kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.944   -68,00   -0,38%
  • IDX 6.044   157,52   2,68%
  • KOMPAS100 803   27,79   3,58%
  • LQ45 606   18,82   3,21%
  • ISSI 207   6,38   3,17%
  • IDX30 344   10,01   2,99%
  • IDXHIDIV20 425   10,62   2,56%
  • IDX80 91   3,06   3,49%
  • IDXV30 114   3,78   3,43%
  • IDXQ30 111   2,85   2,64%

Perlindungan data nasabah menjadi poin penting dalam perkembangan digital perbankan


Jumat, 27 Agustus 2021 / 14:08 WIB
ILUSTRASI. Logo Otoritas Jasa Keuangan (OJK). KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Amanda Christabel | Editor: Handoyo

Heru menjelaskan, salah satu kunci keberhasilan dari konsep bank digital adalah kemampuan bank untuk terkoneksi dengan ekosistem bisnisnya seperti dalam bentuk kolaborasi, baik melalui konglomerasi dengan anak perusahaan atau perusahaan lain milik pemegang sahamnya.

“Tanpa kolaborasi dan konektivitas, bank-bank yang stand-alone ini pasti tidak akan bisa sustain ke depannya. Karena salah satu kunci atau syarat bank bisa sukses adalah terkoneksi dan berkolaborasi dengan pihak ketiga,” ujarnya menambahkan.

OJK juga akan mendorong bank dengan ekosistemnya, tetapi OJK juga akan memberikan rambu-rambu terkait hal ini. “Bisa dalam bentuk persiapan bank itu bertransformasi menjadi bank digital. Mulai dari data, cyber security, dan institusinya juga kita akan atur,” katanya.

Menurut Heru, yang menjadi penting adalah supaya bank yang sudah terkoneksi, atau yang akan menjadi superapp, yaitu rambu-rambu mengenai prudential banking-nya. Walaupun bank terkoneksi dengan konglomerasi, aspek prudential dari bank tidak boleh lepas.

“Ini menjadi suatu keniscayaan yang tidak bisa dicegah, karena tanpa ada koneksi dan kolaborasi maka tidak akan sustain. Yang terpenting adalah OJK menjaga bank tetap prudent, tapi tidak bisa membatasi bank dalam melakukan inovasi yang tujuannya agar bisa melayani masyarakat dengan efisien dan berkontribusi bagi ekonomi nasional,” paparnya.

Heru menjelaskan, OJK akan terus mendorong bank bertransformasi menjadi digital dan mendorong digitalisasi, karena tanpa itu bank tidak akan bisa melayani nasabah dengan lebih efisien dan lebih baik.

“Terutama di situasi pandemi saat ini, harapan nasabah dengan layanan perbankan juga jauh berubah. Pilihan bisnis untuk itu menjadi hal yang penting untuk diperhatikan oleh para bankir, dengan tentunya memerhatikan terkait mendidik sumber daya manusia (SDM) agar bertransformasi bisnis menjadi digital,” pungkasnya.

Heru menganggap penguatan modal menjadi suatu kunci untuk bank bisa melakukan hal ini, karena OJK memandang bahwa peranan modal sangat penting, agar bank bisa melakukan usahanya secara digital dengan sangat baik.

Selanjutnya: Digitalisasi percepat inklusi keuangan dan memangkas biaya operasional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×