kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Relaksasi Kartu Kredit Segera Berakhir, Begaimana Kesiapan Perbankan?


Kamis, 25 Mei 2023 / 20:51 WIB
Relaksasi Kartu Kredit Segera Berakhir, Begaimana Kesiapan Perbankan?
ILUSTRASI. Perpanjangan relaksasi kartu kredit sebagai insentif Covid-19 yang diberikan Bank Indonesia akan berakhir pada 30 Juni 2023.?(KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perpanjangan relaksasi kartu kredit sebagai insentif Covid-19 yang diberikan Bank Indonesia akan berakhir pada 30 Juni 2023 mendatang. Hal ini sesuai dengan peraturan Bank Indonesia Nomor 22/7/PBI/2020 tentang Penyesuaian Pelaksanaan Beberapa Ketentuan BI sebagai Dampak pandemi Covid-19.

Saat pandemi Covid-19, BI memberikan insentif bagi bisnis kartu kredit. Kala itu, BI memberikan suku bunga maksimal kartu kredit 1,75% per bulan, batas minimum pembayaran tagihan 5% dari total tagihan, dan keringanan nilai denda keterlambatan pembayaran kartu kredit sebesar 1% atau maksimal Rp 100.000.

Jika insentif ini berakhir, maka BI akan kembali menerapkan aturan sebelumnya dimana biaya keterlambatan maksimal 3% dari total tagihan dan tidak melebihi Rp 150.000. Sementara nilai minimum pembayaran kartu kredit 10% dari besaran tagihan, dan maksimum bunga kartu kredit 2%.

Baca Juga: BI Catat Transaksi Uang Elektronik Tumbuh 9% pada April 2023

Menanggapi hal tersebut Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) mengatakan saat ini industri memang memiliki kekhawatiran apabila minimum pembayaran kembali ke angka 10% yang akan berdampak pada Non Performing Loan (NPL).

"Peraturan perpanjangan akan berakhir 30 Juni. Saat ini sedang dilakukan review apakah akan diperpanjang lagi atau tidak," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Martha kepada Kontan.co.id, Kamis (25/5).

Untuk memastikan apakah relaksasi kartu kredit ini akan diperpanjang atau tidak, hal ini masih belum diputuskan oleh Bank Indonesia, 
"Masih belum di putuskan. Akan dibicarakan di RDG," katanya.

Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi mengatakan CIMB Niaga sudah mencoba untuk mengantisipasi hal ini. 

"Dampaknya ke kualitas aset kita sebisa mungkin kita minimalisir, kalaupun terjadi pemburukan secara finansial kita sudah melakukan positioning dari sebelumnya," kata Noviady, Kamis (25/5).

Upaya yang dilakukan adalah termasuk mengindentifikasi dan mengedukasi para nasabah-nasabah yang biasa melakukan pembayaran minimum di bawah 10% terkait hal ini.

Noviady bilang, untuk saat ini Non Performing Loan (NPL) CIMB Niaga masih terjaga. Saat ini, NPL Bank CIMB Niaga secara total kredit consumer masih jauh di bawah 2,5%. Sementara itu komposisi kontribusi kartu kredit dan personal loan hampir sekitar 15%-20% dari total consumer portfolio.

"Kalau pertumbuhan di tahun ini kartu kredit dan personal loan hampir tumbuh 10%(YoY), tapi kalau kita lihat dari transaksi bisa naik hampir 30% (YoY) dari tahun lalu," tambahnya.

Sementara itu Bank Central Asia (BCA) mengaku kartu kredit masih menjadi salah satu alat pembayaran andalan nasabahnya. BCA mampu mencatat peningkatan nilai transaksi kartu kredit hingga 44% (YoY) menjadi Rp 25 triliun per Maret 2023.

Baca Juga: Gandeng Mastercard, Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) Perkuat Bisnis Pembayaran

Peningkatan ini ditopang oleh pulihnya aktivitas ekonomi masyarakat, salah satunya di sektor pariwisata seiring pelonggaran mobilitas. Sektor lain yang mendukung pertumbuhan transaksi kartu kredit adalah sektor hiburan dan F&B.

Terkait dengan berakhirnya masa relaksasi insentif kartu kredit ini BCA akan sejalan dengan kebijakan dan arahan dari pemerintah, regulator, dan otoritas perbankan. 

Namun BCA mengaku juga perlu mengkaji kesiapan bank dalam hal ini.

"Kami akan mengkaji keputusan tersebut, sekaligus berkoordinasi dengan otoritas terkait, dalam rangka menyiapkan strategi yang tepat untuk memberikan nilai tambah bagi segenap nasabah dan masyakakat," kata Hera F. Haryn Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA kepada Kontan, Kamis (25/5).

Handayani, Direktur Bisnis Konsumer BRI bilang, BRI mencatat volume transaksi kartu kredit meningkat 51% (YoY) hingga April 2023, sejalan dengan jumlah transaksi kartu kredit yang meningkat 47% (YoY). Pertumbuhan volume transaksi kartu kredit BRI mayoritas didorong oleh sektor retail, e-commerce, serta transaksi luar negeri sejalan dengan pemulihan ekonomi pasca pandemi berakhir. 

BRI mengatakan nilai transaksi kartu kredit BRI sampai dengan April 2023 tumbuh positif jika dibandingkan dengan masa pendemi dimana transaksi kartu kredit sangat terdampak.

"Pertumbuhannya di atas 15% (YoY). Saat ini transaksi kartu kredit mulai kembali pada kondisi sebelum pandemi," kata Handayani.

Sementara itu Bank Negara Indonesia (BNI) optimistis transaksi kartu kredit masih akan tumbuh meski relaksasi kartu kredit akan berakhir.

"Dengan optimisme pertumbuhan ekonomi nasional yang terlihat dari peningkatan transaksi perdagangan dan mobilitas, maka pada akhirnya relaksasi ini akan diakhiri, harapannya transaksi kartu kredit dapat terus bertumbuh positif dengan kualitas asset yang tetap terjaga," kata General Manager Divisi Bisnis Kartu BNI Grace Situmeang kepada Kontan, Kamis (25/5).

BNI mencatat pertumbuhan transaksi kartu kreditnya pada April 2023 ditopang dari pertumbuhan transaksi dari merchant-merchant yang tumbuh signifikan. 

Sektor Travel Related manjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan nilai transaksi yang tumbuh diatas 50%(YoY) termasuk nilai transaksi overseas yang tumbuh di atas 80%(YoY).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×