kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Regulasi ketat, Mastercard rekonfigurasi bisnis di Indonesia


Rabu, 13 November 2019 / 13:54 WIB
Regulasi ketat, Mastercard rekonfigurasi bisnis di Indonesia
Co President Asia Pacific MasterCard, Ari Sarker.

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Co-President Asia Pacific MasterCard Ari Sarker menyatakan pihaknya mesti merekonfigurasikan bisnisnya di Indonesia akibat regulasi yang ketat. Salah satunya saat Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan soal Gerbang Pembayaran Nasional (GPN).

"Implementasi GPN membuat kami merekonfigurasikan bisnis di Indonesia, Dan membuat kami bersemangat untuk menjadi bagian dari ekosistem pembayaran di Indonesia," katanya kepada Kontan.co.id, Selasa (12/11) di Asia Pacific MasterCard Office, Singapura.

Baca Juga: Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui ada lobi AS soal pelonggaran GPN

Asal tahu saja, dengan GPN seluruh transaksi domestik yang menggunakan kartu debit mesti dilakukan oleh para pelaku lokal. Makanya sebagai pelaku asing, Mastercard mulanya kesulitan. 

Meski demikian, para pelaku asing dapat bekerjasama dengan lembaga switching lokal biar dapat masuk dalam ekosistem GPN.

Agustus 2019 lalu, Mastercard telah menandatangani kerjasama dengan PT Artajasa Pembayaran Elektronis, pengelola ATM bersama.

"Kami sudah menjalin kerjasama dengan Artajasa, dalam kerjasama tersebut kami juga turut mendukung dengan fitur keamanan yang kami miliki," lanjut Ari.

Guna mendukung hal tersebut, Mastercard juga akan membangun pusat data (data center), dan pusat perintah (command center) di Indonesia agar dapat memantau proses transaksi di Indonesia.

Selain tuntutan regulasi, Ari bilang di wilayah Asia Pasifik, Indonesia merupakan salah satu pasar pembayaran yang punya potensi besar, selain India. Kebijakan GPN dinilainya merupakan inisiatif yang baik dari pemerintah Indonesia untuk mendorong transaksi digital.

"Di Indonesia transaksi tunai masih mencapai 95%, ini yang mesti diperhatikan betul oleh pemerintah. Karena, Indonesia ini potensinya besar punya ukuran ekonomi triliunan dollar," sambungnya.

Baca Juga: Pasca GPN, Mastercard masih berkomitmen jalankan bisnis di Indonesia

Sementara dihubungi terpisah, Direktur Utama Artajasa Bayu Hanantasena bilang saat ini Bank Indonesia telah memberikan izin kerjasama kedua belah pihak. Saat ini, Mastercard dan Artajasa tengah menyiapkan proses implementasi.

"Kami sudah dapat izin dari Bank Indonesia. Kemudian untuk koneksi ke merchant dan kesiapan para issuer lainnya sedang proses. Kami inginnya secepatnya bisa rampung, namun ini juga bergantung dengan kesiapan pihak lain," katanya saat dihubungi Kontan.co.id Rabu (13/11).

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×