Reporter: Ade Priyatin | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemangkasan outlook perbankan oleh Moody's dinilai hanya bersifat sementara dan tidak mengganggu pendanaan perbankan.
Fixed Income Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Ahmad Nasrudin memandang perbankan akan tetap aktif menerbitkan obligasi.
"Saya memandang minat perbankan untuk menerbitkan obligasi akan tetap terjaga meski terdapat tekanan jangka pendek pada pembiayaan." ujarnya kepada Kontan, Selasa (10/2/26).
Menurutnya, kenaikan tingkat imbal hasil (yield) saat ini bersifat temporer tidak akan menyurutkan minat emiten secara drastis sebab ada dorongan kebutuhan likuiditas untuk memenuhi kewajiban utang yang akan datang dan tetap menjadi prioritas strategi bagi sektor perbankan.
Baca Juga: Lawatan ke Australia Rampung, Prabowo Kembali Ke Tanah Air
Dari sisi struktural, Ahmad melihat perbankan menghadapi angka jatuh tempo surat utang yang cukup besar sehingga mendorong kebutuhan pendanaan jangka panjang.
Di sisi lain, sentimen moneter domestik saat ini masih dipengaruhi oleh inflasi yang per Januari 2026 tercatat sebesar 3,55% YoY.
Namun, kepercayaan investor terhadap pasar obligasi domestik dinilai masih solid. Hal ini tercermin dari arus modal asing yang masih masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Berdasarkan data Bloomberg, kepemilikan asing di SBN meningkat dari Rp 878,55 triliun pada 29 Januari 2026 menjadi Rp 890,36 triliun per 6 Februari 2026.
Kondisi ini memberikan ruang bagi perbankan untuk tetap memanfaatkan pasar surat utang sebagai sumber pendanaan alternatif.
Oleh karenanya, ia berharap perbankan bisa aktif memanfaatkan peluang pasar, terutama jika terdapat indikasi penurunan yield ke depan.
"Saya berharap perbankan akan tetap aktif dalam memanfaatkan jendela pasar yang ada," ujarnya.
Adapun terkait kenaikan kupon obligasi bank, ia melihat ada potensi penyesuaian kenaikan sebagai respons atas meningkatnya risiko inflasi dan pengetatan kebijakan moneter jangka pendek.
Kondisi ini tecermin dari pricing obligasi yang relatif tinggi, seiring naiknya yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang pada 10 Februari 2026 mencapai 6,454% dari sebelumnya 6,046% di awal Januari.
Baca Juga: 30 Ucapan Hari Bela Negara 2025 Penuh Semangat Cinta Tanah Air
Begitu juga dengan besaran kenaikan yang dinilai memiliki fluktuasi cukup dinamis dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagai informasi, terdapat kenaikan yield dari awal Januari hingga Februari 2026 mencapai 40 basis poin yang dipicu oleh data inflasi per Januari 2026.
Kendati demikian, perkembangan kupon obligasi juga cenderung dipengaruhi oleh yield obligasi pemerintah ke depannya. Apabila ada sentimen positif, yield obligasi pemerintah bisa turun sehingga kupon obligasi perbankan juga akan ikut turun.
Lebih lanjut lagi, perkiraan untuk tenor tiga tahun kupon obligasi perbankan pada tahun ini tidak akan berbeda jauh dibandingkan dengan rata-rata tahun 2025.
Berdasarkan data Pefindo, rata-rata kupon obligasi bank tenor tiga tahun pada 2025 tercatat sebesar 8,63% untuk rating A, 6,43% untuk rating AA, dan 6,36% untuk rating AAA.
Baca Juga: Usai Lawatan ke Beberapa Negara, Prabowo Tiba di Tanah Air, Sabtu (27/9)
Selain itu, meski biaya kupon meningkat, kebutuhan refinancing kemungkinan masih akan tetap tinggi sehingga bisa mendongkrak penerbitan terutama pada semester kedua.
Berdasarkan data KSEI, total surat utang perbankan yang jatuh tempo pada tahun ini mencapai Rp 19,081 triliun. Ia mencermati konsentrasi jatuh tempo terbesar pada pada kuartal III dengan perkiraan Rp 9,888 triliun dan kuartal IV mencapai Rp 5,748 triliun.
Kondisi ini diprediksi akan memacu aktivitas penerbitan baru di bulan-bulan terdekat dengan kuartal tersebut.
Selanjutnya: 12 Manfaat Minum Air Hangat Setiap Pagi bagi Kesehatan Tubuh
Menarik Dibaca: 12 Manfaat Minum Air Hangat Setiap Pagi bagi Kesehatan Tubuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













