Reporter: Ferrika Sari | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Pembangunan Daerah (BPD) berhasil menorehkan kinerja cemerlang sepanjang 2021. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit BPD, yang melampaui capaian industri.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit BPD tumbuh 7,45% yoy menjadi Rp 521,14 triliun dan aset naik 5,50% menjadi Rp 877,36 triliun pada Oktober 2021. Nilai itu melebihi pertumbuhan industri yakni sebesar 3,24% yoy.
Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menilai, pertumbuhan aset segaris dengan pertumbuhan kredit. Apabila kredit tumbuh biasanya aset juga tumbuh.
"Khusus untuk BPD, sebagian besar masih ditopang oleh kredit untuk ASN, maka tingkat pertumbuhan relatif terjaga dengan baik, meski ada beberapa kredit investasi dan modal kerja yang tumbuh di beberapa BPD," kata Amin, Senin (7/2).
Baca Juga: Meski GWM Naik, BI Sebut Likuiditas Perbankan Masih Berlebih dari Posisi Pra Pandemi
Dengan realisasi itu, Amin memperkirakan pertumbuhan kredit BPD bisa mencapai 9% - 10% tahun ini. Hal ini seiring dengan terkendalinya kasus Covid-19, dan pemulihan ekonomi, khususnya di sektor UMKM. "Selain kredit konsumtif, investasi dan modal kerja, KUR juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan kredit untuk beberapa BPD pada tahun 2022," terangnya.
Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) juga menyambut tahun 2022 dengan optimistis. Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi menargetkan, pertumbuhan kredit di level 9% - 10% yoy pada tahun ini. "Ekspansi pada BUMN dan korporasi secara selektif menjadi strategi Bank BJB untuk tetap ekspansif dengan risiko yang terukur," terangnya.
Pihaknya juga akan mengantisipasi pertumbuhan bisnis yang lebih baik dan pendapatan berbasis komisi yang lebih besar. Kemudian struktur Dana Pihak Ketiga (DPK) yang lebih murah, pengelolaan likuiditas yang optimal serta inovasi yang berkelanjutan.
Penyaluran kredit PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) juga tumbuh positif pada 2021. Tercatat kredit tumbuh 2,78% yoy menjadi Rp 52,53 Triliun, dan Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 10,80% yoy menjadi Rp 65,35 Triliun.
Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno bilang, perusahaan mampu menunjukkan pertumbuhan, kendati masih mengalami dampak pandemi virus Covid-19. Total aset Bank Jateng juga meningkat 9,76% menjadi Rp 80,17 Triliun.
Baca Juga: BTPN Rilis Reksadana Ashmore Digital Equity Sustainable Fund
Pada periode yang sama, rasio keuangan Bank Jateng juga menunjukkan kinerja yang semakin solid. Rasio dana murah (CASA) terhadap DPK meningkat dari 53,59% pada Desember 2020 menjadi 56,93%.
Bahkan Bank Jateng mampu meningkatkan pengelolaan operasional dengan semakin efisien, yang tercermin dari penurunan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) menjadi 76,42%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News