Reporter: Ahmad Febrian, Lydia Tesaloni | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Akhirnya PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mengumumkan niat integrasi dengan MUFG Cabang Indonesia melalui keterbukaan informasi, Senin (11/5) sore, setelah penutupan perdagangan saham
Aksi korporasi ini menjadi perhatian pasar karena melibatkan dua entitas penting dalam ekosistem Mitsubishi UFJ Financial Group atau MUFG di Indonesia. Transaksi ini lebih tepat disebut integrasi, bukan merger.
Penggunaan istilah integrasi itu penting, mengingat MUFG di Indonesia masih berstatus Kantor Cabang Bank Asing atau KCBLN. Artinya, MUFG Cabang Indonesia bukan bank berbadan hukum Indonesia yang berdiri sendiri seperti Bank Danamon.
Dengan status tersebut, prosesnya bukan penggabungan dua perseroan terbatas bank lokal. Polanya lebih dekat dengan integrasi kegiatan usaha, aset, liabilitas tertentu, jaringan nasabah, dan fungsi operasional MUFG Cabang Indonesia ke dalam platform BDMN.
Aksi korporasi serupa pernah terjadi saat PT Bank Permata Tbk melakukan integrasi dengan Bangkok Bank Public Company Limited Cabang Jakarta, Cabang Pembantu Surabaya, dan Cabang Pembantu Medan.
Dalam kasus PermataBank-Bangkok Bank, integrasi melalui pengalihan aset dengan kualitas baik dan liabilitas tertentu dari Bangkok Bank Indonesia kepada PermataBank. Setelah integrasi efektif, PermataBank menjadi bank hasil integrasi, sementara izin usaha Bangkok Bank Indonesia dicabut.
Aksi integerasi ini berbeda dengan merger. Aksi merger terjadi sesama perseroan terbatas berbadan hukum Indonesia. Contoh merger adalah PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia pada Februari 2019. Selanjutnya menjadi PT Bank BTPN Tbk (Bank BTPN) sebelum berubah menjadi PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia).
Perbedaan aksi korporasi berupa integrasi, merger, peleburan, pengambilalihan dan konversi termaktub dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 41 tahun 2019.
Head of Research MNC Sekuritas Victoria Venny menilai rencana integrasi ini bukan kejutan besar bagi pelaku pasar. Menurutnya, arah konsolidasi BDMN dan MUFG Cabang Indonesia sudah diprediksi sejak MUFG mengakuisisi BDMN.
“Pasar sebenarnya sudah lama membaca, pada akhirnya MUFG akan menjadikan BDMN sebagai platform utama di Indonesia. Yang tidak diketahui pelaku pasar hanya timing-nya. Jadi, kalau pengumuman ini keluar, surprise bukan pada arah strateginya, tetapi pada kapan eksekusinya,” ujar Venny, dalam keterangannya, Senin (11/5).
Baca Juga: Saham Melejit, Bank Danamon Bersiap Gabung dengan MUFG Indonesia
Ia menilai, integrasi ini dapat memperkuat posisi BDMN di segmen korporasi, wholesale banking, trade finance, treasury, dan nasabah Jepang. Selain itu, BDMN berpotensi memperoleh akses lebih besar ke jaringan global MUFG.
Menurutnya, integrasi tersebut dapat mengubah persepsi pasar terhadap BDMN. Selama ini BDMN dipandang sebagai bank menengah besar dengan kekuatan di ritel, UKM, otomotif dan enterprise banking. Setelah integrasi, BDMN berpotensi dipersepsikan sebagai bank lokal dengan dukungan franchise wholesale global yang lebih kuat.
Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025, BDMN secara konsolidasian memiliki total aset Rp275,71 triliun. Pada periode yang sama, MUFG Cabang Indonesia memiliki total aset Rp 201,65 triliun. Jika dijumlahkan secara sederhana, total aset gabungan keduanya berpotensi mencapai Rp 477,36 triliun.
Dari sisi ekuitas, BDMN mencatatkan total ekuitas Rp 54,27 triliun. MUFG Cabang Indonesia mencatat ekuitas Rp 44,05 triliun. Secara proforma sederhana, ekuitas gabungan dapat mencapai Rp 98,32 triliun.
Pada sisi intermediasi, kredit BDMN tercatat sebesar Rp 159,29 triliun. MUFG Cabang Indonesia memiliki kredit Rp106,46 triliun. Dengan demikian, kredit gabungan secara sederhana dapat mencapai Rp 265,75 triliun.
Jika memasukkan pembiayaan syariah BDMN sebesar Rp 14,47 triliun dan piutang pembiayaan konsumen Rp 33,9 triliun, total eksposur pembiayaan gabungan dapat mencapai sekitar Rp 314,12 triliun. Angka ini menggambarkan skala pembiayaan yang jauh lebih besar setelah integrasi.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga sederhana BDMN yang terdiri dari giro, tabungan, dan deposito mencapai Rp 174,18 triliun. MUFG Cabang Indonesia memiliki giro dan deposito sekitar Rp 52,37 triliun. Jika digabung, total DPK sederhana mencapai Rp226,55 triliun.
Kinerja laba juga menjadi sorotan. BDMN membukukan laba bersih konsolidasian Rp 4,19 triliun pada 2025, dengan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,97 triliun. Sementara itu, MUFG Cabang Indonesia mencatat laba bersih Rp 6,93 triliun.
Jika kedua angka laba bersih dijumlahkan secara sederhana, laba gabungan dapat mencapai Rp 11,13 triliun. Adapun laba bersih gabungan dengan menggunakan basis laba atribusi pemilik BDMN mencapai sekitar Rp 10,9 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













