Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana penggabungan empat perusahaan manajer investasi (MI) milik badan usaha milik negara (BUMN) dinilai akan melahirkan pemain terbesar di industri reksadana nasional.
Berdasarkan data Infovesta per 30 Juni 2026, total aset kelolaan (asset under management/AUM) PT BRI Manajemen Investasi bernilai Rp50,91 triliun, PT Mandiri Manajemen Investasi bernilai Rp45,08 triliun, PT BNI Asset Management bernilai Rp28,87 triliun , dan PT PNM Investment Management bernilai Rp7,86 triliun.
Dengan begitu, total AUM keseluruhan perusahaan tersebut mencapai Rp132,72 triliun. Nilai itu juga setara dengan sekitar 19,23% dari total AUM industri reksadana yang mencapai Rp690 triliun.
Baca Juga: BTN Serap Hampir 90% Target Capex IT pada Semester I-2026
Adapun Mandiri Manajemen Investasi dengan AUM terbesar di antara keempat perusahaan akan menjadi surviving entity.
Direktur Utama Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai aksi korporasi tersebut tidak akan memengaruhi kinerja pengelolaan investasi secara langsung.
Namun, ia mengingatkan adanya potensi dampak bagi investor yang memiliki batas investasi per pihak atau pada satu manajer investasi.
Menurutnya, investor yang sebelumnya menempatkan dana di keempat perusahaan tersebut bisa saja mendapati investasinya terkonsentrasi pada satu entitas setelah merger efektif.
"Secara kinerja tidak terpengaruh, namun bagi investor yang memiliki batasan investasi per pihak dan sebelumnya merupakan nasabah dari keempat manajer investasi tersebut bisa jadi nanti investasinya terkonsentrasi di satu entitas," jelasnya kepada Kontan, Rabu (8/7/26).
Lebih lanjut, nantinya investor juga kemungkinan akan melakukan diversifikasi ke perusahaan manajer investasi lainnya.
Di sisi lain, Wawan menilai skala aset yang lebih besar akan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan hasil merger. Selain memiliki daya tawar yang lebih kuat di industri, entitas baru juga berpotensi memperoleh efisiensi operasional yang pada akhirnya dapat memperkuat daya saing perusahaan di pasar pengelolaan investasi.
Baca Juga: OJK Ungkap Penyebab Gadai Ilegal Masih Marak di Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














