Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja perbankan syariah tumbuh positif jelang penghujung kuartal III-2026.
Hingga Agustus 2026, pembiayaan perbankan syariah nasional mencapai Rp 748,7 triliun atau tumbuh 11,61% secara tahunan (year-on-year/yoy), sedikit melambat dari pertumbuhan 11,82% yoy pada bulan sebelumnya.
Pun, hasil ini menunjukkan laju pembiayaan syariah masih tertinggal dari kinerja kredit industri perbankan yang dalam periode yang sama tumbuh 13,65% yoy atau melaju pertumbuhan 13,58% yoy.
Namun begitu, dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah berhasil tumbuh 12,12% yoy menjadi Rp 849,98 triliun, melaju dari pertumbuhan 11,92% yoy pada bulan sebelumnya.
Dus, rasio pembiayaan terhadap pendanaan (financing to deposit ratio/FDR) secara nasional turun 87,62% dari posisi 88,35%.
Baca Juga: Wacana Bunga KPR 6% Bagi Pekerja Bergaji Rp 17 Juta Perlu Penyesuaian Agar Efektif
Sejalan dengan itu, kualitas pembiayaan syariah juga terjaga rendah dengan rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross sebesar 2,3%, naik tipis dari posisi 2,27%, serta NPF net sebesar 0,79%, naik dari 0,76%.
Secara likuiditas, alat likuid AL/NCD Bank Umum Syariah (BUS) tercatat solid di angka 124,17%, meski turun dari posisi 121,82% pada bulan sebelumnya. Sementara AL/DPK BUS ada di posisi 26,83%, naik tipis dari 26,15%.
Di luar rasio keuangan yang masih terjaga, secara market share perbankan syariah belum bergairah. Total aset perbankan syariah dalam periode ini mencapai Rp 1.089 triliun, meningkat dari Rp 1.070,27 triliun pada Juli 2026 dan Rp 975,94 triliun pada Agustus 2025.
Namun begitu, market share perbankan syariah masih tertahan di 7,44%. Meski naik tipis dari posisi 7,35% pada bulan sebelumnya, posisi ini stagnan dari tahun sebelumnya yang juga di 7,44%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














