Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) dihadapkan tekanan penurunan outlook oleh Moody's dan tekanan jual asing yang menyebabkan kenaikan yield.
Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) menilai kenaikan yield SBN akibat tekanan eksternal memang memicu fluktuasi nilai aset jangka pendek, tetapi kondisi itu menjadi peluang strategis bagi industri dana pensiun untuk melakukan re-investasi.
"Momentum kenaikan yield saat ini akan dimanfaatkan untuk mengunci imbal hasil yang lebih tinggi guna mengoptimalkan akumulasi dana jangka panjang bagi peserta," ujar Ketua Umum Asosiasi DPLK Tondy Suradiredja kepada Kontan, Jumat (13/2/2026).
Baca Juga: Jamkrindo Catat Volume Penjaminan Rp 214,73 Triliun pada 2025
Khusus untuk industri DPLK, Tondy mengatakan porsi investasi SBN pada 2025 tercatat sebesar 29,02% terhadap total investasi, atau hanya terkoreksi sangat tipis sebesar 0,04% dari posisi tahun sebelumnya. Dia menyebut hal itu menunjukkan profil investasi DPLK yang sangat stabil dan terjaga di tengah dinamika pasar.
Mengingat tidak adanya batasan maksimal dalam kepemilikan SBN, Tondy memprediksi porsi investasi di SBN akan kembali meningkat pada tahun ini.
Untuk strategi investasi tahun ini, Tondy mendorong industri DPLK untuk meningkatkan efisiensi portofolio dengan mengurangi dominasi deposito yang rata-rata alokasinya mencapai 50,86% pada 2025, atau naik 0,39% secara Year on Year (YoY).
Tondy menganjurkan diversifikasi lebih luas ke SBN, obligasi korporasi, dan saham, guna mengoptimalkan imbal hasil. Mengingat porsi saham yang turun 0,33% atau menjadi 1,57% pada 2025, dia menilai hal itu menjadi momentum tepat untuk masuk kembali demi pertumbuhan jangka panjang.
Baca Juga: Penghentian Insentif Motor Listrik Pengaruhi Minat Konsumen, Tapi Efeknya Minim
"Melalui konsep life cycle fund, instrumen agresif dioptimalkan bagi peserta muda, sedangkan instrumen konservatif diperkuat bagi mereka yang mendekati masa pensiun," kata Tondy.
Jika menilik data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi dana pensiun di instrumen SBN mencapai Rp 150,85 triliun per akhir 2025. Nilainya tercatat meningkat 11,16%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 135,71 triliun.
Selanjutnya: Jamkrindo Catat Volume Penjaminan Rp 214,73 Triliun pada 2025
Menarik Dibaca: Promo Es Krim Alfamart Spesial Valentine, Beli 1 Gratis 1 dan Beli 2 Gratis 1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)