kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

Penyaluran KUR Tembus Rp169 Triliun, Bank Dorong UMKM Naik Kelas


Jumat, 14 Agustus 2026 / 05:27 WIB
Penyaluran KUR Tembus Rp169 Triliun, Bank Dorong UMKM Naik Kelas
ILUSTRASI. Volume masyarakat miliki rekening bank (ANTARA FOTO/Yudi Manar)


Reporter: Aura Putri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus digenjot perbankan, tetapi peningkatan nilai pembiayaan bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Bank juga mulai menempatkan kemampuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk naik kelas sebagai indikator penting.

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat realisasi penyaluran KUR mencapai Rp169 triliun hingga 22 Juli 2026. Angka tersebut setara 58,2% dari target penyaluran KUR tahun ini.

Pembiayaan itu telah menjangkau 2,65 juta debitur UMKM. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,1 juta merupakan debitur baru yang pertama kali mengakses pembiayaan formal. Sementara itu, sebanyak 511.000 pelaku UMKM telah tercatat naik kelas.

Baca Juga: LPPOM Dorong UMKM Naik Kelas, Perkuat Rantai Pasok Halal dari Hulu ke Hilir

Deputi Bidang Kewirausahaan sekaligus Juru Bicara Kementerian UMKM Riza Damanik mengatakan, kualitas aset KUR masih terjaga dengan baik. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) KUR berada di kisaran 2%.

"Melalui subsidi APBN, bunga KUR hanya sebesar 6%," kata Riza, belum lama ini.

Tingkat bunga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan bunga kredit komersial yang saat ini berkisar 10%-14% atau bahkan lebih.

Di tingkat bank, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menjadi salah satu penyalur terbesar. Hingga paruh pertama 2026, BRI telah menyalurkan KUR Rp103,81 triliun kepada sekitar 2 juta debitur.

Penyaluran KUR BRI terutama diarahkan ke sektor produktif. Sekitar 42,68% pembiayaan mengalir ke sektor pertanian, sedangkan 32,34% disalurkan ke sektor perdagangan.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, KUR menjadi instrumen strategis untuk memperkuat daya saing UMKM sekaligus mendorong pembiayaan ke sektor produktif, khususnya pertanian.

Baca Juga: Pelatihan UMKM Bangkit, Ini Cara UMKM Naik Kelas di Era Digital

Langkah tersebut diharapkan meningkatkan produktivitas, memperkuat ekonomi daerah, dan mendukung ketahanan pangan nasional.

Tak hanya mengejar penyaluran, BRI juga mencatat perkembangan dari sisi skala usaha. Hingga Juni 2026, sebanyak 487.000 debitur KUR BRI telah berhasil naik kelas atau graduasi.

Jumlah itu mencapai 50,71% dari target graduasi BRI tahun ini sebanyak 962.000 debitur.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk telah merealisasikan KUR Rp25,63 triliun sepanjang Januari-Juli 2026. Realisasi tersebut setara 62,5% dari kuota KUR yang diperoleh perseroan tahun ini.

Senior Vice President Micro Development and Agent Banking Bank Mandiri Bayu Trisno Arief Setiawan mengatakan, penyaluran KUR tidak hanya berorientasi pada besarnya pembiayaan, tetapi juga pada kemampuan UMKM mengembangkan usaha dan meningkatkan skala bisnis.

"Bagi kami, keberhasilan UMKM naik kelas menjadi indikator bahwa pemberdayaan yang dilakukan memberikan dampak berkelanjutan bagi perekonomian nasional," ujar Bayu.

Sepanjang tujuh bulan pertama 2026, sebanyak 56.043 debitur KUR Bank Mandiri berhasil naik kelas atau beralih ke skema pembiayaan komersial yang lebih tinggi. Pada periode yang sama, Bank Mandiri menjangkau 134.682 debitur baru.

Baca Juga: Kemenko PM Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Program Perintis Berdaya Connect

Namun, laju penyaluran KUR belum merata di seluruh daerah. Bank Pembangunan Daerah Yogyakarta (BPD DIY), misalnya, baru menyalurkan KUR Rp456 miliar sepanjang semester I-2026 atau sekitar 38% dari kuota Rp1,2 triliun. Realisasi tersebut turun 30,7% secara tahunan.

Direktur Pemasaran Bank BPD DIY R. Agus Trimurjanto mengatakan, penyaluran KUR belum optimal akibat kondisi ekonomi yang kurang mendukung dan minimnya pertumbuhan usaha baru. Pada saat yang sama, NPL KUR meningkat menjadi 3,5% dari 2,94% pada periode yang sama tahun lalu.

Untuk memperbaiki penyaluran, BPD DIY memperkuat sumber daya manusia, memperluas penetrasi ke sektor UMKM, serta mengoptimalkan supply chain dan referral nasabah.

Bank juga memperluas kerja sama dengan pemerintah, komunitas bisnis, dan kelompok UMKM.

Di sisi lain, Bank BPD Bali mencatat penyaluran KUR Rp1,17 triliun hingga Juni 2026. Nilai tersebut setara 64,55% dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp1,8 triliun.

Baca Juga: Ambisi Bank Mandiri Taspen Naik Kelas dan Jadi Bank Pensiunan Terbesar

Sebanyak 73,31% penyaluran KUR BPD Bali menyasar debitur baru. Pembiayaan tersebut difokuskan pada sektor prioritas seperti pertanian, kelautan, dan industri perajin untuk mendukung kemandirian ekonomi lokal.

Dengan demikian, penyaluran KUR tahun ini tak hanya menunjukkan seberapa besar pembiayaan subsidi pemerintah terserap, tetapi juga mulai diarahkan untuk memastikan penerima kredit mampu mengembangkan usaha dan beralih ke pembiayaan komersial secara berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×