya beban bunga dana bisa mencapai sekitar Rp 1,5 triliun hingga Rp 1,6 triliun per bulan, kini rata-rata turun menjadi sekitar Rp 1,1 triliun per bulan.
Baca Juga: OJK Cabut Izin Usaha BPRS Hasanah Mandiri Depok, LPS Siapkan Likuidasi
"Artinya ada penghematan sekitar Rp 300 miliar sampai Rp 400 miliar per bulan. Itu yang kemudian mendorong kenaikan laba," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
