Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat kinerja positif sepanjang kuartal I-2026. Namun, capaian tersebut belum mampu menahan tekanan pada harga sahamnya yang justru merosot ke level terendah dalam lima tahun terakhir.
Pada penutupan sesi pertama perdagangan Kamis (30/4/2026), saham BBRI berada di level Rp 3.010 per saham atau turun 1,95% dibandingkan hari sebelumnya.
Bahkan, saham bank pelat merah ini sempat menyentuh Rp 2.990 pada pukul 11.08 WIB dan terus bergerak di zona merah sejak awal perdagangan.
Baca Juga: Lagi Murah! Dirut BRI Sarankan Investor Borong Saham BBRI, Ini Alasannya
Dalam sepekan terakhir, saham BBRI telah melemah 4,75%, sementara secara bulanan terkoreksi hingga 11,98%. Penurunan ini terjadi di tengah laporan kinerja yang justru menunjukkan pertumbuhan positif.
Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, BBRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 15,5 triliun, tumbuh 13,7% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp 1.562 triliun atau naik 13,68% yoy, dengan dominasi segmen UMKM sebesar Rp 1.211 triliun.
Fundamental perusahaan juga terjaga kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 22,9%, sementara rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (LDR) berada di level 87%, sedikit meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 86,58%.
Baca Juga: Aksi Borong Invesco, Vanguard, dan Manulife Belum Mampu Mendongkrak Harga Saham BBRI
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan, pergerakan harga saham tidak selalu mencerminkan kualitas suatu emiten. Ia mengingatkan investor untuk lebih memperhatikan fundamental dan kinerja perusahaan, terutama di tengah dinamika global dan fluktuasi nilai tukar.
"Untuk investasi jangka panjang, pilih saham blue chip dengan fundamental kuat seperti BBRI," ujarnya.
Hery menambahkan, BBRI tetap menarik bagi investor jangka panjang karena konsistensi dalam membagikan dividen. Untuk tahun buku 2025, BBRI membagikan dividen tunai sebesar Rp 52,1 triliun atau setara 91,19% dari laba bersih.
Sejak 2021, rasio pembayaran dividen BBRI selalu berada di atas 80%. Dengan kebijakan tersebut, imbal hasil yang ditawarkan dinilai kompetitif dibandingkan instrumen lain.
Baca Juga: Fitch Pangkas Outlook Bank BUMN, OJK Pastikan Fundamental Tetap Solid
“BBRI bisa memberikan sekitar 10–11% return per tahun, lebih tinggi dibandingkan deposito yang hanya sekitar 7%,” tegasnya.
Meski harga saham tengah tertekan, kinerja yang tumbuh dan fundamental yang solid menjadi penopang utama daya tarik BBRI di tengah ketidakpastian pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













