Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - BALI. PT Bank Mandiri Taspen tengah melakukan transformasi dari segala sisi untuk bisa tumbuh secara berkelanjutan. Bank ini membidik menjadi bank dengan aset pembiayaan pensiunan terbesar di Tanah Air pada tahun 2027 dan menargetkan naik kelas ke Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) III pada 2028.
Direktur Utama Bank Mantap, Panji Irawan, menyampaikan bahwa pihaknya kini tengah memperkuat layanan digital dan menyiapkan produk-produk baru, baik dari sisi pembiayaan, investasi, maupun simpanan, dalam mendukung kualitas hidup para nasabah pensiunan dan pra pensiunan.
Ia mengatakan, bonus demografi Indonesia akan berakhir pada 2035 sehingga jumlah masyarakat lanjut usia (lansia) akan meningkat pesat. Jika saat ini jumlahnya sekitar 35 juta atau 12,3% dari total populasi Indonesia, maka pada tahun 2030 diprediksi mencapai 50 juta dan pada 2040 menjadi 60–70 juta.
“Kondisi ini akan mengubah kebutuhan layanan keuangan, di mana lansia tidak lagi hanya membutuhkan kredit pensiun, tetapi juga berbagai layanan yang mendukung kualitas hidup setelah pensiun,” kata Panji, Jumat (3/7/2026).
Dari sisi kredit, Bank Mandiri Taspen ke depan akan menyiapkan pembiayaan untuk kebutuhan persiapan pemakaman bagi nasabah segmen High Net Worth Individual (HNWI), pembiayaan fasilitas kesehatan, pembiayaan untuk mendukung leisure atau aktivitas gaya hidup dan rekreasi, serta produk cicilan emas.
Baca Juga: Eks Pegawai Diduga Tipu Pensiunan Rp 13,3 Miliar, Bank Mandiri Taspen Buka Suara
Per Mei 2026, pembiayaan Bank Mandiri Taspen tercatat mencapai Rp 52,52 triliun, tumbuh 10,22% secara tahunan. Head of Strategic & Performance Management Department Bank Mandiri Taspen, Agus Syaiful Anwar, menyebut saat ini posisi perseroan masih di urutan kedua sebagai penguasa kredit pensiunan. Namun, diperkirakan posisinya akan naik ke urutan pertama pada tahun 2027.
Selain mengakuisisi nasabah secara organik dengan inovasi produk yang ditawarkan, Agus mengatakan pihaknya juga akan memperkuat take over nasabah secara ritel dari kompetitor serta melakukan aksi anorganik dengan akuisisi aset secara bulk sale (borongan).
Strategi itu diperlukan karena pertumbuhan nasabah pensiunan di pasar hanya mencapai 85.000. Sedangkan Bank Mandiri Taspen mengharapkan pertumbuhan nasabah setidaknya mencapai 100.000 per tahun. Per Mei 2026, jumlah nasabah pensiunan di bank ini mencapai 665.724, bertambah 43.389 dari akhir 2025.
Dari sisi akuisisi aset secara borongan, Bank Mandiri Taspen kini tengah menjajaki peluang akuisisi dengan sejumlah bank. “Tapi terkait detailnya, kami belum bisa bagikan informasinya. Namun, kami melihat peluang ini cukup menjanjikan untuk memperkuat posisi Bank Mantap,” ungkap Agus kepada KONTAN, Minggu (5/7/2026).
Ia menyebut peluang tersebut ada mengingat beberapa bank asing mulai meninggalkan bisnis pensiunan karena melihat peluang pengembangan bisnis di segmen lain. Baru-baru ini, Bank SMBC misalnya telah menjual Rp 12,39 triliun portofolio kredit pensiun ke Bank Tabungan Negara (BTN).
Di sisi lain, Bank Mandiri Taspen juga akan terus memperkuat permodalan untuk bisa memperbesar kapasitasnya dalam melayani nasabah pensiunan dan pra pensiunan. Bank ini masih berstatus sebagai KBMI 2 dengan modal inti mencapai Rp 9,3 triliun per Maret 2026.
Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Perkuat Layanan
Agus menyebut dengan performa keuangan Bank Mandiri Taspen yang cukup baik setiap tahunnya, laba ditahan untuk meningkatkan permodalan bisa terus dipupuk. Tanpa aksi korporasi, ia optimistis perseroan bisa naik kelas ke KBMI 3 pada tahun 2028.
