Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Momentum pergantian pucuk pimpinan Kementerian Keuangan sempat menjadi sentimen positif bagi saham bank-bank berkapitalisasi pasar besar (big banks). Namun, arah pergerakan harga ke depannya masih perlu dukungan fundamental yang solid.
Asal tahu saja, pada Senin (14/9/2026), Suahasil Nazara mengambil alih posisi Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia (RI) yang tadinya diisi Purbaya Yudhi Sadewa. Tepat di hari itu, saham big banks kompak menguat di akhir perdagangan.
Rinciannya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 3,98% dibanding perdagangan sebelumnya menjadi Rp 3.400, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik harga 3,2% menjadi Rp 3.870, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1,84% menjadi Rp 4.440, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,77% menjadi Rp 6.500.
Baca Juga: Dirut BPJS Kesehatan Ungkap Penyebab Kekurangan Arus Kas Rp 2 Triliun
Namun, momentum penguatan harga tak bertahan lama. Di akhir perdagangan hari ini, Rabu (16/9/2026), harga saham big banks kembali turun. Dalam sehari, BBRI hanya naik tipis 0,3% ke posisi Rp 3.330, BBNI turun 0,53% ke harga Rp 3.730, BBCA turun 1,17% ke Rp 6.325, dan BMRI melemah 1,84% menjadi Rp 4.260.
Menurut Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama, harga big banks yang kembali turun ini semata pergerakan jangka pendek yang banyak dipengaruhi arus dana asing, nilai tukar rupiah, dan ekspektasi suku bunga global.
Kini, pasar cenderung lebih memperhatikan arah kebijakan setelah pergantian Menkeu, utamanya dari sisi keberlanjutan dan stabilitas fiskal.
Secara khusus, ia bilang, kelanjutan kebijakan likuiditas pemerintah di perbankan menjadi katalis yang perlu dicermati. Pasalnya, hal itu bisa berpengaruh ke kondisi pendanaan dan ekspansi kredit, utamanya untuk Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
“Sejauh ini belum ada pengumuman perubahan kebijakan yang cukup besar, sementara kelanjutan penempatan dana SAL sendiri masih perlu ditunggu kejelasannya,” jelas Kevin kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).
Toh, sesungguhnya pemulihan saham big banks sudah mulai terlihat sebelum ada pergantian menkeu. Sementara dari sisi fundamental, Kevin melihat pertumbuhan kredit masih cukup kuat dan diikuti kualitas aset yang secara industri masih relatif terjaga.
Baca Juga: Ini Kata OJK Soal Ketentuan Hapus Buku di LKM Dalam Rancangan Perubahan POJK 41/2024
Kevin bilang fokus pasar kemungkinan bakal kembali ke hal-hal yang lebih fundamental hingga akhir tahun. Pasar bakal menanti, apakah pertumbuhan kredit bisa terus diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba tanpa tekanan berlebihan ke margin dan biaya dana.
“Kalau arus dana asing kembali masuk dan kualitas kredit tetap terjaga, momentum recovery big banks masih cukup terbuka,” katanya.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand sepakat. Ia berpandangan, penguatan rupiah ke level Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi katalis positif nyata karena mengurangi tekanan biaya dana valas, sekaligus memperbaiki sentimen investor asing.
Menurut Abida, pertumbuhan kredit perbankan yang terus solid mengkonfirmasi permintaan pembiayaan domestik masih kuat. Kinerja big banks sepanjang semester I yang mencatat pertumbuhan laba bersih double digit juga menjadi bukti konkret bahwa fundamental sektor tetap sehat terlepas dari dinamika kebijakan fiskal jangka pendek.
Namun begitu, meski katalis dari sisi operasional bank sendiri sudah cukup kuat untuk mendukung rerating valuasi, Abida bilang kepastian arah kebijakan fiskal dari menkeu baru tetap menjadi variabel yang perlu dipantau.
Baca Juga: Skema Cicilan 50:50 Bisa Dongkrak Pembiayaan, CNAF Mengaku Belum Menerapkan
Saham big banks pilihan Abida jatuh pada BBCA, BMRI, dan BBRI dengan rekomendasi buy. Ia melihat BBCA sebagai anchor defensif dengan kualitas aset terbaik, sehingga mematok target harga Rp 8.600.
Sementara BMRI ditarget di harga Rp 6.200 dengan rasio dana murah tinggi yang dianggap mampu melindungi margin, dan BBNI ditarget di Rp 4.700 dengan pertimbangan valuasi menarik pasca koreksi.
“Ketiganya menawarkan kombinasi valuasi yang masih terdiskon dengan fundamental pertumbuhan kredit dan laba double digit yang solid sebagai basis rerating hingga akhir tahun,” kata Abida.
Kevin juga merekomendasikan buy untuk BBCA dan BMRI, masing-masing di target harga Rp 8.075 dan Rp 5.400.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














