kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menanti kiprah bank digital di Indonesia


Kamis, 31 Oktober 2019 / 20:38 WIB
Menanti kiprah bank digital di Indonesia
ILUSTRASI. Pengawai PT Bank Artos Indonesia Tbk (Bank Artos) mengambil gambar grafik pergerakan saham saat pencatatan perdana saham Bank Artos di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (12/1). Sejumlah bank skala kecil telah mengumumkan niatnya untuk bertransformasi

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank skala kecil telah mengumumkan niatnya untuk bertransformasi menjadi bank digital. Langkah tersebut tak lepas dari masuknya sejumlah investor yang membawa modal besar.

PT Bank Royal Indonesia misalnya diakuisisi oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA, anggota indeks Kompas100) dengan mahar hingga Rp 1 triliun pada April 2019 lalu. Dalam paparan kinerja kuartal III-2019, Senin (28/10) Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja menyatakan rencananya untuk mentransformasikan Bank Royal sebagai bank digital.

“Bank Royal akan kita proyeksikan sebagai bank digital, saat ini kami masih merampungkan proses akuisisi. Juni 2020 akan mulai trial digital operation,” kata Jahja.

Baca Juga: Layani pengaduan investasi ilegal, SWI akan buka Warung Waspada Investasi

Dalam kesempatan yang sama, Direktur BCA Vera Eve Liem menambahkan pada Juni 2020 Bank Royal ditargetkan sudah bisa menyediakan produk, dan layannya secara digital. Misalnya pembukaan simpan dan transfer dana, pemberian kredit, hingga investasi.

Sedangkan soal arah pengembangannya, Vera bilang Bank Royal bakal punya segmen pasar yang berbeda dengan BCA dengan menargetkan segmen ritel, dan mass market.

Selain itu, operasi digital Bank Royal disebut Vera kelak juga bakal bersinergi dengan BCA. Misalnya, nasabah Bank Royal kelak bisa memanfaatkan mesin ATM milik BCA untuk penarikan dana. “Karena akan fokus di digital, kami juga tidak akan ekspansi kantor cabang, ada kantor pusat saja satu,” ungkap Vera.

Per September 2019, Bank Royal sendiri tercatat merugi Rp 3,96 miliar, padahal pada periode yang sama tahun lalu, Bank Royal masih berhasil membukukan laba bersih senilai Rp 1,87 miliar.

Baca Juga: NPL membaik, laba Bank DKI ikut terangkat di kuartal III 2019

Fungsi intermediasi perseroan pun ikut merosot. Pertumbuhan kredit perseroan negatif 25,37% (yoy) dengan nilai penyaluran kredit Rp 395,13 miliar per September 2019. penghimpunan dana pihak ketiga yang merosot 23,86% (yoy) menjadi Rp 451,14 miliar.

Selain Bank Royal, adapula PT Bank Artos Indonesia yang punya niat menjelma menjadi bank digital. Rencana tersebut mengemuka Jerry Ng, dan Patrick Walujo berencana mengakuisisi Bank Artos.

Keduanya bakal menjadi pemegang saham pengendali Bank Artos dengan mengempit 51% kepemilikan saham melalui aksi rights issue perseroan dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun.

Aksi Jerry bakal dilakukan dengan via PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia yang akan mengambil 37,65% kepemilikan saham, sedangkan Patick bakal masuk via Wealth Track Technology limited yang akan menguasai 13,35% kepemilikan saham.

Corporate Secretary Bank Artos Deddy Triyana bilang guna melancarkan transformasi menjadi bank digital, kini perseroan tengah menunggu persetujuan akuisisi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Detil rencana dan model bisnis masih disusun sembari menunggu izin dari OJK. Prinsipnya akan terjadi sinergi inovasi bisnis dari investor baru yang akan memanfaatkan platform digital,” kata Deddy kepada Kontan.co.id, Kamis (31/10).

Transformasi perseroan menjadi bank digital seiring masuknya Jerry sejatinya wajar. Jerry merupakan mantan bos PT Bank BTPN Tbk (BTPN, anggota indeks Kompas100) selama 10 tahun lebih. Saat masa kepemimpinannya pula Bank BTPN menjadi salah satu inisiator perbankan digital di tanah air dengan meluncurkan platform Jenius.

Baca Juga: Alhamdulillah, bisnis syariah Pegadaian catatkan pertumbuhan positif

Meski demikian, tak seperti Bank Royal, Deddy bilang perseroan kelak juga masih akan memiliki sejumlah produk dan layanan non digital meskipun ekspansinya bakal terbatas. Pun soal jaringan kantor yang disebut Deddy juga masih akan dikembangkan secara terbatas.

“Konsep pengembangan jaringan kantor masih dimatangkan, namun sepertinya ekspansi memang tidak akan dilakukan dengan agresif,” lanjutnya.

Dari laporan keuangan bulanan, per September 2019, Bank Artos tercatat mengalami penurunan kinerja penyaluran kredit, dengan nilai Rp 363,17 miliar dan pertumbuhan yang merosot 15,15% (yoy). Sedangkan penghimpunan DPK juga merosot 1,37% (yoy) menjadi Rp 574,99 miliar.




TERBARU

Close [X]
×