kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Restock.id dukung solusi pembiayaan di industri kreatif


Minggu, 13 Oktober 2019 / 20:17 WIB

Restock.id dukung solusi pembiayaan di industri kreatif
ILUSTRASI. Dana Untuk UKM: Perajin Batik Tradisiku di Bogor, Kamis (18/4). Pemerintah tahun 2019 akan memberikan bantuan kepada pengusaha industri kreatif melalui program bantuan insentif pemerintah (BIP) dengan total mencapai sebesar Rp 5 miliar. KONTAN/Baihaki/18/


KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Cerita Teknologi Indonesia, perusahaan penyedia platform peer to peer (P2P) lending dengan nama Restock.id mendukung solusi pembiayaan bagi pelaku UMKM di industri kreatif.

Guna mendekatkan diri dengan pelaku industri kreatif, Restock.id telah menggelar perhelatan bertajuk Reconnect pada 10 Oktober lalu. Para pelaku UMKM dijabarkan  beragam potensi dan solusi yang dapat mendukung pertumbuhan UMKM di era digital.

Baca Juga: Alipay dan WeChat Pay bakal simpan dana di BUKU 4

“Kami ingin mengumpulkan berbagai UMKM industri kreatif di Bandung dan Jawa Barat untuk menyampaikan berbagai macam potensi dan solusi yang dapat mendukung pertumbuhan usaha mereka di era digital ini,” jelas Muhammad Farid Andika selaku CEO Restock.id dalam keterangan resminya dikutip Minggu (13/10).

Perhelatan itu digelar berangkat dari permasalah yang ada. Banyaknya pelaku UMKM yang bergerak di industri e-commerce dengan potensi yang baik untuk mengembangkan produk dan industri dalam negeri tetapi kerap kesulitan dalam mendapatkan akses pendanaan melalui bank lantaran belum atau tidak memiliki asset tetap (fixed asset). Akibatnya, tidak sedikit UMKM yang pertumbuhan usahanya tersendat atau bahkan sampai harus gulung tikar karena keterbatasan dana.

Fintech yang sudah dapat resgistrasi dari OJK sejak Agustus 2019 ini melakukan sosialisasi bisnis perusahaan yang menjadi solusi dan alternatif pendanaan bagi industri kreatif.

Farid berharap melalui agenda reconnect tersebut , pihaknya dapat membantu para pengusaha di industri kreatif Bandung dengan memberikan informasi dan pengalaman mengembangkan usaha dari para ahli di bidang masing-masing. Reconnect ini juga dihadirkan para ahli dan praktisi pelaku usaha dari industri kreatif yang sudah cukup sukses di bidangnya masing-masing.

Johnson Halomoan Marpaung, Perwakilan Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan OJK mengatakan, pihaknya sebagai regulator akan membantu untuk melakukan pengawasan terhadap bagaimana jalan dan fungsi peer to peer lending.

Baca Juga: Santara targetkan mampu menjaring 300.000 pemodal sampai akhir tahun

Dia menjelaskan, peer to peer landing berbeda dengan bank, fintech tidak mengelola resiko sehingga lenderlah yang menanggung resiko jika terjadi gagal bayar.

Oleh karena itu, dia menghimbau agar perusahaan peer to peer lending  memberikan informasi yang transparan agar pihak borrower maupun lender dapat mengerti apa yang mereka berikan baik itu memberikan pendanaan atau meminjam dana.

"Kami akan terus melakukan pengawasan. Masayarakat juga harus memperhatikan fintech P2P lending sebelum masuk kesana. Apakah terdaftar di OJK atau tidak. Jika tidak maka risiko yang timbul akan semakin tinggi dan tidak dapat di minimalisir dalam pengawasan OJK,” jelas Johnson.

Wakil Ketua Eksekutif Fintech Pendanaan Produktif AFPI Victoria Tahir mengatakan AFPI adalah asosiasi khusus untuk para peer to peer lending, dimana OJK sebagai regulator membantu untuk mengawasi jalan dan fungsi peer to peer lending.

Baca Juga: Mulai bulan depan, fintech lending Pendanaan bakal jajal bisnis di India

Dia menilai bahwa aturan yang dibuat oleh OJK saat ini cukup mendukung industri dan tidak menghambat industri fintech Peer to Peer (P2P) Lending, dimana AFPI dibentuk untuk mengorganisasi dan AFPI memiliki model pengaturan sendiri untuk mengatur anggotanya.

 


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Editor: Azis Husaini

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×