CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.010,47   -8,52   -0.84%
  • EMAS994.000 0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Meski fintech bertebaran, transaksi kartu kredit perbankan masih menggigit


Selasa, 04 Februari 2020 / 17:22 WIB
Meski fintech bertebaran, transaksi kartu kredit perbankan masih menggigit
ILUSTRASI. Petugas kasir melayani transaksi konsumen mealalui kartu kredit BRI di salah satu ritel di Jakarta, jumat (12/4). BI mencatat tahun lalu nilai transaksi kartu kredit mencapai Rp 342,68 triliun dengan pertumbuhan 9,03% (yoy)./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo


Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dihadang fintech dan fitur paylater tak bikin pamor kartu kredit redup. Sepanjang tahun lalu, pertumbuhan transaksi via kartu kredit masih mumpuni.

Dari catatan Bank Indonesia, tahun lalu nilai transaksi kartu kredit mencapai Rp 342,68 triliun dengan pertumbuhan 9,03% (yoy). Meskipun penggunaannya memang tercatat landai sebanyak 349,22 juta kali dengan pertumbuhan 3,21% (yoy).

Baca Juga: Sepanjang 2019, OJK terima pungutan Rp 5,99 triliun dari lembaga keuangan

Sejumlah bank besar pun mengakui transaksi kartu kreditnya masih tumbuh dengan baik. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) misalnya, tahun lalu mencatat pertumbuhan portofolio 13% (yoy) dengan pertumbuhan sales volume 11% (yoy).

“Pertumbuhan utamanya ditopang dari segmen groceries dan transaksi di e-commerce. Adapun tahun ini kami juga membidik pertumbuhan di kisaran 12%-15%,” kata Direktur Konsumer Bank CIMB Niaga Lani Darmawan kepada Kontan.co.id, Selasa (4/2).

Lani juga menambahkan, kehadiran fintech maupun fitur paylater sejauh ini memang belum mengganggu bisnis kartu kredit perbankan. Sasaran segmen yang berbeda jadi alasannya.

Baca Juga: Ini empat fokus OJK dalam mereformasi pengawasan industri keuangan non bank

“Sedikit banyak paylater memang akan jadi pesaing kartu kredit, meskipun kelihatannya sampai saat ini belum berpengaruh karena pasar penggunanya berbeda, dimana ticket size paylater lebih kecil biasanya,” jelas Lani.

Hal senada juga dikatakan Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Handayani. Ia bahkan menyatakan kredit daring sejatinya dapat dijadikan sarana mendongkrak penyaluran kredit konsumer bank.

Asal tahu, bank beraset terbesar di tanah air ini dalam beberapa waktu belakangan juga memang getol melakukan kerja sama dengan fintech misalnya menerbitkan paylater card. Pun BRI juga baru meluncurkan platform kredit daring bertajuk Ceria. Platform berbasis aplikasi yang dapat digunakan berbelanja di e-commerce dengan metode cicilan tanpa kartu kredit.

Baca Juga: OJK beri izin usaha pada modal ventura milik OCBC NISP

“Kredit digital sebenarnya tidak beririsan juga dengan produk perbankan, justru lebih melengkapi . Berdasarkan customer life cycle, kami jga bisa melakukan cross sell produk yang cocok kepada nasabah seperti KPR, KKB, termasuk kartu kredit,” jelas Handayani.

Ini terbukti dengan pertumbuhan bisnis kartu kredit BRI yang tahun lalu melejit pesat dengan pertumbuhan outstanding 25% (yoy), dan sales volume 31% (yoy).

“Tahun lalu transaksi online jadi penopang dengan pertumbuhan 115% (yoy). Adapun tahun ini kami menargetkan pertumbuhan bisnis kartu kredit kami bisa berada di atas 40%,” sambungnya.

Baca Juga: Gaet penggemar olahraga, BTN rilis kartu debit bertema Olimpiade Tokyo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×