Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank KB Tbk (KB Bank) memastikan arah kepemilikan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ke depan bakal disesuaikan dengan kondisi likuiditas, perkembangan kredit, serta dinamika pasar keuangan.
Data BI mencatat, kepemilikan bank di SRBI mencapai Rp 677,89 triliun per Mei 2026, setara 69,18% total outstanding SRBI.
Komposisi ini menunjukkan dominasi perbankan yang kian masif karena pada tahun lalu kepemilikan bank hanya setara 62,03% dari total SRBI beredar.
Saat ini, SRBI dilelang dengan tawaran bunga sebesar 7,1%–8,65%.
Baca Juga: KB Bank Prediksi Bunga Kredit UMKM Naik Bertahap Usai BI Rate Tembus 5,5%
Dalam kondisi ini, Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan secara jangka pendek porsi kepemilikan SRBI bank masih berpotensi meningkat.
Ia menjelaskan, hal itu didorong oleh imbal hasil SRBI yang kompetitif sekaligus berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga likuiditas bank di tengah pertumbuhan permintaan kredit yang masih moderat.
"Proyeksi kepemilikan SRBI ke depan bersifat selektif dan adaptif. Dalam jangka pendek, kepemilikan berpotensi bertambah karena SRBI menawarkan imbal hasil yang kompetitif sekaligus membantu menjaga likuiditas," ujar Kunardy kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).
Hingga Mei 2026, kepemilikan surat berharga KB Bank mencapai Rp 20,01 triliun, naik 6,09% dari periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, kreditnya naik 3,83% secara tahunan menjadi Rp 43,52 triliun.
Meski demikian, Kunardy menjelaskan dalam jangka menengah KB Bank dapat mengurangi porsi kepemilikan SRBI apabila ekspansi kredit mulai menunjukkan penguatan.
Baca Juga: KB Bank Kucurkan Kredit Rp 720 Miliar ke MGM Bosco Logistics
Dalam kondisi tersebut, dana yang saat ini ditempatkan pada instrumen SRBI akan lebih optimal dialokasikan untuk pembiayaan sektor produktif.
Di luar itu, ia bilang pada dasarnya strategi pengelolaan SRBI tak bersifat linear atau tetap, melainkan akan menyesuaikan perkembangan kondisi ekonomi dan pasar.
Kunardy bilang ada sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah kepemilikan SRBI. Antara lain kebijakan moneter Bank Indonesia, tren suku bunga global, serta dinamika persaingan penghimpunan dana di dalam negeri.
Ia menambahkan pendekatan tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas likuiditas, profitabilitas bank, dan dukungan terhadap pertumbuhan kredit.
Baca Juga: KB Bank akan Gelar RUPST pada 25 Juni 2026
Melalui strategi tersebut, KB Bank berharap dapat tetap mengoptimalkan pengelolaan aset sekaligus menjaga ruang yang cukup untuk mendorong ekspansi pembiayaan ketika permintaan kredit mulai meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













