kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45823,04   -9,71   -1.17%
  • EMAS948.000 -0,52%
  • RD.SAHAM -0.61%
  • RD.CAMPURAN -0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Rendahnya permintaan jadi pemicu tingginya risiko kredit perbankan


Kamis, 12 Juli 2018 / 19:35 WIB
Rendahnya permintaan jadi pemicu tingginya risiko kredit perbankan
ILUSTRASI. Petugas Melayani Nasabah Bank BRI

Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kredit berisiko atau loan at risk perbankan sampai April 2018 ini masih cukup tinggi. Hal ini tercermin dari rasio kredit NPL ditambah kredit dalam perhatian khusus.

Loan at risk adalah rasio antara jumlah kredit bermasalah ditambah dalam perhatian khusus ditambah kredit yang direstrukturisasi.

Jika melihat data OJK sampai April 2018, jumlah kredit bermasalah ditambah kredit dalam perhatian khusus mencapai Rp 398,9 triliun.

Rasio kredit bermasalah ditambah kredit dalam perhatian khusus perbankan April 2018 tercatat sebesar 8,3% atau lebih tinggi dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL)pada periode yang sama yaitu 2,79%.

Sumber kontan.co.id di kalangan bankir mengatakan memang risiko kredit perbankan masih cukup tinggi meski tren NPL menurun.

Masih tingginya risiko kredit ini menurut sumber ini disebabkan permintaan kredit dalam tiga tahun terakhir masih rendah.

Apalagi pada 22 Agustus 2017 lalu, BI juga mencabut relaksasi restrukturisasi kredit. Sumber Kontan.co.id menyebut sebenarnya restrukturisasi kredit tidak menyelesaikan masalah namun memperpanjang masalah.

Beberapa sektor seperti pertambangan, konstruksi dan ruko tercatat menjadi penyumbang NPL cukup tinggi.

Suprajarto, Direktur Utama BRI mengatakan, saat ini posisi loan at risk BRI saat ini sebesar 9,8%.

"Lebih baik dibandingkan dengan Mei 2017 sebesar 10,5%," kata Suprajarto kepada kontan.co.id, Kamis (12/7). 

Sektor yang masih mempunyai risiko kredit tinggi adalah migas dan transportasi.

Sampai akhir tahun 2018, diproyeksi loan at risk diperkirakan sebesar 9%-10%. Untuk menurunkan loan at risk, BRI akan berekspansi ke segmen risiko yang lebih kecil seperti mikro dan konsumer.

Selain itu BRI akan melakukan review dan memperkuat jajaran bisnis yang menangani kredit NPL untuk segmen ritel menengah.

Mohammad Irfan, Direktur Manajemen Risiko BRI menambahkan untuk mengantisipasi loan at risk, bank akan lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit valas.

"Kami akan hati hati di sektor yang banyak menggunakan konten impor sedang penerimaan dalam rupiah," kata Irfan kepada kontan.co.id, Kamis (12/7).

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×