kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 16.902   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.302   195,28   2,75%
  • KOMPAS100 1.013   35,14   3,59%
  • LQ45 746   24,04   3,33%
  • ISSI 258   9,10   3,66%
  • IDX30 407   13,79   3,51%
  • IDXHIDIV20 510   21,50   4,40%
  • IDX80 114   3,88   3,53%
  • IDXV30 138   3,76   2,79%
  • IDXQ30 133   5,61   4,40%

OJK: Fundamental Perbankan Tetap Kuat Meski Outlook Global Negatif


Rabu, 25 Maret 2026 / 17:07 WIB
OJK: Fundamental Perbankan Tetap Kuat Meski Outlook Global Negatif
ILUSTRASI. Lembaga pemeringkat pangkas outlook, tapi OJK tegas bank nasional tetap solid. Simak data kredit dan DPK yang tumbuh positif! (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan fundamental industri perbankan nasional tetap solid meski sejumlah lembaga pemeringkat global merevisi outlook bank-bank besar Indonesia menjadi negatif.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menegaskan bahwa perubahan outlook tersebut tidak mencerminkan penurunan kinerja sektor perbankan. Menurutnya, revisi lebih dipengaruhi oleh perubahan outlook sovereign Indonesia.

“Revisi outlook lebih dipicu perubahan outlook peringkat kredit sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif, yang turut memengaruhi persepsi risiko terhadap sektor perbankan,” ujar Dian dalam keterangan resmi, Rabu (25/3/2026).

Ia menjelaskan, secara umum peringkat institusi keuangan di suatu negara memang cenderung mengikuti atau berada di bawah peringkat sovereign, sehingga perubahan pada level negara akan berdampak pada sektor perbankan.

Kinerja Perbankan Tetap Tumbuh Positif

Di tengah sentimen global tersebut, industri perbankan Indonesia justru masih menunjukkan kinerja yang resilien. Hingga Januari 2026, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,96% secara tahunan (year on year/yoy), sejalan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 13,48% yoy.

Baca Juga: Mahmakah Agung Resmi Angkat 7 Pejabat OJK 2026–2031

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap terkendali di level 2,14%. Sementara itu, permodalan industri perbankan juga terjaga kuat, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 25,87%.

Likuiditas perbankan nasional berada pada level yang sangat memadai. Hal ini tercermin dari rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) sebesar 121,23%, AL terhadap DPK sebesar 27,54%, serta liquidity coverage ratio (LCR) yang mencapai 197,92%, jauh di atas ketentuan minimum.

Bank Besar Catat Pertumbuhan Double Digit

Secara lebih rinci, kelompok bank besar seperti KBMI 4 dan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menunjukkan performa yang kuat. Kredit pada kelompok KBMI 4 tumbuh 13,34% yoy, sementara Himbara mencatat pertumbuhan 13,43% yoy.

Di sisi pendanaan, DPK kedua kelompok ini juga meningkat signifikan, masing-masing sebesar 16,32% dan 16,38% yoy.

“Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat tetap kuat dan kondisi likuiditas berada pada level yang sangat terjaga,” jelas Dian.

Dari sisi permodalan, CAR Himbara tercatat sebesar 20,32%, sedangkan KBMI 4 mencapai 22,33%. Kondisi ini dinilai memberikan ruang ekspansi yang luas sekaligus bantalan yang kuat terhadap potensi risiko.

Kualitas Aset dan Risiko Tetap Terkendali

OJK juga menilai kualitas aset perbankan tetap terjaga dengan baik. Rasio NPL gross berada di kisaran kurang dari 1% hingga 3%, sementara loan at risk (LaR) tetap terkendali dan didukung oleh pencadangan yang memadai.

Baca Juga: Securities Crowdfunding Urun-RI Salurkan Pendanaan Rp 2,1 Miliar pada Kuartal I-2026

Di tengah ketidakpastian global, revisi outlook oleh lembaga pemeringkat dinilai tidak serta-merta mengganggu kemampuan bank dalam mengakses pendanaan. Saat ini, peringkat kredit bank-bank besar Indonesia masih berada pada level investment grade.

Selain itu, struktur pendanaan perbankan nasional yang didominasi oleh dana domestik membuat ketergantungan terhadap pendanaan eksternal relatif rendah, sehingga lebih tahan terhadap gejolak global.

Outlook Berpotensi Membaik

“OJK memandang penyesuaian outlook ini bersifat sementara dan berpotensi kembali membaik seiring penguatan prospek ekonomi global dan domestik,” kata Dian.

Ke depan, OJK bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus menjaga stabilitas sektor keuangan melalui penguatan koordinasi kebijakan serta pengawasan perbankan yang berkelanjutan.

Dengan fundamental yang tetap kuat, industri perbankan Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk tumbuh sekaligus menjaga stabilitas di tengah dinamika ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×