kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.941   23,00   0,13%
  • IDX 5.936   -157,61   -2,59%
  • KOMPAS100 766   -19,95   -2,54%
  • LQ45 591   -10,76   -1,79%
  • ISSI 206   -6,62   -3,11%
  • IDX30 330   -4,72   -1,41%
  • IDXHIDIV20 423   -4,31   -1,01%
  • IDX80 88   -2,12   -2,37%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,74%
  • IDXQ30 108   -1,04   -0,95%

Mencermati Beban Neraca Bank Mandiri: Kredit Beragunan Saham hingga Dana SAL


Senin, 12 Oktober 2026 / 18:47 WIB
Diperbarui Senin, 12 Oktober 2026 / 18:49 WIB
Mencermati Beban Neraca Bank Mandiri: Kredit Beragunan Saham hingga Dana SAL
ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kesehatan neraca PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menarik dicermati.

Tak cuman mengemban penugasan negara yang sarat risiko, bank pelat merah ini juga perlu menkalkulasi dampak mudarat dari aksi korporasi serta penyaluran kredit yang dieksekusi. 

Teranyar, Bank Mandiri diketahui mengucurkan kredit kepada perusahaan milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam dengan agunan saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR). 

Dalam kalkulasi Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet, rasio pinjaman terhadap nilai agunan masih sekitar 36% berdasarkan harga pasar terbaru. Maka, perlindungannya terlihat memadai. 

Baca Juga: Kredit Agunan Saham Menambah Beban Neraca Bank Mandiri

Masalahnya, saham PGUN dan JARR memiliki porsi kepemilikan publik (free float) yang rendah di bawah 15%, dengan PGUN diperdagangkan pada valuasi yang sangat tinggi.

“Kondisi ini membuat nilai agunan sensitif terhadap koreksi harga dan likuiditas pasar,” ujar Yusuf kepada Kontan, Senin (12/10/2026). 

Jika harga saham turun, lanjut Yusuf, rasio pinjaman terhadap agunan dapat meningkat dengan cepat, sementara bank tak bisa leluasa meminta tambahan jaminan selagi saham milik pengendali telah dijaminkan.

Meski eksposur penyaluran ini relatif kecil dibanding total portofolio kredit Bank Mandiri, karakteristiknya yang tak biasa tetap perlu diperhatikan. 

Portofolio kredit Bank Mandiri lainnya yang menjadi perhatian adalah pembiayaan ke Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang hingga Juni 2026 mencapai Rp 55 triliun dengan bunga 6%.

Menurut Yusuf, program ini menekan neraca Bank Mandiri melalui dua jalur, yakni keterlambatan verifikasi dan pembayaran yang dapat meningkatkan pencadangan serta imbal hasil rendah yang dapat menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Baca Juga: Ambisi Bank Mandiri Taspen Naik Kelas dan Jadi Bank Pensiunan Terbesar

Risiko tersebut bakal lebih berdampak jika porsi kredit terus meningkat. 

Di luar itu, Bank Mandiri juga berhadapan dengan kondisi likuiditas yang kering. Hingga Agustus 2026, secara bank only rasio kredit terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) bank ada di 94,37%, menjadi yang paling tinggi di antara KBMI IV. 

Bahkan, UOB Kay Hian menghitung LDR Bank Mandiri sesungguhnya bisa mencapai 101,1% tanpa dana saldo anggaran lebih (SAL) yang ditempatkan sejak September 2025 lalu.

“SAL mempercantik angka yang terlihat di permukaan,” tulis Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan dalam riset 21 September 2026. 

Posmarito menyebut Bank Mandiri telah menyetor balik Rp 19 triliun dana SAL ke pemerintah per Agustus 2026.

Dus, saat ini dana SAL yang ada di Bank Mandiri mencapai kisaran Rp 85 triliun. Sebanyak Rp 55 triliun bakal disetor balik pada Juli 2027 jika Kementerian Keuangan tak mengubah jadwal, sementara sisanya bakal ditarik secara berkala sesuai kebutuhan. 

Di luar itu, ia melihat Bank Mandiri memang banyak bergantung pada pendanaan di luar dana pihak ketiga (DPK).

Dalam kalkulasinya, bank punya total kisaran Rp 341 triliun dalam bentuk repo, pinjaman, liabilitas pada bank lain, dan obligasi. Jumlah itu setara 21% kredit bank. 

Baca Juga: Bos Bank Mandiri Borong 50.000 Saham BMRI

Meski sumber-sumber pendanaan itu memang memberi likuiditas tambahan di tengah ketatnya LDR Bank Mandiri, biaya yang dikeluarkan relatif lebih mahal dan sifatnya lebih sensitif terhadap kondisi pasar. 

Dalam kondisi likuiditas seperti ini, dalam pandangan Posmarito, akan lebih baik jika bank penerima dana SAL macam Bank Mandiri tak cuman fokus pada angka pertumbuhan tetapi juga mempertimbangkan kemampuan kredit yang disalurkan menghasilkan imbal hasil. 

Ketahanan Modal 

Posmarito memandang penting penguatan modal untuk menopang pertumbuhan kredit Bank Mandiri.

Bank Mandiri telah mengambil langkah untuk itu, yakni dengan menerbitkan obligasi perpetual sebesar US$ 750 juta berbunga 7,35% sebagai komponen modal tambahan atau Additional Tier 1 (AT1). 

Menurut Yusuf, pada dasarnya aksi korporasi Bank Mandiri itu memperkuat modal inti tambahan sekaligus menyediakan likuiditas jangka pendek.

Baca Juga: Permintaan Emas Batangan di Indonesia Naik 40%, Bank Mandiri Perluas Layanan Bulion

Masalahnya, karena diterbitkan dalam dolar Amerika Serikat (AS), lemahnya nilai tukar rupiah membawa risiko beban bunga yang lebih besar serta menambah volatilitas dalam pencatatan permodalan. 

Hanya saja, risiko ini lebih terkendali dibandingkan utang berjangka biasa karena instrumen tersebut bersifat perpetual dan pembayaran bunga dapat ditangguhkan dalam kondisi tertentu sesuai ketentuan regulator.

Untuk menjaga neraca tetap sehat, Yusuf bilang Bank Mandiri perlu menggabungkan pengelolaan risiko kredit yang lebih ketat dengan penguatan struktur pendanaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×