Pada tahun 2025, Bank Mandiri Taspen berhasil meraup laba bersih sekitar Rp 1,58 triliun dan tahun depan ditargetkan akan meningkat lagi didorong oleh ekspansi bisnis yang lebih agresif. “Kalau performa kami flat saja, laba sekitar Rp 1,6 triliun di 2026, 2027, 2028, kami optimistis Bank Mandiri Taspen dapat mencapai KBMI 3 pada 2028,” ujar Agus.
Saat masuk KBMI 3, Bank Mandiri Taspen akan semakin gencar menyiapkan diversifikasi produk. Jika saat ini kredit perseroan 99% masih berasal dari kelompok pensiunan, Agus mengatakan ke depan pihaknya akan semakin fokus menyasar nasabah pra pensiunan sejak usia 40-an. Pasalnya, persiapan masa pensiun yang lebih baik memang perlu dimulai lebih dini.
Mulai Genjot CASA
Di samping ekspansi kredit, Bank Mandiri Taspen mulai menggenjot porsi dana murah (CASA) dengan memperbaiki struktur pendanaan. Sejak akhir 2025, bank secara bertahap mengurangi ketergantungan pada deposito dan memperbesar porsi tabungan serta giro.
Selama lebih dari satu dekade, Panji mengungkapkan bahwa perseroan hanya mengandalkan deposito untuk menopang ekspansi kredit yang memiliki margin tinggi. Namun, manajemen kini menilai efisiensi biaya dana menjadi kunci penguatan kinerja.
Strategi dilakukan melalui akselerasi transaksi digital, termasuk penguatan QRIS untuk mendorong tabungan serta layanan cash management guna meningkatkan saldo giro. Hasilnya, cost of fund sempat turun ke sekitar 4,02% pada Mei 2026, mendekati level terendah historis. Namun, pada Juni kembali naik akibat kenaikan BI Rate dan ketatnya kompetisi dana.
Per Mei 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp 59,53 triliun, tumbuh 15,65% secara tahunan dengan rasio CASA 26,3%. Perseroan menargetkan porsi CASA naik menjadi 30% hingga akhir tahun.
Untuk memperluas dana murah, bank juga mulai memetakan instansi pemerintah dan korporasi dengan ekosistem bisnis yang luas. Salah satunya melalui kerja sama dengan Petrokimia untuk mengidentifikasi potensi aliran dana dalam value chain yang bisa masuk ke CASA.
Baca Juga: Injak Usia 11 Tahun, Begini Strategi Bank Mandiri Taspen Dorong Pertumbuhan
Di sisi lain, segmen payroll dibatasi lebih selektif karena induk usaha, Bank Mandiri, juga bermain di bisnis serupa. Karena itu, Mandiri Taspen lebih fokus menangkap ekosistem turunan seperti yayasan dan entitas pendukung.
Sementara untuk memacu tabungan, perseroan juga tidak bisa hanya mengandalkan dana pensiunan. “Saat ini, dana pensiun yang dikelola berkisar Rp1,8 triliun–Rp1,9 triliun, sehingga perlu perluasan basis nasabah,” kata Agus.
Agus menyebut, akselerasi dana juga ditopang penguatan aplikasi Movin sebagai kanal akuisisi nasabah utama. Sejumlah fitur tengah dikembangkan, termasuk investasi emas melalui rencana kerja sama dengan PT Pegadaian (Persero) serta integrasi dengan platform crowdfunding untuk memperluas ekosistem.
Saat ini, Movin masih terbatas pada layanan dasar seperti transfer, pembayaran, pulsa, dan e-wallet. Integrasi ke layanan berbasis ekosistem seperti marketplace masih dalam tahap pengembangan.
Pada periode 2027–2030, Movin ditargetkan menjadi one-stop solution bagi nasabah pensiunan dan segmen usia 40 tahun ke atas, mencakup layanan kesehatan, travel, asuransi, wellness, hingga digital advisory.
Dari sisi infrastruktur, core banking system telah diganti sejak 2025 dan disebut setara kapasitas Bank Mandiri. Saat ini pengguna aktif Movin baru 150.000–160.000 orang, dengan target naik menjadi sekitar 300.000 pengguna atau 50% dari total nasabah tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














