Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daya beli masyarakat secara perlahan makin menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Sayangnya, hal tersebut belum diikuti dengan kemampuan menabung dari masyarakat itu sendiri.
Kondisi ini tercermin dari beberapa data Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan adanya perubahan komposisi dari pengeluaran rumah tangga. Di mana, komposisi konsumsi meningkat dan sebaliknya komposisi tabungan menurun.
Per November 2025, komposisi konsumsi sekitar 74,57% dan untuk tabungan sekitar 14,44%. Sebagai perbandingan, pada November 2024, komposisi konsumsi sedikit lebih rendah yaitu di 74,42%, sementara untuk komposisi tabungan tercatat 15,1%.
Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Naik Menjelang Nataru, Ini Buktinya
Hal tersebut semakin dikuatkan dengan indeks transaksi belanja BCA (Intrabel) yang mencatat akselerasi signifikan pada Desember 2025.
Pada periode itu, Intrabel BCA tumbuh 9.8% YoY, lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan 3.3% YoY pada November 2025 atau 3.8%YoY pada Desember 2024.
Di sisi lain, BI mencatatkan rata-rata Dana Pihak Ketiga (DPK) rumah tangga per rekening juga turun menjadi Rp 6,02 juta pada November 2025. Padahal, pada periode sama tahun sebelumnya yang bisa mencapai Rp 6,48 juta per rekening.
Jika melihat data-data tersebut, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengungkapkan bahwa saat ini uang yang dimiliki masyarakat hanya cukup untuk belanja dan tidak diikuti kemampuan menabung. Terlebih bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Menurutnya, kondisi belanja yang sudah positif sedikit banyak didorong oleh bantuan sosial (bansos) dan subsidi dari pemerintah. Ditambah, momen akhir tahun yang juga mendorong belanja.
Baca Juga: Maximus Insurance Sebut Daya Beli Masyarakat Masih Jadi Tantangan pada Semester II
“Secara agregat, kemampuan masyarakat bawah ada kaitannya dengan ketersediaan lapangan pekerjaan,” jelas David.
Untuk saat ini, ia melihat indikator belanja yang sudah mulai pulih perlu ditambahkan. Sembari, mendorong bagaimana agar investasi bisa kembali didorong.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman pun mengungkapkan bahwa kondisi ini merupakan sinyal kewaspadaan.
Menurut dia, pertumbuhan konsumsi bisa menjaga momentum pertumbuhan jangka pendek, tetapi lemahnya tabungan meningkatkan kerentanan rumah tangga terhadap guncangan.
Dalam hal ini, Ia menjelaskan pendapatan yang diterima masyarakat memang masih cukup untuk menopang konsumsi harian. Sayangnya, sisa pendapatan setelah konsumsi semakin tipis.
Baca Juga: Hippindo Nilai Daya Beli Masyarakat Mulai Pulih Jelang Akhir Tahun 2025
“Rumah tangga mampu berbelanja, namun belum memiliki ruang yang memadai untuk melakukan akumulasi tabungan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Jika kondisi ini berlangsung lama, kata Rizal, daya tahan finansial rumah tangga bisa melemah dan berpotensi berdampak pada stabilitas sektor keuangan serta efektivitas transmisi kebijakan moneter.
Setali tiga uang, Advisor Banking & Finance Development Center Moch Amin Nurdin melihat saat ini konsumsi yang dilakukan masyarakat bukan berasal dari penarikan tabungan. Ia lebih melihat tekanan biaya hidup telah membuat porsi pendapatan lebih banyak terserap untuk konsumsi.
Baca Juga: Daya Beli Belum Pulih, Hipppindo Beberkan Tantangan di Industri Ritel
Dengan kata lain, Amin melihat konsumsi masyarakat masih kuat, hanya saja ketahanan finansial rumah tangga belum sepenuhnya pulih. Hal ini dikarenakan ruang untuk menabung masih terbatas.
“Masyarakat sudah mulai mampu belanja kembali, tetapi masih berada dalam fase pemulihan sehingga kemampuan menabung tertahan,” ujarnya.
Selanjutnya: Amanah Tuhan: Dirjen Pajak Bimo Ungkap Esensi Dana Rakyat
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (12/1) Jabodetabek, Hujan Lebat di Daerah Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













