Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat internasional Moody's Ratings menaikkan peringkat simpanan jangka panjang PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dari Baa1 menjadi A3. Namun, Moody's sekaligus mengubah prospek peringkat atau outlook Bank Danamon dari stabil menjadi negatif, mengikuti prospek peringkat utang pemerintah Indonesia.
Dalam pengumuman pada Jumat (9/10/2026), Moody's juga menaikkan Baseline Credit Assessment (BCA) Bank Danamon dari baa3 menjadi baa2 dan Adjusted Baseline Credit Assessment dari baa1 menjadi a3.
Peningkatan peringkat tersebut didorong oleh perbaikan profitabilitas dan kuatnya permodalan Bank Danamon. Moody's memperkirakan kedua faktor tersebut dapat dipertahankan dalam 12–18 bulan ke depan sehingga mampu mengimbangi kualitas aset perseroan yang masih menghadapi risiko, meskipun menunjukkan perbaikan.
Baca Juga: AIA Perkuat Kemitraan dengan BCA, Bidik Pertumbuhan Bisnis di Kanal Bancassurance
Di sisi lain, Moody's mempertahankan peringkat risiko pihak lawan atau Counterparty Risk Ratings jangka panjang dan pendek dalam mata uang lokal maupun asing pada A3/P-2. Peringkat penilaian risiko pihak lawan atau Counterparty Risk Assessments juga dipertahankan pada A3(cr)/P-2(cr), sedangkan peringkat simpanan jangka pendek dalam mata uang lokal dan asing tetap P-2.
Moody's menjelaskan, perubahan outlook menjadi negatif berkaitan dengan prospek negatif peringkat utang pemerintah Indonesia yang berada di level Baa2. Berdasarkan metodologi Moody's, peringkat Bank Danamon dibatasi maksimal dua tingkat di atas peringkat pemerintah Indonesia.
Meski demikian, peringkat simpanan jangka panjang Bank Danamon di level A3 masih mencerminkan dukungan yang sangat kuat dari pemegang saham pengendali, MUFG Bank Ltd. Moody's menilai Bank Danamon merupakan anak usaha penting MUFG di Asia Tenggara karena kegiatan bisnis keduanya terintegrasi erat.
Kualitas kredit membaik
Moody's mencatat, rasio kredit bermasalah tahap 3 atau stage 3 loans Bank Danamon membaik menjadi 3,4% per Juni 2026, dibandingkan 4,6% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Biaya kredit bersih atau net credit costs juga turun menjadi 2,3% dari sebelumnya 2,8%.
Namun, biaya kredit Bank Danamon masih lebih tinggi dibandingkan bank-bank lain di Indonesia yang memiliki peringkat dari Moody's. Hal ini terutama disebabkan tingginya biaya kredit pada anak usaha pembiayaan konsumen, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF).
Baca Juga: Beda dengan Repo, Gadai Saham JARR & PGUN Tak Bikin Bank Otomatis Jadi Pemegang Saham
Bersama Home Credit Indonesia, Adira menyumbang 89% dari total provisi kredit konsolidasi Bank Danamon pada semester I-2026. Moody's memperkirakan rasio kredit bermasalah tahap 3 berpotensi kembali meningkat secara moderat dari posisi saat ini akibat tekanan yang masih dihadapi debitur ritel.
Dari sisi profitabilitas, tingkat pengembalian atas aset berwujud atau return on tangible assets (ROTA) Bank Danamon meningkat menjadi 1,9% pada semester I-2026, dibandingkan 1,3% pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan ini ditopang oleh penurunan biaya kredit, seiring proses pembenahan portofolio pinjaman di Adira.
Ke depan, Moody's memperkirakan ROTA Bank Danamon relatif stabil pada kisaran 1,7%–1,8%, sejalan dengan stabilisasi biaya kredit. Namun, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) diperkirakan sedikit menyempit akibat tingginya biaya pendanaan.
Permodalan kuat
Permodalan menjadi salah satu kekuatan utama Bank Danamon. Per Juni 2026, rasio modal inti berwujud terhadap aset tertimbang menurut risiko atau tangible common equity to risk-weighted assets (TCE/RWA) mencapai 22,6%. Rasio tersebut termasuk salah satu yang tertinggi di antara bank-bank Indonesia yang diperingkat Moody's.
Meski demikian, basis simpanan Bank Danamon masih relatif kecil dibandingkan bank sejenis. Porsi dana murah berupa giro dan tabungan atau current account and savings account (CASA) turun menjadi 39% dari total simpanan per Juni 2026, dibandingkan 43% pada tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, rasio pendanaan yang kurang stabil terhadap aset perbankan berwujud tercatat sebesar 22,4%. Moody's menilai likuiditas Bank Danamon masih lebih lemah dibandingkan bank-bank sejenis karena konsolidasi anak usaha pembiayaan konsumen yang memiliki likuiditas di neraca relatif terbatas.
Risiko likuiditas tersebut sebagian diimbangi oleh kepemilikan aset likuid berkualitas tinggi atau high-quality liquid assets (HQLA) yang mencapai 14,2% dari aset perbankan berwujud per Juni 2026. Selain itu, Adira memiliki profil jatuh tempo aset dan liabilitas yang relatif seimbang.
Baca Juga: Askrindo Gandeng Kadin Jakarta Utara untuk Perluas Layanan Penjaminan
Integrasi dengan MUFG
Kenaikan peringkat Bank Danamon juga memperhitungkan potensi manfaat dari rencana integrasi dengan MUFG Bank Cabang Jakarta. Integrasi tersebut diperkirakan selesai pada 2027, dengan tetap bergantung pada persetujuan regulator.
Menurut Moody's, entitas gabungan berpotensi memperoleh manfaat dari kualitas aset dan profitabilitas yang lebih kuat, didukung tambahan portofolio kredit korporasi berkualitas lebih tinggi milik MUFG Bank Cabang Jakarta.
Namun, Moody's mengingatkan bahwa proses integrasi yang mengalihkan aset MUFG Bank Cabang Jakarta ke Bank Danamon tanpa disertai pengalihan modal inti yang memadai dapat berdampak negatif terhadap peringkat dan penilaian kredit dasar Bank Danamon.
Moody's juga menilai peluang kenaikan peringkat lebih lanjut dalam waktu dekat relatif terbatas. Peringkat Bank Danamon berada dalam prospek negatif dan dibatasi maksimal dua tingkat di atas peringkat pemerintah Indonesia. Sementara itu, BCA Bank Danamon telah berada pada level yang sama dengan peringkat pemerintah sehingga tidak memiliki ruang kenaikan kecuali peringkat utang pemerintah Indonesia turut meningkat.
Sebaliknya, peringkat Bank Danamon berpotensi diturunkan apabila rasio kredit bermasalah tahap 3 melampaui 5% dan menyebabkan rasio TCE/RWA turun di bawah 18%. Penurunan signifikan aset likuid berkualitas tinggi, melemahnya kemampuan atau kemauan MUFG Bank untuk memberikan dukungan, serta penurunan peringkat utang pemerintah Indonesia dari Baa2 menjadi Baa3 juga dapat menekan peringkat Bank Danamon.
Sebagai informasi, Bank Danamon berkantor pusat di Indonesia dengan total aset konsolidasi sebesar Rp 301,3 triliun per 30 Juni 2026.
Baca Juga: ASEI: Pertumbuhan Kredit Properti Berpotensi Dorong Pemulihan Premi Asuransi Properti
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














