kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45736,73   34,31   4.88%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Perbankan pantau dampak virus corona terhadap kredit korporasi


Kamis, 26 Maret 2020 / 07:00 WIB
Perbankan pantau dampak virus corona terhadap kredit korporasi

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dampak penyebaran virus corona (Covid-19) kian menekan aktivitas ekonomi dalam negeri. Perlambatan itu akan berimbas pada kredit perbankan baik ke penyaluran maupun kualitas asetnya, termasuk ke segmen korporasi.

Kendati begitu, perbankan belum mau buka-bukaan sudah seberapa besar permintaan restrukturisasi yang datang dari debitur korporasi sebagai dampak dari virus corona.

Bank Mandiri misalnya masih menginventarisir nasabah dari sektor-sektor yang terdampak virus corona untuk dilakukan penyesuaian relaksasi apa yang dibutuhkan debitur. " Itu termasuk restrukturisasi untuk debitur korporasi," kata Rully Setiawan, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri kepada Kontan.co.id, Rabu (25/3).

Baca Juga: Ada ancaman virus corona, sejumlah bank akan revisi target kredit tahun ini

Seperti diketahui, kredit Bank Mandiri masih ditopang oleh segmen wholesale banking yakni korporasi dan komersial. Menurut Rully penyaluran kredit korporasi bank pelat merah ini masih tumbuh dua digit secara year on year (yoy) per Februari 2020. Sepanjang kuartal I-2020  juga diprediksi masih akan meningkat double digit.

Sementara rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) kredit korporasi Bank Mandiri (bank only), kata Rully, masih di bawah 0,1%. 

Ia bilang, pihaknya sudah melakukan sensitivity analysis untuk melakukan assesment terhadap debitur-debitur yang terdampak Covid-19 dan telah merumuskan strategi termasuk melakukan restrukturisasi dengan memanfaatkan POJK No. 11/2020 sehingga NPL masih akan terjaga.

Sedangkan BCA baru akan menyampaikan informasi terkait dengan kualitas kredit, NPL dan restrukturisasi setelah kondisi COVID-19 ini mereda. Sebab menurut Santoso Liem, Direktur BCA, data-data terkait itu dapat berubah setiap waktu selagi wabah tersebut masih terus berkembang.

Ia menambahkan, hubungan BCA dengan nasabah yang telah terjalin baik selama ini sehingga diharapkan menjadi modal utama dalam melewati masa-masa sulit seperti sekarang. 

"BCA sebagai bagian dari sistem keuangan di Indonesia, akan menjalankan fungsinya secara optimal untuk berkontribusi dalam menopang roda perekonomian nasional," kata Santoso.

Dari sisi keuangan, BCA terus menjaga posisi likuiditas (baik rupiah maupun valas) dan permodalan yang solid. Bank ini memastikan layanan perbankan BCA tetap berjalan secara normal khususnya pelayanan perbankan digital seperti melalui mobile banking, internet, dan ATM, di tengah segala keterbatasan dan penyesuaian yang terjadi.

Baca Juga: Virus corona dikhawatirkan akan tekan kredit konsumer

Adapun komposisi restrukturisasi kredit BRI terhadap total kredit per Februari masih sekitar 6%, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Namun, mayoritas kredit bank ini masih ditopang oleh segmen UMKM, bukan segmen korporasi.

Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI mengatakan, belum ada kenaikan signifikan restrukturisasi khususnya akibat virus corona. Sektor pariwisata dan transportasi merupakan sektor yang terdampak virus corona sudah masuk dalam watchlist BRI untuk dimonitoring lebih intensif dan akan dilakukan restrukturisasi jika diperlukan.




TERBARU

Close [X]
×