kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.895   21,38   0,36%
  • KOMPAS100 766   2,72   0,36%
  • LQ45 584   1,42   0,24%
  • ISSI 203   0,45   0,22%
  • IDX30 331   0,21   0,06%
  • IDXHIDIV20 409   -1,51   -0,37%
  • IDX80 87   0,44   0,50%
  • IDXV30 111   -0,14   -0,13%
  • IDXQ30 106   -0,44   -0,41%

Porsi kredit ekspor masih mungil


Rabu, 26 Juni 2013 / 17:57 WIB
ILUSTRASI. Pengunjung menggunakan masker saat memilih barang yang akan dibeli di sebuah toko ritel penjual perkakas, di Jakarta Timur, Selasa (9/6/2020). Tribunnews/Herudin


Reporter: Annisa Aninditya Wibawa | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Ekspor merupakan hal yang penting dalam perekonomian. Hanya saja, porsi kredit ekspor di Indonesia ternyata terbilang masih mungil.

Bank Indonesia (BI) mendata, kredit ekspor cuma berporsi 1,8% terhadap total kredit perbankan. Sedangkan, kredit impor memiliki porsi 1,4% terhadap kredit perbankan secara keseluruhan.

"Masih kecil, memang perbankan harus dukung pengembangan pembiayaan ekspor," ucap Deputi Direktur Stabilitas Sistem Keuangan, Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI, Dwityapoetra S, Rabu, (26/6).

Selain porsinya yang rendah, pertumbuhan kredit ekspor nasional pun ternyata mengalami perlambatan. Pada tahun 2011, kredit ekspor mampu bertumbuh 35,1%. Namun pada 2012, kenaikannya menjadi 12,1% saja.

Dwitya bilang, perlambatan ini terjadi karena melemahnya kondisi global. Namun di balik itu, terdapat juga beberapa sektor yang masih bertumbuh. Ia memberi contoh, penyaluran kredit pada sektor batubara terbilang cukup bagus.

Pihak bank sentral pun mengingatkan, perbankan tak boleh lupa memperhatikan risiko yang mungkin terjadi. Meski saat ini, ia menyebut rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih rendah. "Saya harap perbankan berusaha untuk menjaga NPL tersebut," ucapnya tanpa bilang berapa rasio yang ia maksud.

Namun BI pun menyadari bahwa neraca perdagangan Indonesia masih negatif. Pasalnya, impor masih lebih tinggi dibanding ekspor. "Maka dari itu kita ingin dapat berusaha meningkatkan ekspor," sebutnya.

Ia menilai bahwa Indonesia masih memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan ekspor. Misalnya saja ke Afrika dan Amerika Latin yang bisa menjadi daerah alternatif tujuan ekspor, selain kawasan Asia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×