Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank-bank besar berhasil menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) pada tahun 2025 lalu. Capaian itu salah satunya didorong oleh pemulihan kredit bermasalah.
Berdasarkan laporan keuangannya, seluruh bank dalam kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) IV terpantau mampu menjaga rasio NPL. Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Mandiri mencatatkan kenaikan NPL terbatas masing-masing menjadi 3,07% dari 2,78% dan menjadi 1,13% dari 1,12%.
Sementara Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Central Asia (BCA) berhasil menurunkan NPL masing-masing dari posisi 2% menjadi 1,9% dan dari 1,8% menjadi 1,7%.
Kendati begitu, nilai kredit bermasalah keempatnya sebenarnya kompak naik. Rinciannya, BRI naik 23,61% yoy menjadi Rp 46,6 triliun, Bank Mandiri naik 12,90% yoy menjadi Rp 21 triliun, BNI naik 15,15% yoy menjadi Rp 17,07 triliun, dan BCA naik 3,12% yoy menjadi Rp 16,5 triliun.
Baca Juga: BRI Finance Bidik Penerbitan Obligasi Rp 500 Miliar pada Kuartal III-2026
Rupanya, NPL bisa dijaga lantaran bank melakukan pemulihan terhadap kredit macet yang ada. Hanya BRI yang nilai pemulihannya turun 17,32% yoy menjadi Rp 21 triliun. Sementara Bank Mandiri naik 7,37% yoy menjadi Rp 7,28 triliun, BNI naik 10,16% yoy menjadi Rp 6,18 triliun, dan BCA naik 19,81% yoy menjadi Rp 1,06 triliun.
Tak heran, pembentukan pencadangan (impairment) perbankan memang terpantau naik. Selain Bank Mandiri yang turun 4,95% yoy menjadi Rp 11,33 triliun, impairment BRI naik 10,72% yoy menjadi Rp 47,5 triliun, BNI naik 18,39% yoy menjadi Rp 9,72 triliun, dan BCA naik 65,38% yoy menjadi Rp 4,3 triliun.
Pada gilirannya, kenaikan impairment ini menjadi katalis pemberat bagi profitabilitas mayoritas bank. Lihat saja, laba bersih BRI dan BNI yang terkoreksi masing-masing sebesar 5,5% yoy dan 6,6% yoy, sementara Bank Mandiri tumbuh terbatas 0,92% yoy. Pun, pertumbuhan laba BCA melambat jadi 4,9% yoy.
Impairment Jadi Jurus Antisipasi Perbankan
Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menjelaskan, pada dasarnya peningkatan impairment merupakan langkah antisipatif yang diambil bank di tengah iklim ekonomi yang kurang kondusif.
Tahun lalu, BTN mencermati ketidakpastian kondisi makro dan tekanan daya beli di sejumlah segmen kredit. Apalagi, kondisi itu diperberat dengan momentum normalisasi pasca restrukturisasi kredit pandemi.
Secara fundamental, Setiyo memastikan kualitas aset BTN terus menunjukkan perbaikan. “Laba operasional sebelum pencadangan bank kan naik lebih dari 100%, artinya kemampuan menghasilkan laba inti meningkat signifikan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (26/2/2026).
Namun begitu, sebagai bagian dari praktik prudent banking dan penguatan manajemen risiko, sebagian besar kenaikan laba tersebut dialokasikan untuk memperkuat buffer pencadangan.
Baca Juga: Bank Himbara Pastikan Kecukupan Modal di Tengah Berbagai Penugasan Pemerintah
Tahun ini, meski upaya memperkuat kualitas kredit tetap dilakukan, Setiyo bilang kebutuhan tambahan buffer tak bakal sebesar tahun lalu. Proyeksinya, alokasi impairment tahun ini hanya bakal sekitar Rp 4 triliun dan rasio pencadangan mendekati 130%.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn juga bilang nilai pencadangan bank pada dasarnya bakal sejalan dengan perkembangan kualitas aset dan kondisi perekonomian.
Naiknya pencadangan BCA menjadi bagian dari upaya bank menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko secara disiplin. “Kami senantiasa mendorong penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor secara prudent,” katanya.
Di samping itu, Ekonom Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto menilai pada dasarnya peningkatan impairment perbankan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71, yang mana bank wajib membentuk cadangan secara forward-looking.
Artinya, ketika risiko ekonomi meningkat, bank bakal menaikkan pencadangan sebelum lonjakan NPL benar-benar terjadi. “Dengan kata lain, kenaikan impairment lebih mencerminkan sikap kehati-hatian dan antisipasi risiko,” kata Doddy.
Ke depan, Doddy bilang arah impairment sangat ditentukan oleh dinamika makro. Jika prospek ekonomi membaik maka kebutuhan pencadangan diturunkan. Sebaliknya, jika dipandang masih kurang baik, bank cenderung mempertahankan level cadangan yang tinggi.
Kepala Ekonom BCA David Sumual menyebut pada dasarnya tahun lalu makroekonomi domestik memang dibayangi ketidakpastian global yang tinggi, yang kemudian menurunkan harga sejumlah komoditas ekspor unggulan.
“Makanya arus kas dan operasi beberapa perusahaan terhambat,” jelas David.
Dus, kredit bermasalah di kredit korporasi mungkin saja bertambah. Selain itu, NPL juga tinggi di kredit konsumsi, utamanya KPR seiring pasar tenaga kerja yang stagnan.
Namun, David menilai ekonomi tahun ini berpotensi pulih secara keseluruhan. Menurutnya ada potensi rebound dalam harga komoditas seiring menurunnya tarif dagang karena masalah hukum, seiring terjaganya daya beli masyarakat dengan belanja pemerintah yang lebih berorientasi pada konsumsi.
Selanjutnya: Arab Saudi Batasi Impor Unggas, Kementan: Dampak ke Industri Nasional Terbatas
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Jumat 27 Februari 2026, Bangun Reputasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)