kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.324.000 1,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Paylater Dinilai Berpotensi Gerus Bisnis Kartu Kredit, Begini Kata Kredivo


Selasa, 15 Agustus 2023 / 17:40 WIB
Paylater Dinilai Berpotensi Gerus Bisnis Kartu Kredit, Begini Kata Kredivo
ILUSTRASI. Pejalan kaki melintas dekat iklan program jasa keuangan Pay Later Kredivo di sebuah pusat belanja di Jakarta. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemudahan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau biasa disebut paylater bisa jadi menggerus bisnis kartu kredit yang skemanya terlihat serupa.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah kontrak pengguna BNPL tumbuh 33,25% year on year (YoY) pada Mei 2023. Adapun jumlah kontraknya di Mei 2022 mencapai 54,7 juta kontrak menjadi 72,88 kontrak di Mei 2023. 

Sementara itu, data Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan volume transaksi kartu kredit pada Mei 2023 sekitar 13,5% YoY atau sebanyak 32,19 juta transaksi. Pertumbuhannya melambat, jika dibandingkan pada Mei 2022 yang tumbuh 20,9% YoY.

Terkait hal itu, Kredivo tak memungkiri paylater telah tumbuh secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. SVP, Marketing & Communications Kredivo Indina Andamari mengatakan pertumbuhan itu didukung dengan tren belanja online masyarakat di e-commerce yang terus meningkat dan masih tingginya kebutuhan masyarakat terhadap opsi pembayaran digital.

Baca Juga: EBITDA Goto Financial Membaik 39% Sepanjang Semester I-2023

"Berdasarkan hasil Laporan Perilaku Konsumen e-Commerce Indonesia 2023, terjadi pertumbuhan signifikan pada penggunaan paylater untuk bertransaksi di e-commerce, yakni dari 28,2% pada 2022 menjadi 45,9% pada 2023," ujarnya kepada KONTAN.CO.ID, Selasa (15/8).

Meskipun paylater tumbuh signifikan, Indina menyebut peningkatan pertumbuhan juga terjadi pada penyedia layanan kartu kredit yang meningkat dari 4,3% pada 2022 menjadi 6,6% pada 2023. Menurutnya, peningkatan kedua layanan kredit tersebut dapat diartikan sebagai tanda bahwa inklusi keuangan di Indonesia terus meningkat dengan makin banyaknya masyarakat yang mendapatkan akses kredit.

Indina pun menyampaikan transaksi Kredivo tercatat meningkat hampir 2 kali lipat pada 2022, jika dibandingkan tahun sebelumnya.

"Hal itu seiring dengan peningkatan jumlah pengguna aktif yang tumbuh rata-rata sebesar double digit secara year on year," ujarnya.

Indina juga menyatakan hingga saat ini, Kredivo sudah memiliki lebih dari 7 juta pengguna yang tersebar di seluruh Indonesia. Dia menerangkan pada Laporan Perilaku Konsumen e-Commerce Indonesia 2023, salah satu kontribusi konsumen memilih metode pembayaran paylater, antara lain karena fleksibilitas pembayaran dan promo menarik yang ditawarkan.

Selain itu, Indina mengatakan Kredivo juga berfokus pada upaya untuk menjaga tingkat kredit macet Non Performing Loan (NPL) dengan mengandalkan teknologi canggih dalam mengidentifikasi calon debitur. 

Melalui sistem manajemen risiko yang diperkuat oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dia menyebut Kredivo mampu secara tepat menilai kelayakan kredit, memproyeksi potensi kredit macet, dan melaksanakan proses verifikasi data. 

Selain itu, Kredivo juga menerapkan prinsip responsible lending dengan memberikan kredit secara selektif dan mengatur batas kredit sesuai kemampuan finansial peminjam.

"Pendekatan itu telah membantu Kredivo mencapai tingkat risiko yang setara dengan bank. Dengan sistem tersebut, angka kredit macet Kredivo berhasil dipertahankan untuk selalu di bawah 5%," ungkapnya.

Indina mengatakan pihaknya optimistis ke depannya adopsi paylater akan terus meningkat. 

Didukung data Laporan Perilaku Konsumen e-Commerce Indonesia 2023, yang menunjukkan bahwa 71,4% konsumen yang belum menggunakan paylater berencana untuk memakainya. 

Baca Juga: Begini Upaya Fintech P2P Lending untuk Tekan Angka Kredit Macet

Sementara itu, dalam menggunakan paylater, hampir 39,9% konsumen menggunakan paylater lebih dari 1 kali dalam sebulan pada 2023. Angka itu meningkat cukup tinggi, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu hanya 27%. 

Selain digunakan untuk kebutuhan mendesak, potensi pertumbuhan paylater didorong juga oleh perilaku masyarakat yang menggunakannya menjadi metode pembayaran harian.

"Temuan itu juga menandakan bahwa paylater masih memiliki pangsa pasar yang besar," katanya.

Untuk mendukung pertumbuhan industri paylater, Indina mengatakan pihaknya berkomitmen untuk terus berinovasi dengan memperluas integrasi merchant baik online maupun offline. Dengan demikian, bisa terus menstimulasi daya beli masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×