Reporter: Ferry Saputra | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyelenggara dana pensiun (dapen) mulai menjajal instrumen Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas.
Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Syariah Muamalat misalnya, menjadi investor pertama pada instrumen investasi ETF berbasis emas, yaitu Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD), yang diterbitkan PT Indo Premier Investment Management.
Mengenai hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut investasi di ETF emas pada prinsipnya sudah dapat dilakukan oleh Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) maupun Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan instrumen ETF emas dapat menjadi salah satu alternatif diversifikasi investasi dana pensiun.
"Namun, keputusan penempatannya tetap harus mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, dan kepentingan peserta," ujarnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Bank Jago Tutup 1,6 Juta Rekening Tak Aktif di Kuartal II 2026
Oleh karena itu, Ogi menyampaikan OJK akan terus mengevaluasi perkembangan instrumen investasi dan kebutuhan pengaturan sejalan.
Sebelumnya, Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Iwan Pasila mengatakan ETF emas memang menjadi salah satu instrumen yang sangat ditunggu-tunggu penyelenggara dana pensiun.
Ia berharap adanya instrumen ETF emas nantinya dapat menjadi alternatif investasi bagi industri dana pensiun di tengah tren pasar saham yang volatil.
"Kalau lihat pergerakan di saham itu kadang countercyclical. Jadi, kalau sahamnya turun, kadang-kadang emasnya naik. Kami berharap dana pensiun baik Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, Asabri, Taspen, dan dana pensiun itu bisa memanfaatkan ETF emas untuk memitigasi dampak fluktuasi di saham. Jadi, sangat ditunggu," ungkapnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (6/9/2026).
Iwan menjelaskan instrumen emas juga memiliki ekosistem yang cenderung matang karena sudah diatur dan sudah ada penyimpanan fisiknya. Selain itu, emas juga memiliki pasar sendiri yang memang harganya sudah bisa dilihat.
"Harganya sudah ditata, ada pasarnya. Jadi, sangat bagus," ucapnya.
Iwan berharap makin banyak dana pensiun yang menempatkan investasi di instrumen ETF emas ke depannya. Dengan demikian, dana pensiun bisa memenuhi kewajiban jangka panjang kepada para nasabah.
Baca Juga: Perluas Pasar, BTN Bidik Porsi Kredit Non-Perumahan Capai 30% pada 2030
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














