kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Punya prospek bagus, hambatan ini bikin fintech crowdfunding sulit berkembang


Rabu, 24 Juli 2019 / 17:10 WIB


Reporter: Agustinus Respati | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri Financial technology (Fintech) crowdfunding mulai menunjukkan prospek yang baik. Beberapa fintech yang tercatat bermain di sektor fintech urun dana ini antara lain Pramdana (PT Griyadanaku Digital Investama), Bizhare, Alumnia, Likuid, dan Santara.

Co-Founder Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Ajisatria Suleiman mengatakan, prospek dari jenis fintech ini cukup besar. Namun, hingga kini pengembangan fintech crowdfunding masih terhambat proses administrasinya masih tergolong sulit. Penyebabnya karena adanya aspek perpindahan kepemilikan saham.

Menurutnya digitalisasi dalam proses administrasi jenis fintech ini menjadi penting. 

Aji menjelaskan secara hukum proses legalitasnya membutuhkan akta notaris, sehingga masih tertulis dan perlu untuk tatap muka.

“Kalau semua sudah elektronik, maka tekfin crowdfunding akan lebih cepat berkembang,” ujar Aji Rabu, (24/7)

Dalam mitigasi risikonya, fintech crowdfunding perlu perhatian khusus. 

Sebagai fintech pemberi dana, risikonya lebih tinggi dari peer to peer (P2P) lending karena equity based. Hal ini menyebabkan model fintech ini sangat bergantung pada valuasi perusahaan.

“Namun demikian, model ini cocok untuk membiayai proyek atau perusahaan yang sifatnya jangka panjang,” terang Aji.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×