kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Living Lab Ventures (LLV) Fokuskan Investasi di Sektor Healthcare pada Tahun Ini


Senin, 03 Agustus 2026 / 16:58 WIB
Living Lab Ventures (LLV) Fokuskan Investasi di Sektor Healthcare pada Tahun Ini
ILUSTRASI. Living Lab Ventures Hadirkan Launchpad, Gerbang Utama Bagi Para Startup Global (Dok/Sinar Mas Land)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan modal ventura dengan kategori Venture Capital Corporation (VCC) dari Sinar Mas Land, Living Lab Ventures (LLV), memprioritaskan sektor healthcare sebagai salah satu fokus utama investasi pada tahun ini. 

"Hal tersebut sejalan dengan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) BSD City, yang mana sektor kesehatan menjadi salah satu pengembangan prioritas industri," ungkap Partner Living Lab Ventures Bayu Seto kepada Kontan, Senin (3/8).

Bayu mengatakan LLV melihat peluang besar untuk mendorong inovasi kesehatan melalui kolaborasi antara start-up, korporasi, institusi riset, penyedia layanan kesehatan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Solusi yang dikembangkan diharapkan tidak hanya memperoleh pendanaan, tetapi juga dapat divalidasi, diuji, dan berpotensi diimplementasikan di dalam ekosistem BSD City.

Baca Juga: Jamkrida Kaltim Sebut Keterlibatan Investor Luar Bisa Beri Dampak Positif

Selain itu, Bayu menyebut salah satu kategori yang menjadi perhatian LLV adalah perusahaan berbasis Artificial Intelligence atau AI. Dia bilang pihaknya melihat AI sebagai teknologi horizontal yang dapat memberikan dampak di berbagai industri, mulai dari healthcare, properti, smart city, enterprise solutions, manufaktur, sustainability, hingga layanan konsumen. 

"Oleh karena itu, perusahaan AI yang memiliki teknologi yang kuat, use case yang jelas, keunggulan produk, dan potensi ekspansi regional menjadi salah satu tipe perusahaan yang aktif dicari kami," tuturnya.

Bayu menambahkan LLV juga berperan sebagai cross-border fund manager yang mengelola berbagai thematic fund dengan mandat investasi yang berbeda. Dia bilang salah satu fund terbarunya adalah Japan Thematic Fund, yang berfokus pada investasi di perusahaan tahap Series A, baik start-up yang berasal dari Asia Tenggara maupun perusahaan Jepang yang memiliki rencana ekspansi ke Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Berbeda dengan fokus healthcare, Bayu menerangkan Japan Thematic Fund bersifat sector-agnostic, sehingga dapat berinvestasi pada berbagai sektor yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, model bisnis yang kuat, dan peluang sinergi lintas negara. Melalui fund tersebut, LLV ingin berperan sebagai jembatan antara ekosistem inovasi Jepang dan Asia Tenggara, tidak hanya dari sisi permodalan, tetapi juga akses pasar, kemitraan strategis, pelanggan, dan implementasi bisnis.

Sementara itu, Living Lab Ventures mempertimbangkan beberapa aspek dalam memberikan pendanaan. Bayu menyebut aspeknya, mulai dari potensi pasar, kualitas tim pendiri, model bisnis yang berkelanjutan, kesiapan produk atau teknologi, keunggulan kompetitif, hingga kemampuan perusahaan untuk bertumbuh secara regional.

Pada tahap Series A, dia bilang pihaknya juga melihat perusahaan tersebut telah memiliki product-market fit yang cukup jelas atau tidak, pertumbuhan yang terukur, kualitas pendapatan yang baik, serta penggunaan modal yang disiplin. Selain pertumbuhan, LLV juga memperhatikan unit economics, tingkat retensi pelanggan, tata kelola perusahaan, kekuatan teknologi, intellectual property, dan jalur menuju profitabilitas.

Bagi perusahaan yang belum siap menerima investasi, Bayu menyampaikan LLV juga dapat mendukung melalui layanan advisory dan consulting. Melalui layanan itu, dia bilang perusahaan dapat melakukan market validation, membangun strategi go-to-market, bertemu dengan calon mitra dan pelanggan, menjalankan pilot project, serta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pasar Indonesia.

"Pendekatan itu memungkinkan LLV membangun hubungan dengan perusahaan secara lebih awal. Dalam sejumlah kasus, advisory dapat menjadi pintu masuk menuju kerja sama komersial, strategic partnership, maupun peluang investasi di kemudian hari," ucap Bayu.

Terkait kinerja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai pembiayaan modal ventura sebesar Rp 16,36 triliun per Mei 2026. Nilainya tumbuh tipis sebesar 0,09% secara Year on Year (YoY). Adapun nilai aset industri modal ventura per Mei 2026 sebesar Rp 27,49 triliun. Nilai itu meningkat 1,74% secara YoY. 

Baca Juga: Laba Woori Finance Indonesia (BPFI) Melonjak 87,03% pada Semester I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×