Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Moody’s Ratings memberikan peringkat Ba3(hyb) untuk instrumen surat berharga Additional Tier 1 (AT1) berdenominasi dolar AS milik PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).
Dilansir dari laman resminya, Moody’s menyebutkan bahwa peringkat tersebut berada tiga tingkat di bawah baseline credit assessment BNI di level baa3.
“Peringkat Ba3(hyb) ini mencerminkan risiko penghentian kupon yang bersifat non-kumulatif serta potensi penurunan nilai pokok pada saat kondisi non-viability,” tulis Moody’s, Selasa (14/4/2026).
Moody’s juga menegaskan bahwa instrumen AT1 ini memang dirancang sebagai instrumen penyerap kerugian (loss-absorbing), sehingga lembaga ini tak memperhitungkan dukungan pemerintah dalam penilaian kreditnya.
Baca Juga: Bank Negara Indonesia (BNI) Tanggapi Pemangkasan Outlook Moody’s Jadi Negatif
Selain itu, kupon dari instrumen ini dapat dibatalkan sewaktu-waktu, baik atas diskresi bank maupun secara wajib tergantung pada ketersediaan laba ditahan, ketentuan modal, serta kebijakan regulator.
Tak hanya itu, nilai pokok instrumen juga berpotensi dihapus sebagian atau seluruhnya apabila rasio modal inti utama (CET1) BNI turun ke atau di bawah 5,125%, atau jika regulator menilai bank berada dalam kondisi tak layak operasi (non-viable).
Moody’s menambahkan, profil kredit BNI tetap dipengaruhi kondisi makro, termasuk potensi dampak dari konflik di Timur Tengah yang dapat menekan pasar energi dan stabilitas keuangan global.
Baca Juga: Industri Bank Pastikan Fundamental Tetap Solid di Tengah Perubahan Outlook Moody's
“Profil kredit BNI, seperti lembaga keuangan lain di Indonesia, berpotensi terpengaruh oleh transmisi risiko kondisi makro finansial,” jelas Moody’s.
Ke depan, peringkat instrumen AT1 ini akan bergerak sejalan dengan baseline credit assessment BNI. Moody’s membuka peluang kenaikan peringkat apabila kualitas aset membaik, terutama ditandai penurunan kredit restrukturisasi dan kredit bermasalah.
Sebaliknya, penurunan peringkat dapat terjadi jika kualitas aset memburuk secara signifikan atau tingkat permodalan menurun, misalnya jika rasio tangible common equity terhadap risk-weighted assets turun di bawah 11%.
Baca Juga: Menakar Dampak Sentimen Moody's Terhadap Pendanaan Perbankan di Tanah Air
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













