kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.825   -17,00   -0,10%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Literasi LKM Capai 12,44%, tapi Inklusi Cuma 3,01%, Ini Tantangan yang Dihadapi


Senin, 17 Agustus 2026 / 18:14 WIB
Literasi LKM Capai 12,44%, tapi Inklusi Cuma 3,01%, Ini Tantangan yang Dihadapi
ILUSTRASI. LKM BKD Ponorogo Proyeksikan Bisnis LKM Masih Menantang pada 2026 (Dok/LKM BKD Ponorogo)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar 12,44%, sedangkan inklusinya 3,01%. Tingkat literasinya terbilang sudah cukup masif, tetapi inklusinya masih ketinggalan. Terlihat dari gap-nya yang masih jauh atau lebar. 

Mengenai hal itu, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Ponorogo menilai ada sejumlah tantangan yang dirasakan LKM dalam menyeimbangkan tingkat inklusi dengan literasi. Direktur Utama LKM BKD Ponorogo Mego menyebut tantangan inklusi untuk LKM salah satunya, yakni mayoritas LKM tidak memiliki modal dan infrastruktur yang cukup untuk memberikan produk dan layangan keuangan yang dibutuhkan masyarakat. 

"Selain itu, produk LKM biasanya berbiaya tinggi, karena lebih berisiko dan sulit dalam melakukan efisiensi sumber daya manusia. Sekarang, kondisinya industri LKM itu banyak sekali, tetapi omzetnya kecil-kecil, sehingga sangat tidak efisien," ungkapnya kepada Kontan, Minggu (16/8/2026).

Baca Juga: NIM BBNI Tertekan, Samuel Sekuritas: Valuasi Murah & Potensi Dividen Jadi Daya Tarik

Untuk menyeimbangkan antara literasi dan inklusi, Mego berpendapat LKM harus bisa bersaing dengan lembaga keuangan lain dalam hal pengembangan produk dan layanan.

"Menurut saya, penting mengubah pola pikir bahwa Lembaga Keuangan Mikro itu harus mikro dalam skala usaha, tetapi hanya mikro dalam produk dan layanan usaha. Intinya, LKM itu akan sangat efisien kalau skala usahanya besar," tuturnya.

Sementara itu, Mego menyampaikan salah satu penyebab utama tingkat literasi LKM lebih tinggi daripada inklusi, yakni industri LKM lebih dekat dengan masyarakat kecil, sehingga pengetahuan yang terkait tentang LKM lebih cepat terserap masyarakat. 

"Namun, hal itu tidak diimbangi dengan kemampuan modal dan sumber daya LKM untuk menyalurkan produk atau membuat layanan produk baru yang dibutuhkan konsumen," ucapnya.

Oleh karena itu, Mego menerangkan LKM BKD Ponorogo akan terus berupaya untuk memberikan ketersediaan akses dan kemudahan bagi masyarakat dalam memanfaatkan berbagai produk dan layanan.

Mengenai kinerja, Mego mengatakan LKM BKD Ponorogo mencatatkan nilai penyaluran pinjaman sebesar Rp 55,19 miliar per Juni 2026. 

Sebagai informasi, Hasil SNLIK 2026 menunjukkan, tingkat literasi keuangan nasional mencapai 69,57%, atau meningkat dari SNLIK 2025 yang sebesar 66,54%. Adapun indeks tingkat inklusi keuangan mencapai 93,61% pada SNLIK 2026, meningkat dari SNLIK 2025 yang sebesar 92,74%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×