Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil penempatan dana di platform fintech peer to peer (P2P) lending mencapai 14% hingga 18% per tahun.
Financial Planner sekaligus CEO and Founder Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan, imbal hasil yang tinggi tersebut masih terbilang menjadi pertimbangan menarik bagi lender atau investor yang ingin menaruh dananya di fintech lending.
Namun, Melvin menyampaikan, para lender atau investor juga perlu memahami soal manajemen risiko. Artinya, setiap investor harus tahu berapa risiko terbesar dari investasinya.
"Imbal hasil tersebut masih menarik, dengan catatan manajemen risiko. Contoh dalam fintech lending, investor perlu memahami risiko terbesar adalah kehilangan 100% modal atau keterlambatan pembayaran bagi hasil," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (12/3/2026).
Baca Juga: TWP90 Berpotensi Meningkat Setelah Lebaran, Ini Strategi Adapundi
Selain itu, Melvin mengatakan, investor juga perlu memastikan manajemen risiko yang dilakukan perusahaan fintech lending. Misalnya, platform tersebut mmenggunakan mekanisme asuransi kredit, tanggung renteng, atau manajemen risiko lainnya.
Oleh karena itu, Melvin mengimbau, lender atau investor perlu benar-benar memahami risiko sebelum berinvestasi di fintech lending. Dia mengatakan diversifikasi perlu dilakukan sebagai upaya manajemen risiko, baik diversifikasi di platform maupun di proyek.
"Selain itu, pelajari dengan benar manajemen risiko yang ditawarkan platform fintech lending," ucapnya.
Melvin menyebut, ada sejumlah manajemen risiko menarik yang bisa jadi pertimbangan investor dalam menaruh dana di fintech lending. Dia bilang salah satunya platform yang menerapkan sistem tanggung renteng antara peminjam atau borrower.
"Selain itu, sistem fund yang di dalamnya sudah termasuk pencadangan gagal bayar atau mirip seperti Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) di perbankan," kata Melvin.
Baca Juga: Ciputra Life Terapkan Sejumlah Strategi Dorong Kinerja Asuransi Kesehatan Tahun Ini
Senada, Ketua Umum AFPI Entjik Djafar menilai menaruh dana di platform fintech lending masih menarik. Meski memberikan imbal hasil yang tinggi, AFPI mengimbau agar lender dalam menginvestasikan dana perlu melakukan secara bijak dan harus paham bahwa transaksi di fintech lending berisiko tinggi.
"Selain itu, lender juga harus paham dan yakin tentang risiko borrower yang dibiayai," kata Entjik kepada Kontan, Kamis (12/3).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













