kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Penyedia jasa sistem pembayaran mulai implementasikan QRIS


Senin, 24 Juni 2019 / 18:59 WIB

Penyedia jasa sistem pembayaran mulai implementasikan QRIS

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Diresmikan sejak akhir Mei lalu, QR Code Standard Indonesia (QRIS) mulai diimplementasikan oleh penyedia jasa sistem pembayaran (PJSP). Tak cuma bank, beberapa pelaku teknologi finansial (Tekfin) juga ikut melaksanakannya.

Direktur Konsumer PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan mengatakan, pihaknya bahkan telah sepenuhnya siap mengimplementasikan QRIS. Baik untuk transaksi di dalam negeri dan juga telah melakukan ujicoba untuk transaksi di luar negeri.


“Kami cukup cepat untuk pengembangan QR Payment. Dan oleh Bank Indonesia kami jadi salah satu bank yang dipilih untuk piloting QRIS di Indonesia, dan test piloting untuk transaksi internasional secara cross border,” kata Lani kepada Kontan.co.id, Senin (24/6).

Lani menjelaskan kini mesin electronic data capture (EDC) CIMB Niaga telah memenuhi standar QRIS. Sehingga dapat dipindai oleh platform pembayaran yang berbeda termasuk oleh perusahaan Tekfin.

Interoperabilitas yang dihadirkan QRIS disebut Lani juga turut membantu mewujudkan transaksi cardless dan cashless Dan efisiensi di antara PJSP. Lantaran satu QR Code dapat digunakan untuk beragam platform pembayaran.

Di sisi lain perbankan juga ikut diuntungkan, lantaran bisa mendapatkan komisi dari transaksi yang dilakukan melalui platform lain.

“Saat ini semua mesin kami juga sudah bisa digunakan untuk fintech seperti Ovo. Sistemnya seperti EDC pada umumnya saja, ada mekanisme merchant discount rate (MDR),” tambah Lani.

Danu Wicaksana, CEO PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) mmembenarkan hal ini. Pengelola platform pembayaran LinkAja ini mengaku telah dapat bertransaksi di EDC milik CIMB Niaga.

“Kami sudah mulai ujicoba kemarin dengan merchant CIMB Niaga sementara untuk uang elektronik lainnya akan bertahap, karena mereka perlu mengganti QR Code nya di merchant sesuai standar QRIS,” kata Danu kepada Kontan.co.id.

Dua PJSP terbesar di Indonesia yaitu PT Visionet Internasional pengelola platform OVO, dan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa pengelola Go-Pay juga mengaku telah melakukan uji coba, meski masih secara terbatas.

Head of Public Relationship OVO Sinta Setyaningsih bilang pihaknya memang telah mengimplementasikan QRIS. Sehingga pengguna OVO dapat bertransaksi di merchant milik PJSP lain, ataupun sebaliknya pengguna platform lain dapat bertransaksi di merchant OVO.

“Saat ini OVO terlibat aktif dalam program pilot QRIS. Aplikasi OVO dapat digunakan di (merchant berstandar) QRIS, dan kami pun sudah dapat menghasilkan QR Code berstandar QRIS,” katanya.

Dalam aplikasi OVO diberitahukan pengguna OVO misalnya bisa bertransaksi lintas platform di Pasar Mayestik, dan Pasar Tebet Timur.

Pun dengan Go-Pay, Head of Public Policy Go-Pay Briggita Ratih bilang saat ini pihaknya juga sedang melakukan ujicoba QRIS di beberapa titik.

“Saat ini kami mempersiapkan sekitar 30 rekan usaha mikro di area Pasar Mayestik, dan Pujasera Bintaro untuk percobaan QRIS. Hasil dari ujicoba ini terus kami komunikasikan dengan Bank Indonesia untuk memastikan QRIS berjalan baik dan membantu seluruh pihak,” katanya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng bilang saat ini ujicoba QRIS tahap kedua memang tengah dilaksanakan oleh 21 lembaga, yang terdiri dari 4 perusahaan switching, 1 penyedia layanan Gerbang Pembayaran Nusantara (GPN), 10 perbankan, dan 6 Tekfin .

Sayangnya Sugeng enggan merinci siapa saja pelaku ujicoba tersebut. Ia hanya mengonfirmasi OVO menjadi salah satunya.

“Dalam ujicoba tahap kedua ini salah satu yang diujicoba adalah interkoneksi dan interoperabilitas antar penyelenggara. Dengan hasil yang sukses maka QRIS diharapkan mampu menjadi solusi atas fragmentasi QR Code yang sebelumnya ada,” katanya kepada KONTAN.

Jika ujicoba rampung, Sugeng bilang QRIS akan mulai diimplementasikan penuh. Pun akan digunakan oleh seluruh PJSP yang menyediakan layanan QR Code.

Sementara sepanjang Januari-April 2019, Bank Indonesia juga mencatat transaksi uang elektronik mencapai 1,44 miliar kali transaksi senilai Rp 31,41 triliun. Jumlah transaksi tersebut meningkat signifikan 76,97% (yoy) dibandingkan transaksi pada periode yang sama pada 2018 sebanyak 816,02 juta kali. Sedangkan nilai transaksinya tumbuh hampir mencapai 129,91% (yoy) dar Rp 13,66 triliun.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan lalu menyatakan PJSP non perbankan menjadi penopang terbesar pertumbuhan transaksi uang elektronik.


Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

Tag
TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0022 || diagnostic_web = 0.1522

Close [X]
×